Menakuk Hiruk Pikuk

Redaksi Nolesa

Jumat, 18 November 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Lisma Tarianbutar

 

Menakuk Hiruk Pikuk

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menderu-deru mesin tertawa di jalan penuh debu

Orang-orang pemburu uang tak peduli musim

Saling berebut cari kedudukan ternyaman untuk mendapatkan segenggam emas pengisi perut

Emak-emak mencuci mata mencari yang terbaik untuk dirinya

Oma-oma mengalah menjadi yang akhir

Seorang penyumbang suara memainkan alat musik kesukaan para pemuda zaman milenial

Dengan irama musik yang menenangkan suntuk

Keramaian itu membuat sang pengais sampah beruntung untuk mengisi kantong ajaib yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi

Di pojok jalan, penjaja makanan berteriak memamerkan dagangan

Baca Juga :  Pertemuan, Puisi I’m Faik

Hujan renyai menyanyi isyaratkan keriuhan akan berakhir

Kaum Hawa membawa pelindung kepala

Suasana jalan mulai hening

Yang riuh hanya terdengar gemuruh meledak-ledak di udara dan suara hujan membentuk paduan suara

Cemas

Ragu

bermain dalam isi kepalaku yang menunggu rebas-rebas segera usai

Bogor, 22 Oktober 2022

Engklek

Lompat, lompat, lompat

Kaki tak bisa dilipat

Garis-garis dilukiskan pada tanah

Mengukir kenangan yang dilompati menuju masa depan

Balik lompat, lompat

Gaco pun dilemparkan

Main berempat yang sering merapat

Satu persatu garis mulai pudar

Kawan-kawan mulai enggan bermain

Senja pun tiba, langit tak bersahabat lagi

Permainan bubar, semua menyebar

Baca Juga :  Kemana Rasa ini Harus Ditautkan

Aku ambil langkah seribu menemui ibu yang menanak nasi di dapur

Bogor, 26 Oktober 2022

Mengurut Dada

Sedih adalah kecemasan dalam kelam kelabu yang dibumbui dengan tetesan air mata buta

Merangkak, memanjat namun tak dapat meraih angan

Ia tak merasakan semaraknya semesta yang berpesta-pora di atas sesak tangisan

Sedih adalah sebuah kisah masa silam yang melampaui helat

Mendepak aku terperosok ke jurang resah

Hingga aku mengerang namun tak terluka

Bogor, 27 Oktober 2022

Menetaskan Impian

Jalan gelita perlahan beranjak menuju kelabu

Jejak-jejak putus asa mulai pupus

Kelabu pergi menemui terang

Sebuah impian melambaikan janji kepadaku

Baca Juga :  Puisi-Puisi Aris Setiyanto

Aku terpana tak percaya

Padahal itu sinyal bagiku

Aku anyam diksi-diksi menjadi rajutan futur

Yang akan menetaskan impian

Ya, bayangannya sudah mulai nyata

Bogor, 4 November 2022


Lisma Tarianbutar adalah Delisma Anggriani Butarbutar, lahir pada tanggal 4 Desember di Medan. Saat ini masih aktif di kelas Asqa Imagination School (AIS) dan belajar di AIS #29, tunak di Community Pena Terbang (Competer). Karya puisinya sudah ada yang dimuat di media Pahatan Sastra, Tirastime, Riau Sastra. Penulis juga mempunyai beberapa buku antologi puisi dan cerpen. Intip aktifitasnya pada IG: @delismaanggrianibutarbutar, dan FB: Delisma Anggriani Btr.

Berita Terkait

Balas Pati-Puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Abdurrahman ZN-Di Stasiun Kereta
Puisi-Puisi Enha Sajjad
Puisi-puisi Muhammad Ridwan Tri Wibowo
Pulang- Puisi Muhammad Dzunnurain
Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon
Puisi-puisi Safari Maulidi
Meja Panjang Pak Marito

Berita Terkait

Minggu, 11 Februari 2024 - 08:00 WIB

Balas Pati-Puisi Amanda Amalia Putri

Minggu, 28 Januari 2024 - 11:30 WIB

Puisi-puisi Abdurrahman ZN-Di Stasiun Kereta

Sabtu, 20 Januari 2024 - 11:28 WIB

Puisi-Puisi Enha Sajjad

Sabtu, 13 Januari 2024 - 09:14 WIB

Puisi-puisi Muhammad Ridwan Tri Wibowo

Sabtu, 25 November 2023 - 06:03 WIB

Pulang- Puisi Muhammad Dzunnurain

Kamis, 9 November 2023 - 05:49 WIB

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon

Senin, 16 Oktober 2023 - 05:43 WIB

Puisi-puisi Safari Maulidi

Selasa, 29 Agustus 2023 - 21:43 WIB

Meja Panjang Pak Marito

Berita Terbaru

Suara Perempuan

Menjadi Mahasiswa Cerdas dan Tangguh

Sabtu, 20 Apr 2024 - 15:09 WIB