Rempeyek: Dari Dapur Tradisional ke Meja Makan Modern

Redaksi Nolesa

Jumat, 4 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Niken Yuni Astuti

KULINER, NOLESA.COM – Siapa yang tak mengenal kuliner nusantara rempeyek? Kuliner ini menjadi bagian yang tak pernah absen di setiap kegiatan perayaan baik upacara adat maupun lebaran.

Rempeyek atau yang akrab disebut peyek merupakan salah satu kuliner nusantara yang terbuat dari olahan tepung beras, santan, dan bumbu rempah-rempah seperti ketumbar dan bawang putih, yang memberikan aroma harum dan rasa gurih yang khas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah adonan siap biasanya diberi taburan kacang tanah, rebon atau bahkan ikan teri. Kemudian digoreng hingga renyah. menghasilkan peyek yang renyah di setiap gigitannya. Rempeyek merupakan salah satu makanan tradisional khas Indonesia yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rempeyek diperkirakan telah ada sejak abad ke-16 pada masa Kesultanan Mataram. Catatan sejarah menyebutkan bahwa rempeyek pertama kali dikenal saat Ki Ageng Pemanahan melakukan perjalanan ke Alas Mantaok atas perintah dari Sultan Hadiwijaya.

Dalam perjalanannya, rempeyek disajikan sebagai pelengkap nasi putih dan sayur pecel, menciptakan sensasi gurih asin ditengah makanan sederhana yang dimakan.

Asal mula nama “rempeyek” sendiri berasal dari bahasa Jawa “rempah” yang berarti rempah-rempah dan Jiyek yang berarti gepeng atau lebar, merujuk pada bentuknya yang pipih dengan penggunaan rempah-rempah yang digunakan di dalam bahan utamanya.

Baca Juga :  Riwayat Sate Klathak Yogyakarta

Rempeyek sendiri tidak lepas dari pengaruh budaya asing, terutama dari budaya India dan Timur Tengah melalui jalur Perdagangan. Pedagang asing datang ke Nusantara membawa berbagai teknik memasak serta penggunaan rempah-rempah yang kuat. Kemudian diadaptasi menjadi olahan rempeyek versi masyarakat lokal.

Setiap daerah memiliki variasi rempeyek yang berbeda-beda dan menjadi ciri khas daerah tersebut. Misalnya di pulau Jawa, rempeyek kacang menjadi salah satu makanan favorit dan sering menjadi pelengkap makanan sehari-hari atau disajikan di berbagai upacara adat.

Sedangkan di Sumatera rempeyek udang menjadi kegemaran masyarakat karena cita rasanya yang unik. Di sulawesi, rempeyek ikan teri menjadi salah satu bentuk inovasi masyarakat dengan pemanfaatan kekayaan hasil laut yang melimpah. Rempeyek hingga saat ini terus mengalami berbagai inovasi dengan menghadirkan cita rasa unik dan menarik termasuk variasi rempeyek bayam, rempeyek jingking, hingga gereh pethek (ikan asin kecil) yang berkembang dan digemari oleh masyarakat.

Rempeyek menjadi bagian penting dalam tradisi upacara adat di Indonesia, Khususnya pada tradisi Jawa, rempeyek memiliki peranan penting dalam berbagai upacara adat karena berkaitan dengan filosofi daur hidup manusia. Dalam upacara adat, rempeyek sering disajikan sebagai bagian dari sesaji, melambangkan rasa syukur dan permohonan berkah bagi keluarga atau masyarakat yang mengadakan acara.

Baca Juga :  Sambut Ramadan 1446, Arinna Cafe and Resto Sumenep Hadirkan Menu Baru Serba Steak

Kuliner tradisional ini sering muncul dalam berbagai upacara, seperti Upacara Mitoni yang memberi selamat kepada bayi setelah tujuh bulan dalam kandungan, dan Brokohan yang memberi selamat kepada bayi setelah lahir. Tak hanya itu, rempeyek juga digunakan dalam jamuan makan selamatan, khitanan, pernikahan, hingga upacara kematian.

Di Kotagede, Yogyakarta, rempeyek bahkan menjadi bagian persembahan dalam berbagai upacara adat, seperti ruwahan menyambut Ramadhan. Kemunculan rempeyek di berbagai acara sakral menunjukkan bahwa makanan tradisional ini tidak hanya memiliki nilai kuliner, tetapi juga memiliki makna simbolis dalam budaya masyarakat.

Selain menjadi bagian dari ritual, rempeyek juga digunakan sebagai hantaran makanan untuk berbagi kepada tetangga atau kerabat menjelang hari raya besar seperti Idul Fitri, menunjukkan nilai solidaritas dan keramahtamahan masyarakat Indonesia.

Hingga saat ini, rempeyek masih tetap mempertahankan eksistensinya di tengah perkembangan dunia kuliner dan berbagai jenis makanan modern. Rempeyek hadir menjadi salah satu makanan khas jadul akan tetap kekiniaan dengan cita rasa yang gurih, renyah serta aroma rempah-rempah yang khas menjadi salah satu daya tarik yang masih memikat hati kalangan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas kuliner nusantara ini berhasil menembus pasar internasional.

Baca Juga :  Bakwan Jagung Ala Manado, Cemilan Irit Biaya Bikin Suasana Kumpul-kumpul Makin Ceria

Tidak hanya digemari oleh masyarakat Indonesia saja, akan tetapi camilan ini mulai disukai dan dikenal di berbagai negara, seperti di negara Hongkong, Taiwan, bahkan Amerika Serikat. Cita rasanya yang begitu otentik dan teksturnya yang renyah membuat rempeyek dapat diterima dengan baik di lidah pasar global. Kesuksesan rempeyek yang go internasional tak lepas dari peran UMKM lokal dan pelaku usaha kuliner yang memanfaatkan platform digital, baik melalui e-commerce, media sosial maupun marketplace internasional. Pengemasan dan beragam variasi rasa juga mendukung eksistensi rempeyek yang turut meningkatkan daya tarik rempeyek di pasar global.

Rempeyek tak hanya sekedar kuliner nusantara yang kaya akan nilai-nilai budayanya, tetapi juga menjadi salah satu simbol kearifan lokal serta kekayaan kuliner nusantara yang saat ini masih eksis dan patut dibanggakan. Keberadaan kuliner rempeyek yang tak lekang oleh waktu meskipun harus bersaing dengan makanan-makanan modern yang berkembang hingga saat ini, menunjukkan bahwa rempeyek menjadi salah satu bagian penting dalam warisan kuliner nusantara di Indonesia.(*)

*Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 

Berita Terkait

Tapakerbau, Kampung Otak-otak Bandeng Disiapkan Jadi Ikon Kuliner Sumenep
Sambut Ramadan 1446, Arinna Cafe and Resto Sumenep Hadirkan Menu Baru Serba Steak
Mau Buat Gudeg Khas Jogja yang Enak? Ini Resepnya
Mencicipi Bakso Kawi Mas Jum
Begini Cara Mengolah Daging Sapi Kurban Menjadi Masakan Rendang
Rekomendasi Resep Opor Ayam untuk Lebaran Idul Adha 1445 H
Soto Betawi Kuliner Khas Jakarta
Jalabiya Penganan Khas Sumenep, Nikmati Sensasinya pada Gigitan Pertama

Berita Terkait

Kamis, 13 November 2025 - 21:10 WIB

Tapakerbau, Kampung Otak-otak Bandeng Disiapkan Jadi Ikon Kuliner Sumenep

Jumat, 4 Juli 2025 - 21:13 WIB

Rempeyek: Dari Dapur Tradisional ke Meja Makan Modern

Senin, 10 Februari 2025 - 20:34 WIB

Sambut Ramadan 1446, Arinna Cafe and Resto Sumenep Hadirkan Menu Baru Serba Steak

Minggu, 28 Juli 2024 - 05:06 WIB

Mau Buat Gudeg Khas Jogja yang Enak? Ini Resepnya

Selasa, 18 Juni 2024 - 13:00 WIB

Mencicipi Bakso Kawi Mas Jum

Berita Terbaru