Penunggu di Ujung Malam

Redaksi Nolesa

Minggu, 7 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Mauliya Riyani

CERPEN, NOLESA.COM – Rona malam itu begitu tenang dengan pendaran cahaya rembulan yang cukup terang menyinari semesta. Semburat awan putih menyapu langit dengan halus sementara bintang-bintang bertaburan di cakrawala membawa kesejukan yang damai.

Sungguh malam yang sempurna untuk beristirahat, namun tidak untukku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku masih duduk di kamar sembari menggulir layar ponselku. Tak seperti malam-malam biasanya, malam ini mataku sangat sulit dipejamkan.

Pikiranku berkecamuk mengingat mimpi yang terus menerorku, mimpi aneh yang selalu sama, datang berulang seperti kutukan.

Setiap kali aku mencoba mengingat alurnya, kepalaku mendadak berdenyut berat seolah tertimpa beban tak kasat mata. Kilasan gambar itu masih melekat kuat, pondok tua di alas jati itu.

Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Aku beranjak dan berjalan keluar berharap udara segar bisa menenangkan dada yang sesak. Kutatap hamparan bintang di langit yang begitu bersih beginilah langit desa, belum terjamah polusi kota.

Namun ketenangan itu hanya bertahan sekejap. Saat mataku melirik ke belakang rumah di mana deretan pohon jati dan bambu berdiri dalam kegelapan, sesuatu tiba-tiba berubah.

Awan hitam datang menutupi sinar rembulan hingga langit berubah gelap dan mengerikan. Angin kencang berhembus menyingkap dedaunan dengan kasar dan dinginnya menusuk tulang hingga sekujur tubuhku merinding.

Aku segera masuk, menutup pintu rapat-rapat dan meringkuk di balik selimut. Semoga hujan turun malam ini, batinku. Dan benar saja, tak lama kemudian rintik hujan mulai mengetuk atap dengan lembut dan iramanya membawaku hanyut ke alam tidur.

Baca Juga :  DENDAM

Silauan cahaya memaksaku membuka mata. Tapi ini bukan kamarku. Sejauh mata memandang hanya ada pepohonan menjulang tinggi yang berdiri rapat tanpa celah. Aroma tanah lembap dan daun lapuk langsung memenuhi hidungku.

Aku bangkit dan mulai berjalan ke sana kemari sambil berteriak memanggil siapa saja namun tak ada satu pun sahutan. Lama aku terus melangkah dengan puluhan pertanyaan berputar di kepala. Semakin jauh aku masuk ke dalam alas semakin senyap dan gelap suasana yang menyelimutiku.

Kakiku mulai gemetar. Aku nyaris menyerah hingga di antara batang-batang jati yang legam aku melihat sebuah pondok tua. Tanpa berpikir panjang aku berlari ke arah sana dan langsung mengetuk pintunya.

Pintu terbuka.

Seorang nenek berdiri di hadapanku dengan tubuh ringkih dan rambut putih seperti kapas kering. Ia menatapku dengan sorot mata yang tidak bisa kuartikan, bukan ramah dan bukan pula mengancam. Hanya tatapan yang terasa seperti ia sudah tahu segalanya.

“Masuklah,” suaranya seperti gesekan dahan kering di malam berangin.

Aku melangkah masuk dan seketika terhenyak.

Dari luar pondok ini tampak mungil namun di dalamnya lorong demi lorong membentang ke segala arah dan bercabang seperti labirin tanpa ujung. Dinding-dindingnya basah beraroma besi tua bercampur sesuatu yang jauh lebih busuk dari sekadar kayu lapuk. Aku berbalik hendak bertanya kepada si nenek namun ia sudah lenyap seolah tidak pernah ada.

Lalu bau itu datang. Bau kain basah dan tanah kuburan yang langsung menusuk hidung.

Baca Juga :  Goreng Ikan Asin

Dari ujung lorong dua sosok putih meluncur ke arahku. Pocong. Yang pertama bertubuh besar dengan lekuk kain yang menunjukkan wujud seorang perempuan dan yang kedua jauh lebih kecil seperti tubuh seorang anak laki-laki. Keduanya bergerak tanpa kaki dan tanpa suara kecuali lompatan berat yang menghantam lantai tanah.

bum… bum… bum…

Aku berlari sekencang yang aku bisa. Lorong demi lorong kuterabas tanpa tahu arah dan tanpa tahu ujungnya. Entah bagaimana kakiku terus membawaku maju hingga aku berhasil keluar dari pondok dan menerobos kegelapan alas sampai akhirnya aku mengenali pagar belakang rumahku sendiri.

Aku melompat masuk dan tersungkur di halaman sebelum menoleh ke belakang dengan napas tersengal-sengal.

Dua sosok itu berhenti tepat di batas pagar. Mereka tidak masuk, hanya melayang di sana sambil menatapku dari balik kegelapan pohon jati dan bambu. Lalu perlahan seperti kabut yang tertiup angin mereka menghilang tanpa jejak. Aku terbangun dengan dada berdegup keras dan punggung basah oleh keringat dingin.

Mimpi itu bukan kali pertama datang. Sudah berulang kali ia hadir setidaknya sebulan sekali selama bertahun-tahun dengan jalan cerita yang sama persis dengan alas jati yang mencekam, pondok berlabirin, dua pocong yang mengejarku dan berhenti di belakang rumahku seolah ada tembok tak kasat mata yang menghalangi mereka.

Hingga suatu sore aku memberanikan diri bercerita kepada Buyut, perempuan paling sepuh dalam keluarga kami yang kini tinggal di sudut kamar dengan punggung melengkung dimakan usia. Belum selesai aku bercerita Buyut sudah mengangguk tenang seolah ceritaku bukan sesuatu yang asing.

Baca Juga :  Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu

“Buyut sudah tahu,” katanya datar hingga membuatku terdiam.

Buyut menatap ke arah belakang rumah lalu berkata dengan suara yang terdengar sangat jauh seolah datang dari masa lalu.

“Dulu sebelum rumah ini berdiri tanah di belakang itu masih berupa alas, tempat itu dipakai untuk membuang orang-orang yang tidak diinginkan. Mereka mati di sana tanpa dikubur layak dan tanpa satu pun doa yang mengiringi kepergian mereka.”

Bulu kudukku berdiri perlahan.

“Ibu dan anak itu sudah lama tinggal di sana,” lanjut Buyut dengan suara semakin pelan. “Mereka tidak jahat. Mereka hanya ingin pulang ke tempat yang hangat.”

“Tapi kenapa mereka tidak bisa masuk ke sini, Yut?” tanyaku.

Buyut tersenyum tipis, senyum yang menyimpan rahasia berpuluh tahun.

“Karena leluhur kita yang menjaga rumah ini. Selama kita menghormati mereka yang ada di sana mereka akan terus berjaga.”

Mendengar itu, aku menoleh ke belakang rumah. Pohon-pohon jati berdiri diam dalam sore yang mulai temaram dan untuk pertama kalinya aku menatap deretan pohon itu bukan dengan rasa takut melainkan rasa sedih yang dalam, sedih untuk dua jiwa yang terjebak di antara alas dan kenangan dan terus menunggu kedamaian yang entah kapan akan datang menjemput mereka.

Dan malam itu untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun aku tidur tanpa mimpi.

*) Mahasiswa aktif Pendidikan Geografi Universitas Sebelas Maret (UNS)

Berita Terkait

Pluviophile yang Pulang Terlambat
Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu
Goreng Ikan Asin
Sang Bidak
DENDAM
Patah Hati
PELURU
Seni Mencuri

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:10 WIB

Penunggu di Ujung Malam

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:51 WIB

Pluviophile yang Pulang Terlambat

Rabu, 30 April 2025 - 09:14 WIB

Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu

Selasa, 29 April 2025 - 08:56 WIB

Goreng Ikan Asin

Minggu, 9 Maret 2025 - 08:30 WIB

Sang Bidak

Berita Terbaru

Pertama di Madura, UTM Resmi Buka Fakultas Kedokteran (kolase foto)

Pendidikan

Pertama di Madura, UTM Resmi Buka Fakultas Kedokteran

Minggu, 7 Jun 2026 - 21:51 WIB

(for NOLESA.COM)

Cerpen

Penunggu di Ujung Malam

Minggu, 7 Jun 2026 - 08:10 WIB

(for NOLESA.COM)

Puisi

Puisi-puisi Renata Xalisa Putri

Minggu, 7 Jun 2026 - 07:57 WIB