Menggali Kekuatan Jiwa

Redaksi Nolesa

Jumat, 24 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Sujono

MIMBAR, NOLESA.COM – Parenting; rasa percaya diri yang sangat besar, seringkali ditentukan oleh seberapa baik anak memperoleh perlakuan dari orangtua.

Bagaimana sikap Rasulullah Saw, terhadap anak? Secara ringkas, saat bercanda sebagai teman, saat bertutur menjadi guru, dan terhadap hak anak, Rasulullah Saw, menjadi pelindung dan penjaga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui tindakan dan ucapannya, Rasulullah Muhammad Saw, mengajarkan kepada kita bagaimana menghormati hak anak. Barangkali inilah yang membuat anak-anak di masa Rasulullah Saw, mudah menerima kebenaran, ringan mendengarkan nasehat, dan ketika dewasa tidak sibuk mendahulukan hak. Mereka bersegera melaksanakan kewajiban karena di masa kecil mereka selalu dijaga haknya.

Mari segarkan kembali ingatan kita dengan peristiwa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dari Sahl bin Sa’ad Ra, Rasulullah Saw, pernah disuguhi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan Beliau duduk seorang anak kecil dan di sebelah kiri Beliau duduk para orangtua. Beliau bertanya kepada anak kecil itu, “Apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka?”

Baca Juga :  Memformulasikan Ulang Fungsi dan Kewenangan DPD

Si anak menjawab, “Aku tidak rela, ya Rasul Allah, demi Allah, aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku darimu.”

(Rasulullah Saw, meletakkan minuman itu ke tangan anak kecil tersebut)

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah Bukhari dan Muslim ini? Inilah bentuk pendidikan yang menjadikan anak seakan berada dalam jajaran para orangtua dari segi perolehan hak. Ketika anak telah merasa mengambil haknya, perasaan cintanya kepada Rasulullah Saw, akan bertambah dan keimanan kepada risalah Beliau akan semakin kokoh. Dari sinilah potensi kreativitasnya akan berkembang dalam naungan dakwah Beliau.

Cara bersikap seperti ini membuat anak merasa berharga. Ia memiliki citra diri yang baik. Tidak menganggap dirinya buruk, tidak pula memandang orang dewasa dan lingkungan pada umumnya sebagai sumber ketakutan.

Baca Juga :  Membaca Manuver Mas Wapres

Selanjutnya, anak akan memiliki konsep diri yang positif sehingga mampu mengembangkan potensinya secara optimal. Rasa percaya diri yang sangat besar, seringkali ditentukan oleh seberapa baik anak memperoleh perlakuan dari orangtua. Bukan apa yang ia miliki untuk ditunjukkan kepada orang lain.

Alfie Kohn, seorang psikolog sekaligus penulis buku-buku parenting, pernah menunjukkan bahwa, cinta yang tulus lebih efektif untuk mengasuh, mengarahkan, mendidik, dan mendorong anak untuk lebih bertanggung jawab. Jika kita ingin anak-anak kita lebih hormat kepada kita dan mendengarkan apa yang kita katakan, tumbuhkanlah kepercayaan mereka kepada kita. Caranya? Cintailah mereka sepenuh hati sepenuh kerinduan dengan tulus. Tanpa syarat…

Di sinilah kita bisa memahami mengapa Rasulullah Saw, sangat menekankan agar kita mencintai anak-anak tanpa syarat, menepati janji, tidak berbohong, dan adil terhadap mereka. Bagaimana anak-anak kita mengimani Tuhannya kelak, sangat dipengaruhi oleh cara kita memperlakukan mereka di masa kecil.

Baca Juga :  Penting! Seperti ini Pesan Ketua PC NU Sumenep Ketika Menghadiri Haflatul Imtihan Taufiqurrahman

Selain tentang seruan untuk melimpahkan cinta dan kasih-sayang kepada anak, teringatlah saya dengan teori psikologi agama yang menunjukkan bahwa, keyakinan — bukan pengetahuan — kepada Tuhan sangat dipengaruhi oleh pengalaman anak berhubungan dengan orangtua. Mereka yang memiliki orangtua pelit, tidak konsisten dan tidak memiliki prinsip dalam mengasuh anak, cenderung menjadi pribadi yang sulit membangun keyakinan sangat kuat terhadap sifat Pemurah Allah Ta’ala, meskipun pengetahuannya tentang hal tersebut sangat luas. Wallahu a’lam…

Selebihnya, izinkan saya menggaris-bawahi tentang betapa pentingnya anak-anak memperoleh pengalaman bagaimana hak-haknya dimuliakan, dijaga dan dipenuhi oleh orangtua. Ada amanah yang harus kita pertanggung-jawabkan kelak di Yaumil-Qiyamah, termasuk bagaimana menghormati hak yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya bagi anak-anak kita. Wallahu a’lam…

Kutipan Bijak; “Kalau mampu menyembunyikan, sembunyikanlah kebaikanmu; inilah jalan menuju ma’rifat.”

*) penulis lepas tinggal di Perum Satelit Kota Sumenep

Berita Terkait

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa
DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026
Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya
Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci
Mabrur Tanpa Berhaji
Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra
Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern
Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 07:03 WIB

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa

Jumat, 10 April 2026 - 18:53 WIB

DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:13 WIB

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:21 WIB

Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:38 WIB

Mabrur Tanpa Berhaji

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB