Guru Literat: Inisiator yang Kreatif

Abd. Kadir

Sabtu, 23 Juli 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Adalah niscaya ketika seorang guru itu menulis apa yang dipikirkan untuk dikerjakan dan mengerjakan apa yang dituliskan. Realitas semacam ini adalah bagian dari filosofi penelitian tindakan kelas yang di sini guru ‘diwajibkan’ menulis apa yang akan dikerjakan dan mengerjakan apa yang dituliskan. Dalam perpektif ini, maka guru sudah selayaknya menjadi pelopor literasi ‘baca-tulis’ di sekolah.

Membincang literasi ini, maka sebenarnya apa yang telah dicanangkan pemerintah tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS) diharapkan mampu diimplementasikan di semua jenjang di sekolah. Di sini, gerakan ini dimaksudkan untuk membangun kemampuan warga sekolah dalam mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas dan komprehensif melalui berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan berbahasa (membaca, menyimak, menulis, dan berbicara).

Nah, dalam konteks ini, sekolah menjadi sentral sebagai basis kegiatan literasi. Kebehasilan gerakan literasi ini akan efektif jika warga sekolah memikul tanggung jawab utama. Kepala sekolah, guru, dan siswa adalah komponen internal yang akan menjadi penentu keberhasilan gerakan literasi ini.

Pada ranah ini, guru sebagai petugas profesi yang ada di garda depan dengan kompetensi pedagogik yang dimilikinya, dituntut untuk memiliki kapasitas memadai dalam mengembangkan diri serta melaksanakan kegiatan literasi ini secara optimal. Dengan kekuatan pedagogik, kepribdian, sosial, dan profesional yang dimilikinya, dia bisa menjadi teladan bagi siswanya dalam hal literasi ini. Guru juga harus bisa memahami karakteristik siswanya sebagai anak didik yang akan bersama-sama dalam penguatan literasi di sekolah. Pada ranah ini, guru harus bisa memposisikan diri dan berperan aktif sebagai inisiator, fasilitator, dan evaluator terhadap para siswanya. Dengan posisi dan peran aktif inilah keteladanan itu akan lahir.

Untuk itu, sekali lagi, keteladanan dan pembacaan terhadap karakteristik siswa akan memudahkan guru dalam menginternalisasi nilai yang akan disampaikan oleh guru. Bahwa bahasa perbuatan dan keteladanan akan lebih efektif dari bahasa verbal, itu sudah tidak terbantahkan. Dengan bahasa keteladanan inilah guru memulai dari dirinya sendiri untuk diikuti anak-anak dan siswanya, bahkan oleh masyarakatnya.

Baca Juga :  Membangun Karakter Entrepreneur Mahasiswa Melalui Digital Marketing

Di satu kesempatan, saya diundang untuk membedah sebuah buku—“Bedah Literasi Kelas”—yang ditulis Saudara Ali Harsojo, M.Pd. Terkait dengan bedah buku ini, ada satu pembacaan yang bisa saya sampaikan bahwa ide penulis ini adalah ide yang implementatif. Artinya, bahwa ide ini adalah ide yang dituliskan untuk dilaksanakan dan melaksanakan apa yang telah dituliskan. Saudara Ali Harsojo, menuliskan pengalaman mengajarnya selama 4 tahun terakhir dalam melakukan penguatan literasi di sekolah.

Pengalaman yang tertuliskan ini adalah bentuk nyata penguatan literasi yang dicontohkan Saudara Ali Harsojo kepada siswa, bahwa berliterasi pada ahirnya akan menghasilkan tulisan. Saya melihat bahwa Saudara Ali Harsojo tidak hanya menulis buku ini sebagai karya pribadinya. Tetapi, sebagaimana yang disampaikan dalam buku ini bahwa lebih dari itu, juga lahir karya-karya anak didiknya yang bisa menjadi bacaan dan inspirasi bagi guru dan siswa lain di Kabupaten Sumenep.

Baca Juga :  Madas di Persimpangan Etika: Darsam dan Batas Keberanian yang Hilang

Karya siswa ini juga merupakan hasil dari pembiasan literasi kelas yang telah dibudayakan selama ini oleh Saudara Ali Harsojo, baik yang telah diinternalisasian dalam aktivitas pembelajaran yang sudah dijadwalkan, maupun waktu-waktu selain yang sudah dijadwal oleh sekolah. Apakah itu 15 menit sebelum pelajaran atau waktu lain yang bisa dimanfaatkan untuk penguatan literasi kelas ini.

Inilah sebenarnya yang dibutuhkan dari guru. Pola guru inisiator yang kreatif penting agar gerakan literasi yang dimulai dari kelas bisa diimplementasikan. Dia akan menjadi guru literat yang akan diikuti oleh siswanya, dan pada akhirnya akan melahirkan karya, baik itu dari gurunya, maupun dari siswanya. Semoga!

: Pegiat Literasi

Berita Terkait

Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?
Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama
Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi
Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin
Desa Tangguh Bencana
Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam
Puisi-puisi Wail Arrifqi
Melampaui Bayang-Bayang Sherlock: Enola Holmes sebagai Alegori Kebangkitan Suara Perempuan

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:04 WIB

Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 11:50 WIB

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:58 WIB

Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi

Jumat, 21 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:04 WIB

Desa Tangguh Bencana

Berita Terbaru

Politik

Daftar Anggota DPRD Partai Hanura di Madura

Senin, 14 Sep 2026 - 20:18 WIB

Nasional

Mengapa Purbaya Dipecat? Ini Kata Ekonom

Senin, 14 Sep 2026 - 19:52 WIB