Manusia Makhluk Egois dan Bengis

Redaksi Nolesa

Sabtu, 11 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Margareta Okta (Foto: dokumen pribadi)

Margareta Okta (Foto: dokumen pribadi)

Oleh: Margareta Okta

(Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta)

Menilik pesona Sumba, menyingkap sisi gelap Indonesia. Simpulan singkat yang cukup mewakili novel Melangkah karya J. S. Khairen. Indonesia merupakan negara berkembang, pemerataan dan pembangunan dilakukan dengan harapan mampu menyejahterakan rakyat. Namun, usaha tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus. Terjadi banyak permasalahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek ekonomi. Ketimpangan terjadi dimana-mana dan hingga kini masih menjadi isu yang belum bisa terselesaikan. Poverty-Growth-Inequality Triangle Hypothesis merupakan istilah yang dikemukakan oleh F. Bourguignon. Poverty (kemiskinan), growth (pertumbuhan), dan inequality (ketimpangan) memiliki keterkaitan yang saling memengaruhi. Tiga aspek inilah yang tergambar jelas dalam novel Melangkah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Khairen memilih Pulau Sumba sebagai latar tempat yang mendominasi novel ini, hal tersebut merupakan keputusan yang patut diapresiasi. Pulau Sumba terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Indonesia bagian Timur masih menjadi sasaran pembangunan oleh Pemerintah sebagai upaya pemerataan. Hal ini membuktikan, selama ini wilayah Indonesia bagian Timur masih kerap terlupakan. Pembangunan besar-besaran terjadi di Pulau Jawa, sementara wilayah Indonesia Timur mengalami ketertinggalan yang cukup jauh. Persoalan di Indonesia tidak hanya tergambar melalui masalah-masalah di Pulau Jawa, justru persoalan yang tidak kalah kompleks terjadi di luar Pulau Jawa seperti Pulau Sumba. Oleh karena itu, Novel Melangkah menjadi tulisan yang menyuarakan ketidakadilan itu.

Pada awal novel, pembaca disambut dengan tradisi kebudayaan Sumba, yaitu Pasola. Peristiwa Pasola atau yang lebih pantas disebut Perang Pasola. Pasola merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Sumba ketika hendak menyambut masa panen, tradisi tersebut berupa pertarungan kuda dan sang penunggang saling melempar tombak tumpul atau kayu. Namun, pasola yang ditampilkan berbeda dengan pasola yang biasa diselenggarakan. Pasola ini berbeda dengan Festival Kuda Pasola yang biasa Runa lihat. Pada festival, hanya lempar tombak saja tanpa ada pisau atau belati di ujungnya. Tujuannya juga untuk perayaan panen. Orang-orang bersukacita begitu festival selesai. Ini beda sekali. Satu tancapan di dada, orang itu pergi untuk selamanya (Pertarungan Kuda, hal. 6).

Dua kubu beradu nyawa demi sebuah batu besar dan seorang anak kecil juga turut menjadi taruhan. Sebaliknya, jika mereka kalah, batu sebesar rumah yang ada di bukit di kampung Runa, harus diserahkan untuk pemakaman raja dari Suku seberang (Pertarungan Kuda, hal. 6-7). Pertumpahan darah terjadi, tombak saling menikam, sampai pada akhirnya pimpinan mereka, Umbu Mala, ditembak oleh pria misterius yang menjadi bagian dari kubu lawan. Runa di umur yang masih sangat muda menjadi saksi mata kejadian tragis, ayahnya tewas, dendam dalam jiwanya berkobar sejak saat itu juga. Sifat manusia tergambar dalam peristiwa ini, sifat egois dan tamak mengambil alih akal pikiran sehingga hal keji pun sanggup dilakukan. Banyak kasus oknum-oknum yang tega merenggut nyawa demi kepentingan pribadi atau kelompok. Kejahatan seperti ini banyak yang tidak tercium oleh hukum atau mungkin sengaja tidak digubris. Terlepas dari hal tersebut, Khairen menyajikannya dalam bingkai kebudayaan Sumba sehingga tampak natural berpadu dalam cerita.

Baca Juga :  Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Konflik utama pada novel ini bermula karena padamnya listrik di beberapa daerah di Pulau Jawa secara tiba-tiba. Kejadian ini tidak hanya terjadi sekali, sehingga menimbulkan berbagai asumsi dari masyarakat. Hal janggal ini turut dirasakan oleh Aura, Siti, Arif, dan Ocha yang kala itu sedang dalam perjalan menuju Sumba untuk berlibur sekaligus menemani Aura kembali ke kampung halamannya. Sebelum mendarat, pesawat sempat berputar-putar karena mati listrik di bandara sehingga pesawat tidak dapat mendarat. Selamat datang di Sumba. Pulau kecil yang sudah lama sering sekali mati lampu. Makanan sehari-hari kami. Jika tidak mati lampu seminggu saja, semua orang pasti bingung. Ketimpangan pembangunan itu nyata. Ayo sudah kita ambil koper. Subsidi BBM salah sasaran. Uang triliunan yang seharusnya bisa dipakai untuk memajukan daerah tertinggal, malah dibakar untuk memuaskan nafsu berkendara orang kota (Jet Pribadi, hal. 116).
Secara lugas, dialog yang dilakukan tokoh sangat jelas menyindir ketimpangan yang terjadi di Indonesia. Penyelewengan hak seperti penggunaan subsidi yang seharusnya untuk menunjang pembangunan malah ditelan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Meskipun di Indonesia menganut sistem ekonomi Pancasila, yang dimana perekonomian diatur oleh masyarakat dan pemerintah. Namun, tak sedikit kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat yang andil dalam pengaturan sistem ekonomi di Indonesia. Secara tidak langsung, sebenarnya sudah terjadi sistem ekonomi neoliberalisme. Tujuan dari neoliberalisme yaitu memberikan hak kebebasan pada individu untuk bersaing bebas di pasar (Giersch dalam Baswir 2015:1). Hal tersebut akhirnya menciptakan pihak-pihak yang sengaja merenggut hak masyarakat demi kepentingan dan keuntungan pribadi. Situasi ini semakin diperburuk dengan adanya keterlibatan oknum pemerintah dalam permasalahan ini, kerjasama terselubung antara kedua belah pihak sehingga pemerintah melindungi kejahatan ini.

Novel Melangkah dapat dikatakan sebagai novel yang jujur. Persoalan ekonomi benar-benar diceritakan dengan tegas dan jelas. Membaca novel ini seperti merasakan ledakan emosi yang selama ini terbendung dan bisa jebol kapan saja. Selain ketimpangan, isu kemiskinan turut menjadi sorotan. Kemiskinan yang dialami masyarakat Sumba dalam novel ini sudah seperti kutukan turun-temurun. Jika melihat data tingkat ketimpangan di kabupaten-kabupaten di Kepulauan Sumba, empat kabupaten dapat dikatakan mengalami ketimpangan yang tergolong rendah. Namun, jika dibandingkan dengan daerah lain (di luar Pulau Sumba), daerah tersebut termasuk daerah yang tertinggal (Renggo 2021:112). Seperti teori Poverty-Growth-Inequality Triangle Hypothesis yang dikemukakan oleh F. Bourguignon, ketimpangan akan memengaruhi kemiskinan, begitu pula sebaliknya. Kemiskinan yang diangkat dalam novel ini lebih condong pada siklus kemiskinan yang timbul karena adat dan tradisi.

Baca Juga :  Melek Agama dan Politik Melalui Antologi Puisi Negeri Daging Karya Ahmad Mustofa Bisri

Pergi merantau ke Kota Kembang, itu dulu juga karena dia memberontak. ia tak percaya diri untuk membuat tenun seperti yang dilakukan para perempuan lain. saat semua anak seusianya punya hal lain yang dilakukan, entah itu sekolah, hingga menikah. Aura tidak mau. Masalahnya, ia juga tak mau belajar membuat tenun itu. Semua perempuan Sumba, harus memiliki kemampuan ini. Diwariskan turun temurun. Sebagai anak Raja, Aura harus ikut melestarikan tenun. Tenun yang ia buat tak kunjung jadi. Akhirnya datu ketika Umbu Darli datang membeli banyak tenun. Aura melihat banyak sekali uangnya Umbu Darli ini, Ia akhirnya menemukan jalan hidupnya, yaitu membantu jadi pengusaha tenun dan pindahlah ia ke Kota Kembanng begitu SMA-nya selesai (Kuburan, hal. 221). Melalui kutipan tersebut, Aura yang menyandang gelar anak Raja mengalami pergulatan batin. Dia tidak ingin hidup dengan akhir sebagai wanita yang menenun selembar tenun sumba, seperti kebanyakan para wanita di kampungnya. Namun, di sisi lain hal tersebut merupakan tradisi yang harus dilestarikan turun-temurun, terlebih dirinya adalah anak Raja. Tanpa disadari, pandangan seperti itu yang akan memutuskan tali siklus kemiskinan. Anak perempuan tumbuh dan harus mempelajari cara menenun karena seperti itulah kehidupan yang dijalani wanita-wanita di sana. Melalui tradisi ini, akan membentuk mindset bahwa para wanita Pulau Sumba akan berakhir semua seperti itu dan akan menganggap bahwa pendidikan bukan hal yang patut diprioritaskan. Padahal, melalui pendidikan, akan terjadi perubahan cara berpikir sehingga hal ini akan memengaruhi tindakan yang akan dilakukan seseorang untuk masa depannya.

Melengkapi dua unsur yang telah disebutkan sebelumnya, fenomena ketimpangan dan kemiskinan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah. Ketika ketimpangan pendapatan dapat mengatasi kemiskinan maka pertumbuhan ekonomi akan mengalami peningkatan secara signifikan. Hal tersebut akan baik jika terjadi secara merata di seluruh wilayah, lain halnya jika hanya terjadi untuk pihak-pihak tertentu. Dan para pejabat berhati kotor itu, lebih mendengarkan rayuan uang daripada kehidupan yang lebih sejahtera untuk masyarakat! Bisa bayangkan, dengan energi sangat murah ini, otomatis akan menggeser bisnis mereka semua. Menjadi tambang yang tak lagi disentuh. Jelas mereka tidak suka! Mereka lebih senang dompet mereka makin tebal. Biarlah orang makin miskin, biarlah lingkungan tetap rusak! (Buang Air Besar, hal. 274). Kobaran emosi Runa cukup membuat pembaca terombang-ambing dalam memutuskan ingin memihak pada tokoh yang mana. Runa melakukan hal yang salah, namun semua yang dikatakannya merupakan hujan fakta yang terjadi saat ini. Khairen berhasil membuat pembaca merasakan pergulatan batin, karena pada umumnya pembaca akan memihak pada tokoh yang baik, namun pada situasi ini, perasaan pembaca akan dilempar kesana kemari.

Baca Juga :  Damar Kambang: Sebuah Perspektif Semiotik dan Kultural

Setelah dibombardir dengan situasi yang menunjukkan keegoisan manusia, Khairen memberikan bumbu tambahan yaitu sifat bengis manusia ketika mengusahakan keegoisannya. Untuk apa kau butuh batu besar di kampung kami? Untuk membuka tempat yang luas ini bukan? Di sini, rumah-rumah orang kampungku terbakar habis oleh kalian! (Buang Air Besar, hal. 277) Pada awal cerita, Runa menyaksikan kematian ayahnya akibat ditembak oleh seorang pria bernama Prabu. Hanya demi kepentingan satu pihak, pertumpahan terjadi di tanah Sumba. Tidak sampai disana, Runa berjuang keras untuk hidupnya hingga akhirnya menciptakan energi alternatif yang kemudian diajukan kepada pemerintah. Namun, gagasan itu ditolak. Dia dulu pernah hendak dibunuh oleh para pengusaha energi fosil, karena bersikeras agar temuannya tentang energi alternatif dipakai di seluruh negeri (Kampus Udel, hal. 289). Ketika Runa hampir menyelesaikan rencana besarnya, rekan sekaligus kakak angkatnya, Raka, menghalangi proses tercapainya mimpi Runa. Runa mengarahkan kembali pelontar kilatan cahayanya. Dua tembakan ia arahkan pada Prabu yang tampak memohon (Kepunahan, hal. 329). Dendam kesumat begitu terasa lewat dialog dan tindakan Runa, sisi bengis yang ditampilkan sejenak membuat berpikir bahwa sifat manusia ternyata bisa semengerikan itu. Ketika keegoisan menguasai diri manusia, maka dengan gelap mata semua yang menghalangi akan dihabisinya.

Persoalan ekonomi dalam novel ini dikemas secara modern. Tokoh-tokoh yang dimunculkan tampak “hidup” di masa sekarang. Membaca novel ini terasa seperti turut berpetualang ke Pulau Sumba. Konflik-konflik kecil tersusun runtut sehingga selama membaca terus muncul terkaan kejadian yang akan terjadi selanjutnya. Namun, tindakan Khairen memunculkan tokoh GTR sebagai cerminan manusia 2000an yang hidup dengan bergelimang harta menjadi bumbu yang berlebihan, entah sengaja atau tidak namun tokoh GTR cukup mengganggu kenyamanan ketika berhasil membangun suasana. Untungnya kemunculan tokoh ini tidak terlalu mendominasi, ketika disandingkan dengan peristiwa-peristiwa yang lebih mencekik maka kehadiran tokoh tersebut tidak terlalu dihiraukan. Hal tersebut tidak terlalu memengaruhi daya tarik novel ini. Ketika membaca Novel Melangkah, timbul perasaan “dekat” karena topik yang diangkat relevan dengan kehidupan. Setiap rentetan peristiwa dapat dirasakan bahwa manusia sebenarnya makhluk yang begitu egois dan bengis. Berbagai macam cara dilakukan supaya keinginannya tercapai, bahkan kemungkinan terburuk sampai merenggut nyawa orang lain. Musuh manusia sebenarnya adalah dirinya sendiri, semakin egois seorang manusia maka dunia akan semakin dekat dengan ambang kehancuran.

Tentang Penulis : Margareta Okta Prasetya atau dapat dipanggil Okta adalah seorang mahasiswi di Universitas Negeri Yogyakarta. Okta lahir pada tanggal 17 Oktober tahun 2004. Selain menjalani aktivitas sebagai mahasiswa, di sela-sela kesibukan Okta kerap membaca novel atau puisi sebagai hiburan ketika rehat. Dari kegemaran membaca karya sastra, akhirnya mendorong untuk membuat tulisan-tulisan seperti esai apresiasi atau kritik, cerpen, dan puisi.

Berita Terkait

Damar Kambang: Sebuah Perspektif Semiotik dan Kultural
Ikan Buntal, Mem-Bendung Racun
Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat
Melek Agama dan Politik Melalui Antologi Puisi Negeri Daging Karya Ahmad Mustofa Bisri

Berita Terkait

Rabu, 15 Mei 2024 - 07:30 WIB

Damar Kambang: Sebuah Perspektif Semiotik dan Kultural

Minggu, 12 Mei 2024 - 08:00 WIB

Ikan Buntal, Mem-Bendung Racun

Sabtu, 11 Mei 2024 - 11:00 WIB

Manusia Makhluk Egois dan Bengis

Selasa, 6 Februari 2024 - 13:34 WIB

Melek Sastra, Wujudkan Generasi Literat

Sabtu, 25 November 2023 - 06:29 WIB

Melek Agama dan Politik Melalui Antologi Puisi Negeri Daging Karya Ahmad Mustofa Bisri

Berita Terbaru

Inspirasi

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional dan Relevansinya di Masa Kini

Senin, 20 Mei 2024 - 06:00 WIB

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Opini

Mengutamakan Implementasi

Minggu, 19 Mei 2024 - 12:00 WIB