Puisi-Puisi Zen KR. Halil

Zen KR. Halil

Minggu, 19 Desember 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi via @cdd20

Ilustrasi via @cdd20

 

Membaca Hujan

 

dari langit Banguntapan, hatimu menangis

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

airmatamu yang jatuh

menggenang di bait-bait puisiku.

 

dan setelah seluruh hujan adalah kesedihanmu

perih mana lagi bakal kau pillih

untuk membanjiri semestaku ini?

 

2021

 

Ode

 

dari bola matamu,

berlarilah tuhan ke tubuhku.

seluruh lukaku seketika sembuh

dan tak bakal mengenal kata kambuh.

 

kau adalah warna bagi mataku

takkan mungkin aku berpaling darimu

untuk memilih kebutaanku.

kau yang adalah degub di jantungku

Baca Juga :  Pinjamlah Hatiku yang Kau Lukai

takkan mungkin aku berhenti mencintaimu

dan memilih kematianku.

 

kau perempuan yang tak pantas didefinisikan

takkan pernah ada madah

mampu menjangkau kau yang terlampau indah.

 

2021

 

Menjadi Penyair

 

aku menulis puisi yang tak boleh

ada huruf tersusun selain menjadi namamu.

 

di baris-baris puisi yang kutulis

aku membangun negara tanpa air mata.

kalimat-kalimat menolak dirangkai

dengan kata ‘luka dan pisah’

 

tak boleh ada masa lalu dan masa depan

Baca Juga :  Doa Jalanan, Puisi Bintu Assyatthie

menghentikan kita berpelukan

aku dan kau adalah cinta

yang hidup di luar masa.

 

di puisiku yang tak beragama

tuhan dilarang menawarkan surga dan neraka.

kita adalah kekasih

yang tak dibatasi dosa dan pahala.

 

2021

 

Video Call

 

kita berjam-jam bertatapan

adalah rindu yang kita nyanyikan

aku melempar senyum selalu

entah padauk atau layer kesepianmu.

 

aku menempelkan layer ke kening

kau mengecup dari jauh yang hening

kita memunguti keriangan yang

bertaburan di handphone masing-masing.

Baca Juga :  Puisi-Puisi Riska Widiana

 

betapa kita merawat cinta

sesederhana ketidak relaan

setiap hendak mengakhiri panggilan.

 

2021

 

Tanggal Merah

 

orang-orang pergi berwisata

ke tempat mereka menyejukkan mata

mencari bahagianya yang entah;

mengunjungi pantai, dan gunung, dan kawah,

dan semua yang berwarna indah.

 

sedang aku,

di hari liburku masih tetap asik memandangmu.

matamu adalah alam damaiku

senyummu mengubur seluruh keindahan sekitarku

kau ketenangan dan keriangan yang

tak perlu ku cari ke jalan-jalan,

ke tempat dan ruang.

 

2021

Berita Terkait

Puisi Muhammad Dzunnurain Madura
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara Maluku Utara
Puisi-puisi A. Daniel Matin Madura
Puisi-puisi Abd Gafur Sajjad Alfarisi
Puisi-puisi Maria Dominika Tyas Kinasih Semarang
Puisi-puisi Iyong
Balas Pati-Puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Abdurrahman ZN-Di Stasiun Kereta

Berita Terkait

Rabu, 12 Juni 2024 - 23:50 WIB

Puisi Muhammad Dzunnurain Madura

Minggu, 26 Mei 2024 - 12:30 WIB

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara Maluku Utara

Minggu, 26 Mei 2024 - 11:00 WIB

Puisi-puisi A. Daniel Matin Madura

Minggu, 19 Mei 2024 - 07:30 WIB

Puisi-puisi Abd Gafur Sajjad Alfarisi

Kamis, 9 Mei 2024 - 08:08 WIB

Puisi-puisi Maria Dominika Tyas Kinasih Semarang

Selasa, 30 April 2024 - 11:00 WIB

Puisi-puisi Iyong

Minggu, 11 Februari 2024 - 08:00 WIB

Balas Pati-Puisi Amanda Amalia Putri

Minggu, 28 Januari 2024 - 11:30 WIB

Puisi-puisi Abdurrahman ZN-Di Stasiun Kereta

Berita Terbaru

Anggun Cahyaningrum (Foto: dokumen pribadi)

Budaya

Rokat Pandhaba: Identitas Budaya yang Masih Terjaga

Jumat, 14 Jun 2024 - 13:11 WIB