Selebrasi Merdeka Berkarya

Redaksi Nolesa

Rabu, 28 Februari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Abd. Kadir (Foto: dokumen pribadi)

Abd. Kadir (Foto: dokumen pribadi)

Oleh :  Abd. Kadir

(Dosen Pascasarjana Institut Kariman Widayudha (INKADHA) Sumenep)

Akhir Januari kemarin saya diundang oleh Komunitas Literasi Kata Bintang dalam acara Selebrasi Karya. Hadir dalam pertemuan itu, beberapa penulis yang telah malang melintang dalam dunia kepenulisan di Sumenep termasuk para penulis Kata Bintang Yunior. Sejatinya acara ini untuk memberikan apresiasi kepada para anggota Kata Bintang yang telah menghasilkan karya dalam bentuk buku selama tahun 2023.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam acara itu pula ada sesi talkshow dengan tema ‘membudayakan siswa menulis’. Sesi inilah yang menarik bagi saya. Mengapa menarik, karena yang menjadi narasumber dalam taklshow ini adalah santri/siswa, alumni, dan ustad dari Pondok Pesantren Darul Ihsan. Dalam paparan yang disampaikan oleh Zahiratul Mukarromah (santri/siswa), menulis dan berkarya bagi mereka adalah kewajiban yang memang ditetapkan sebagai persyaratan untuk bisa lulus dari lembaga pendidikan di Ponpes Darul Ihsan.

Kalau selama ini, yang selalu digaungkan adalah bagaimana guru bisa menjadi literat sejati dengan selalu membudayakan membaca dan menulis sehingga pada akhirnya menghasilkan sebuah karya, baik dengan program 1000 guru menulis, 1001 guru menulis, atau dengan satu guru satu karya, (sagusaka) atau juga satu guru satu buku (sagusabu), namun dalam konteks ini, sebagaimana paparan narasumber talkshow ini, penekanan membaca, menulis, dan berkarya itu diwajibkan kepada siswa. Hal ini menjadi satu syarat kelulusan mereka dengan harus mencetak buku minimal 120 halaman. Bahkan, dalam satu tahun, bisa 50 buku yang dicetak di pondok pesantren ini. Sebuah pencapaian yang yang luar biasa dan perlu diapresiasi oleh kita semua, khususnya para pegiat literasi.

Baca Juga :  Etika dan Politik

Secara pribadi saya lumayan terkejut, karena ternyata lompatan literasi di lembaga ini di atas rata-rata lembaga lain. Sebagaimana juga yang disampaikan Ustad Syafi’ie, pembina literasi di Ponpes Darul Ihsan yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan talkshow, bahwa apa yang diakukan oleh lembaga dengan mewajibkan santri/siswa untuk berkarya sebenarnya karena ada kebijakan dari dewan pengasuh yang mendukung secara totalitas terhadap program yang dilaksanakan lembaga. Bahkan ide awal dari kewajiban menulis buku itu berangkat dari kegelisahan pengasuh yang menginginkan ada ‘artefak’ literasi yang bisa dipersembahkan para santri/siswa untuk pondok pesantren sehingga para santri yunior akan mengikuti jejak senior-senior mereka dalam menulis dan berkarya.

Hal ini pula yang disampaikan salah satu alumni (Fawaidi), bahwa meskipun pada awalnya terasa sedikit melelahkan, tetapi, dorongan, motivasi dari lingkungan yang terus mengajak untuk bergumul dengan literasi pada akhirnya memberikan kenyamanan dalam berliterasi. Meskipun pada awalnya santri masih kebingungan dengan buku referensi karena keterbatasan buku yang ada di perpustakaan pesantren, namun, pesantren memberikan keleluasaan untuk mencari buku-buku di luar pesantren untuk kepentingan tulisan mereka. Tak sedikit santri yang mencoba mengakses buku ke berbagai perpustakaan di perguruan tinggi, khususnya yang ada di Sumenep. Fenomena inilah yang menjadi motivasi bagi para alumni sampai saat ini tetap memberikan support bagi para santri aktif untuk terus membudayakan literasi.

Baca Juga :  Jokowi Banyak Berbohong

Dari sini, apa yang saya temui saat itu, ternyata berbanding terbalik dengan pengalaman saya dulu ketika menjadi pembimbing literasi di pondok. Kalau mereka para santri di Ponpes Darul Ihsan ini diberikan kebebasan untuk mencari buku referensi, sementara saya dulu begitu kesulitan untuk mendapatkan referensi berupa buku. Ketatnya aturan dari pengurus pondok untuk tidak membaca buku-buku selain kitab yang diajarkan di pesantren telah memberikan kegelisahan para santri yang mau menulis dan mencari buku referensi selain kitab kuning. Bahkan, karena keinginan yang kuat untuk membaca buku, ketika jam belajar, buku referensi itu dimasukkan dalam kitab kuning. Seolah-olah mereka aderres (belajar) kitab kuning, padahal yang dibaca adalah buku referensi untuk menulis artikel. Risikonya, ketika ketahuan pengurus pondok, maka ‘tamatlah’ riwayat buku itu karena akan disita pengurus dan tidak akan kembali ke santri.

Baca Juga :  Menyoal Labelisasi Politik ala Cak Nun

Apa yang saya alami ini memiliki kesamaan kisah dengan cerita di film Perempuan Berkalung Sorban yang dirilis tahun 2009 silam. Kisah yang diangkat dari Novel “Perempuan Berkalung Sorban” karya Abidah El KHalieqy ini menceritakan ‘pemberontakan’ seorang perempuan (putri pengasuh pondok pesantren) untuk memperjuangkan kesetaraan bagi kaum perempuan melalui jalur ‘literasi’. Bagaimana santri yang ketahuan membaca buku selain kitab yang diajarkan di pesantren harus dikeluarkan dari pesantren. Jika pengalaman saya dulu kalau ketahuan pengurus, bukunya disita, tetapi kisah dalam film ini lebih ekstrem lagi: mereka dikaluarkan dari pesantren.

Terlepas dari adanya pro-kontra terhadap film ini, saya pribadi hanya mendedah persamaan pengalaman lietrasi saya di pesantren. Selebihnya tidak ada tendensi lain dari kisah saya ini. Untuk itu, stressing point yang ingin saya sampaikan, bahwa ternyata di pondok Pesantren Darul Ihsan ini, budaya membaca, menulis dan berkarya sudah mendarah daging. Ini adalah sebuah praktik baik literasi yang menginspirasi dan perlu dijadikan motivasi bagi saya pribadi, para pegiat literasi dan lembaga-lembaga pendidikan yang lain. Semoga!

 

Berita Terkait

Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd
MBG dan Potensi Gesekan Ekonomi di Pondok Pesantren
Menyelamatkan Bahasa Madura dari Ejaan yang Kocar-kacir
Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP
Pilkada Tak Langsung: Upaya Pembunuhan Demokrasi oleh Syahwat Elit Politik
Peran Perempuan untuk Masa Depan Peradaban
Pembangkangan Konstitusi: Kudeta Sunyi atas Kedaulatan Rakyat
Desa Tangguh Bencana: Membangun Harmoni dengan Bencana

Berita Terkait

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:09 WIB

Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd

Kamis, 5 Februari 2026 - 08:50 WIB

MBG dan Potensi Gesekan Ekonomi di Pondok Pesantren

Selasa, 3 Februari 2026 - 09:31 WIB

Menyelamatkan Bahasa Madura dari Ejaan yang Kocar-kacir

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:44 WIB

Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP

Kamis, 15 Januari 2026 - 16:40 WIB

Pilkada Tak Langsung: Upaya Pembunuhan Demokrasi oleh Syahwat Elit Politik

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Mimbar

Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Selasa, 17 Feb 2026 - 15:21 WIB