Eksplorasi Budaya Suku Mentawai dalam Novel Burung Kayu Karya Niduparas Erlang

Redaksi Nolesa

Senin, 16 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Wyne Prastiananda

ESAI, NOLESA.COM – Burung Kayu karya Niduparas Erlang merupakan novel yang diterbitkan oleh Teroka Press pada tahun 2020 dengan jumlah halaman sebanyak 181. Novel ini telah meraih penghargaan dalam Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 kategori prosa.

Novel Burung Kayu hadir dengan menawarkan berbagai pengetahuan yang jarang tersorot peta sastra Indonesia. Ditulis dengan ragam keindahan diksi membuat pembaca tidak hanya membaca permukaan cerita, tetapi diajak pula untuk menyelami berbagai lapisan makna yang tersimpan di balik setiap peristiwa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Niduparas Erlang lahir di Serang pada tanggal 11 Oktober 1986. Ia menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Saat ini, ia merupakan tenaga pengajar pada Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Pamulang dan menempuh studi doktoral pada Program Studi Susastra, Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Ia juga mengelola Komunitas Aing, fasilitator Laboratorium Banten Girang, kontributor Majalah Indonesia, direktur Festival Seni Multatuli (FSM) 2021 di Rangkasbitung. Novel pertamanya, Burung Kayu (2020) merupakan “Naskah yang Menarik Perhatian Dewan Juri” pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019 dan meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 kategori prosa. Bukunya yang lain, Kumpulan cerpen La Rangku (2011) memenangi Sayembara Manuskrip Cerpen Festivas Seni Surabaya 2011. Salah satu cerpennyayang diterjemahkan Annie Tucker dimuat dalam antologi cerpen An Asian of Colors; A collection of Contemporery Short Stories (2021).

Menelusuri Permukaan Cerita

Secara garis besar Novel Burung Kayu mengisahkan konflik adat istiadat Suku Mentawai dan perang antar-Uma. Novel ini mengangkat tema kebudayaan, tradisi turun-temurun, dan ritual kepercayaan masyarakat Suku Mentawai yang begitu sakral. Lebih detail dalam novel ini menggambarkan kehidupan tradisional Suku Mentawai yang bergantung pada alam semesta serta jiwa yang begitu terikat erat dengan roh-roh leluhur dan pergulatan batin ketika mereka dihadapkan pada berbagai program pemerintah yang ditakutkan akan membinasakan tradisi leluhur mereka.

Saat membuka halaman pertama, pembaca akan disuguhkan dengan penggambaran sebuah tarian yang dilakukan oleh para sikerei secara detail. Kemudian pada peristiwa selanjutnya, dijelaskan bahwa Saengrekerei, suami Taksilotoni berencana untuk pindah ke barasi bersama keluarga kecilnya.

Taksilotoni adalah kakak ipar dari Saengrekerei, dahulu Taksilitoni adalah istri Aman Legeumanai. Aman Legeumanai telah meninggal akibat peperangan dengan uma seberang. Perselisihan yang terjadi antara uma mereka dengan uma seberang dimulai sejak zaman leluhurnya. Berawal dari seekor babi sigelag yang dijadikan alat toga oleh keluarga Babuisiboje untuk mengawinkan anak lelaki mereka dengan adik perempuan Baumanai.

Suatu sore, babi sigelag terlepas dari kurungan dan kembali pada keluarga Babuisiboje, namun ketika Baumanai bertanya pada keluarga Babuisiboje mereka tidak mengakui bahwa babi tersebut telah kembali dan ditombak lalu dimakan oleh keluarga mereka sendiri. Lalu, adik Perempuan Baumanai menceritakan hal tersebut kepada keluarganya bahwa keluarga Babuisiboje telah memakan babi sigelag.

Mendegar hal tersebut keluarga Baumanai meminta tulou pada keluarga Babuisiboje, tetapi mereka menolaknya. Setelah menunggu sekitar empat hari, Baumanai bersama Pabelemanai melakukan penyerangan terhadap keluarga Babuisiboje yang mengakibatkan dua orang anggota keluarga mereka meninggal.

Tak sampai situ saja, permusuhan ini berlanjut saat Saengrekerei (adik Aman Legeumanai) ingin menikahi gadis dari keturunan keluarga Babuisiboje. Ia menyekap gadis tersebut, namun sang gadis berhasil melarikan diri dan kembali ke keluarganya. Ayah sang gadis kemudian menuntut tulou kepada keluarga Saengrekerei. Keluarga Seaengrekeri menolak dan menantang pako’ kepada uma seberang untuk berburu dan membuktikan kehebatan.

Setelah kepergian Aman Legeumani dan suasana duka yang menusuk dada atas kematian sang suami, Taksilitoni memutuskan untuk tetap tinggal di uma mendiang suaminya demi anak lelakinya, Legeumani yang akan mewarisi segala yang dimiliki oleh Aman Legeumani dan membalaskan uma mereka dengan uma seberang. Sekalipun, setelah masa berkabungnya selesai ia diharuskan menikah dengan salah satu adik ipar yang masi membujang. Setelah mereka pindah ke barasi, mereka tak lagi terikat dari uma yang melindungi. Di barasi, sebagian besar penghuninya tak lagi memiliki saudara sesuku se-uma. Oleh karena itu, untuk memperkuat pertemanan, mereka kerap berkumpul di sapou si kepala dusun yang layak dihormati.

Setelah beberapa waktu tinggal di barasi, banyak ketegangan sosial yang muncul mulai dari kasus pembunuhan-perselingkuhan hingga persoalan Saengrekerei yang dituduh melakukan pencurian tujuh karung beras. Karena Saengrekerei merasa tidak melakukan hal tersebut, ia berani melakukan tippu sasa dengan harapan semua akan baik baik saja karena ia yakin bahwa dirinya tidak mencuri tujuh karung beras tersebut melainkan tujuh karung beras tersebut disumbangkan ke asrama.

Konflik pun datang kembali, beberapa warga dituduh telah membakar alat berat dan ditangkap polisi. Sengrekerei merasa kehilangan kendali, apalagi saat itu ia sedang sibuk mengurus beasiswa Legeumanai. bagi Saengrekerei, Legeumanai merupkaan satu satunya harapan sehingga ia berusaha agar anaknya mampu berkuliah. Setelah berbagai usaha dilakukan, Legeumanai akhirnya bisa berkuliah dan bekerja di kantor pemerintahan. Sudah cukup lama Legeumanai tidak pulang ke barasi setelah ia bekerja dan tiba tiba ia menerima kabar bahwa ibunya sakit. Berkunjunglah Legeumanai ke barasi dan sesampainya di sana Saengrekerei berkata bahwa tak ada cara lain untuk mengembalikan kesadaran Taksilitoni dan menyembuhkan Legeumanai yang sering bermimpi tentang leluhurnya selain Legeumanai menjadi sikerei. Setelah melewati berbagai keadaan, Taksilitoni akhirnya telah pulih dari sakitnya dan Legeumanai dikukuh teguhkan sebagai sikerei yang mewarisi kepercayaan leluhurnya. Legeumanai berpikir bahwa betapa hidup sudah begitu sentosa, begitu cukup dengan segala yang disediakan semesta.

Baca Juga :  Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol

Menyelami Makna pada Setiap Peristiwa

Novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang merupakan novel yang cukup kompleks dengan penggambaran yang begitu mendalam pada setiap peristiwanya. Novel ini dengan jelas mengangkat tema sosial terkait kehidupan masyarakat pedalaman suku Mentawai yang hidup dengan berbagai tradisi dan ritual nenek moyang tetapi harus dihadapkan dengan pergulatan program pemerintah yang ditakutkan akan membinasakan tradisi leluhur mereka.

Novel yang kental akan penggambaran tradisi masyarakat Mentawai ini juga membahas terkait kehidupan yang dijalani oleh tokoh Saengrekerei yang menikah dengan Taksilitoni dan berjuang dalam membesarkan anak mereka, yaitu Legeumanai. Tokoh utama yang menjadi sorotan yaitu Saengrekerei, tokoh laki-laki yang berasal dari suku Sura Bablo digambarkan memiliki karakter bertanggung jawab, bijaksana, dan pekerja keras yang tertuang dalam kutipan berikut.

Kini, ia adalah kepala keluarga yang mesti menanggung-menghidupi keduanya dengan sagu dan babi, yang begitu jauh ditempuh dari barasi. Di tangan dan pundaknya, hidup-mati ibu-anak yang dicintainya itu mesti ditating-didukung sedemikian rupa. (Burung Kayu, 2023: 74-75)

Tokoh yang berperan sebagai istri dari Saengrekerei adalah Taksilitoni, seorang perempuan janda yang memiliki tekad kuat, rela berkorban dan begitu mencintai sang suami, ia rela tetap tinggal di uma mendiang suaminya dan menikah dengan Saengrekerei sesuai dengan adat yang ada. Penjelasan tersebut sesuai dengan kutipan berikut.

Sebagai ibu yang menunggu, apa pun akan dilakukan Bai Legeumanai sampai waktu yang purna itu tiba. Sekalipun, setelah masa berkabung ini usai, ia mesti rela jika uma mendiang suaminya mengharuskannya menikahi salah satu adik ipar yang masih membujang. Segalanya demi menjaga warisan anak lelakinya, juga menjaga dendam turunan atas kematian suaminya.(Burung Kayu, 2023: 68-69)

Legeumanai, tokoh yang berperan sebagai putra dari Taksilitoni yang memiliki sikap penurut, rajin dan pandai. Tokoh Legeumanai juga mengalami gejolak batin akibat adanya tekanan dari budaya modern. Pemaparan tersebut selaras dengan kutipan berikut.

Ia pun belajar membaca-menulis-menghitung dan sesekali menyanyi. Dari kelas yang sat uke kelas selanjutnya, dari guru yang sat uke guru lainnya. (Burung Kayu, 2023: 142)

Apalagi, kemudian, di Tanah Tepi, setelah mendaku diri sebagai seorang Minang belaka, Legeumanai marasa diuntungkan. Ia tak lagi dianggap sebagai seorang terbelakang, tertinggal, atau bahkan tak beragama.(Burung Kayu, 2023: 145)

Dalam novel ini juga didukung oleh berbagai tokoh seperti tokoh Aman Legeumanai yang merupakan suami Taksilitoni yang telah meninggal, Guru Baha’I seorang tokoh agama, Effendi, putra Guru Baha’I dan Maria Saroro. Dalam merangkai berbagai peristiwa, novel ini menggunakan alur campuran, hal ini dapat dilihat dari banyaknya flashback dalam cerita seperti pada saat menceritakan asal-usul perselisihan antara Suku Sura Boblo dan Suku Tunggul Kelapa. Dengan penggunaan alur campuran tersebut, pembaca tentunya diajak untuk fokus dalam membaca setiap halamannya.

Penggunaan tema yang begitu terikat dengan kebudayaan Mentawai dapat memberikan gambaran bahwa latar tempat yang digunakan pada novel ini kebanyakan berlatar di hutan. Latar hutan, lembah, dan sungai merepresentasikan kehidupan suku Mentawai yang tidak dapat terpisah dari alam yang ditunjukkan pada kutipan berikut.

Di Lembah yang kadang berubah menjadi danau itu, batang-batang sagu yang tegak-menjulang adalah ibu yang setia menunggu. Seperti kumbang sagu setia menunggu tamara, si ulat sagu, menggulung diri demi menjelma kumbang baru. Sementara batang-batang sungai yang meliuk-berkelokan di sekujur lembah adalah ayah yang tak menunggu, tapi setia melarungkan segala duka segala lara, menghanyutkan apa saja.(Burung Kayu, 2023: 5)

Sampan-sampan kayu itu, dengan beban masing-masing yang hampir sama, dikayuh-didayung uda orang di haluan dan di buritan. Pelan-pelan melaju beriringan memasuki mulut sungai. (Burung Kayu, 2023: 87)

Seiring dengan berjalannya alur dalam cerita, novel ini tak hanya menggambarkan kehidupan di hutan saja, tetapi ditampilkan juga kehidupan beberapa masyarakat Mentawai yang mencoba berpindah hidup di barasi, desa buatan pemerintah.

Di dusun yang baru, di barasi, mereka benar-benar tercerabut dari uma yang melindungi. (Burung Kayu, 2023:71)

Di barasi ini, mungkin juga di barasi lain di lembah lain sebagian besar penghuninya tak memiliki lagi saudara sesuku se-uma. (Burung Kayu, 2023:72)

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi (Munandar, 2022: 6).

Berbagai unsur kebudayaan tertuang dalam untaian kalimat yang begitu membuka wawasan pembaca. Budaya-budaya yang tergambar dalam novel ini dapat dilihat pada saat membuka halaman pertama, saat membuka halaman pertama, pembaca akan disuguhkan dengan penggambaran sebuah tarian muturuk yang dilakukan oleh para sikerei, tarian muturuk merupakan tarian adat/ritual sesembahan untuk nenek moyang.

Ritual muturuk juga digunakan sebagai ritual pengukuhan seorang sikerei muda. Penggambaran ini menunjukkan betapa kentalnya budaya dan ritual yang masih dianut oleh masyarakat tradisional Suku Mentawai yang dapat dilihat pada kutipan berikut.

Sikerei muda itu menari bersama roh para leluhur yang telah diundang-dipikat tujuh sikerei tua dengan semahan telinga kiri seekor babi. Ia menari dan menari, kakinya mengentak-entak lantai, tangannya merentang tegang. Pukulan-pikulan pada gajeumak yang bagian kulitnya mesti dipanaskan berkali-kali di dekat api meningkahi setiap gerak-lakunya merentak. Tato di sekujur tubuhnya berkilap-kilap diterpa cahaya lampu minyak. (Burung Kayu, 2023: 1)

Suku Mentawai memiliki agama dan kepercayaan sendiri yang dianut suku asli masyarakat Mentawai, yaitu Sabulungan. Mereka percaya bahwa benda memiliki roh dan jiwa. Jika roh tidak dirawat dengan baik, maka roh tersebut akan bergentayangan dan menyebabkan kesialan maupun munculnya penyakit (Daniswari, 1 September, 2022). Adanya kepercayaan yang dianut, dalam ritual murutuk banyak benda-benda yang digunakan oleh sikerei untuk melaksanakan ritual sakral ini.

Baca Juga :  Di dalam Kaleng: Sindiran Tajam Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan

Adapun tradisi pako’ yang dipaparkan pada sub-bab Umat Simagere menjelaskan bahwa ritual pako’ merupakan sarana yang digunakan sebagai ajang menunjukkan harga diri dan kehebatan. Melalui ritual ini, masyarakat suku Mentawai mencoba untuk menjaga dan mempertahankan harga diri mereka dihadapan uma yang lain.

Maka kini, dalam bentuk tuddukat dan gong yang menggema dari uma seberang, dalam bunyi pertaruhan-pertarungan harga diri dan wibawa sebuah uma yang mesti dibela, burung-enggang-kayu yang telah rampung di tangannya itu mesti ia persembahkan. (Burung Kayu, 2023: 22).

Dalam sebuah karya sastra, terutama novel tentunya unsur ekstrinsik merupakan bagian yang tak kalah penting. Unsur ekstrinsik menjadi alasan terciptanya sebuah karya sastra. Nurgiyantoro (2024) mengemukakan bahwa unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar teks sastra itu, tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangun atau sistem organisme teks sastra. Atau secara lebih khusus ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang memengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya.

Novel Burung Kayu tentunya memiliki unsur ekstrinsik yang menjadi pendukung terciptanya karya tersebut. Hal pertama yang mendasari pengarang menulis cerita ini yaitu adanya ketertarikan terhadap budaya Mentawai seperti ujaran dari Niduparas Erlang berikut.

“Sudah lama saya tertarik dengan masyarakat Mentawai beserta segala adat istiadat dan persoalannya, baik sebagai akademisi tradisi lisan maupun sebagai penulis fiksi. Berbagai referensi bacaan terkait itu saya kumpulkan bertahun-tahun. Namun, jalan untuk menuliskannya dalam bentuk fiksi baru terbuka pada 2018 lalu. Saya memperoleh kesempatan residensi dari Koimte Buku Nasional dan memilih Mentawai sebagai tujuan. Di sana saya bermukim selama dua bulan, mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Mentawai.” Tutur Niduparas Erlang (Sonia, 12 Agustus, 2020)

Novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang merupakan novel yang menangkat isu kehidupan masyarakat Mentawai yang diwarnai dengan berbagai tradisi leluhur dan kehidupan yang bergantung pada alam. Pada analisis novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang kali ini sangat tepat jika dilakukan dengan pendekatan teori ekokritik dimana teori ekokritik menggambarkan bahwa budaya, alam, dan manusia saling terikat dan mempengaruhi. Howarth (Zulfa, 2021) teori ekokritik sastra dapat diartikan sebagai teori yang mengkaji relasi antara mahluk hidup dan alam, dalam penerapannya pun ekokritik sastra biasanya fokus pada bagaimana alam digambarkan pada suatu karya sastra. Juliasih (Larasati, 2022) mengemukakan bahwa analisis ekokritik bersifat interdisipliner yang menyentuh juga ilmu lain seperti sastra, budaya, filsafat, sosiologi, psikologi, sejarah lingkungan politik, ekonomi, dan studi keagamaan. Sastra dan alam adalah dua elemen yang saling terikat. Sastra membutuhkan alam sebagai sumber inspirasi dan alam membutuhkan sastra sebagai media untuk melestarikan hingga masa nanti.

Menilik Keunggulan dan Kelemahan

Ketika melihat sampul dan judul Novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang, terbayang sudah bahwa novel ini akan banyak bercerita dengan latar alam yang ternyata semakin menarik perhatian dengan alur cerita di dalamnya. Begitu memasuki halaman awal cerita, langsung dibuka dengan mendeskripsikan sebuah pesta Suku Mentawai yang sangat jelas, diwakilkan pada kutipan berikut.

Sikerei muda aitu menari bersama roh para leluhur yang telah diundang-dipikat tujuh sikerei tua dengan semahan telinga kiri seekor babi. Ia menari dan menari, kakinya mengentak-entak lantai, tangannya merentang tegang. (Burung Kayu, 2023:1).

Penggambaran perjalanan hidup Saengrekerei juga menarik, ketika ia gagal menikah dengan gadis dari keluarga Babuisiboje kemudian ia harus menikah dengan Taksilitoni, kakak iparnya sendiri dan tinggal di barasi bersama istri dan anaknya menunjukkan alur yang menarik. Latar tempat pada novel ini juga sangat detail sehingga pembaca dapat dengan mudah mengetahui latar tempat cerita, hal ini ditunjukkan pada beberapa kutipan berikut.

Di dusun yang baru, di barasi, mereka benar-benar tercerabut dari uma yang melindungi.(Burung Kayu, 2023: 71).

Malam di Lembah memang begitu gelap dan lembap. Namun, Taksilitoni yang belum juga pulas tertidur, mulai berpikir untuk mengendap dan menyelinap keluar, menyalakan obor, dab bersijingkat menuju uma si lelaki bujuang. (Burung Kayu, 2023: 48).

Novel Burung Kayu begitu menggambarkan budaya yang memiliki keterikatan kental antara roh leluhur dan alam semesta. Kehidupan Masyarakat Mentawai yang jarang diketahui mampu terekspos secara jelas pada novel ini dengan penjabaran rinci serta pemilihan diksi yang semakin menyempurnakan setiap kisah di dalamnya. Hal tersebut mampu membuat pembaca berimajinasi dan membayangkan suasana serta aktivitas yang terjadi. Setiap bagian dari novel ini berisikan pengetahuan baru terkait suku Mentawai, novel ini tentunya sangat cocok dibaca bagi mereka yang ingin meneliti sebuah budaya di Indonesia.

Setelah membaca novel Burung Kayu, ada beberapa hal terlintas pada benak saya yaitu novel ini memiliki alur yang cukup berbelit-belit, penulis banyak menggunakan bahasa Suku Mentawai seperti “uma, sasareu, sikerei, manyang, dan sirimanua” pada kutipan berikut.

Tak ada sirimanua lain yang menari selain selain sikerei muda itu sendiri dan roh para leluhur yang terlibat dalam keriangan pesta dan tari-tarian persembahan. (Burung Kayu, 2023: 3)

Setelah tinggal beberapa bulan di pengasingan, adik lelaki Baumanai yang lain ingin kembali ke Simatalu, ke uma lama leluhur. (Burung Kayu, 2023: 33)

Baca Juga :  Segala Tentang Perempuan Dalam Novel Aib dan Nasib Karya Minanto

Usai paruru’ malam itu, beberapa anggota keluarga Baumanai dan keluarga batih adiknya kembali ke Simatalu. (Burung Kayu, 2023: 33)

Sebagian lainnya memilih menerima tawaran-tawaran dan pembaruan yang datang dari dunia luar, dari sasareu, yang mungkin menguntungkan. (Burung Kayu, 2023:7)

Penggunaan kosakata yang masih terdengar asing ini dibiarkan oleh penulis apa adanya, penulis tidak menambahkan catatan kaki untuk memberikan informasi terkait bahasa tersebut. Hal ini cukup menyulitkan pembaca ketika mereka belum mengetahui bahasa daerah Suku Mentawai dan akan cukup membuat kebingungan dalam memahami alur ceritanya. Meskipun demikian, secara tidak langsung penulis mengajak kita untuk mencari tahu sendiri lebih dalam terkait bahasa untuk semakin mengenal suku Mentawai dan melestarikan budaya di Indonesia.

Menilik kembali novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang yang mengangkat isu sosial terkait kebudayaan dan isu sosial, ia begitu luar biasa dalam menyusun untaian kalimat demi kalimat untuk menyampaikan penggambaran yang sedemikian rupa. Latar alam yang ditinggali oleh masyarakat suku Mentawai tersirat begitu jelas dan tampil sebagai elemen yang mendampingi kehidupan sehari-hari para tokoh, hutan, lembah, dan sungai ia tuliskan secara terang.

Malam di Lembah memang begitu gelap dan lembap. Namun, Taksilitoni yang belum juga pulas tertidur, mulai berpikir untuk mengendap dan menyelinap keluar, menyalakan obor, dan bersijingkat menuju uma si lelaki bujuang. (Burung Kayu, 2023: 48)

Suasana sakral dan mistis yang digambarkan melalui narasi penulis mampu dirasakan secara nyata bagi pembaca dengan penjelasan detail dari ritual yang dilakukan seperti ritual muturuk yang dilakukan sebagai bentuk pengukuhan sikerei.

Sikerei muda itu menari bersama roh para leluhur yang telah diundang-dipikat tujuh sikerei tua dengan semahan telinga kiri seekor babi. Ia menari dan menari, kakinya mengentak-entak lantai, tangannya merentang tegang. Pukulan-pikulan pada gajeumak yang bagian kulitnya mesti dipanaskan berkali-kali di dekat api meningkahi setiap gerak-lakunya merentak. Tato di sekujur tubuhnya berkilap-kilap diterpa cahaya lampu minyak. (Burung Kayu, 2023: 1)

Alur yang digunakan dalam novel memberikan kesan lambat namun mampu memaknai perubahan waktu. Penjelasan peristiwa pada setiap paragrafnya secara detail memberikan ruang bagi pembaca untuk mencerna terlebih dahulu sebelum lanjut pada peristiwa berikutnya. Gaya tutur yang digunakan dalam narasi ini dipengaruhi oleh dialog masyarakat Mentawai sehingga sering kali menggunakan bahasa Mentawai dalam menulis alur cerita. Novel ini sengaja tidak diberikan catatan kaki ataupun makna dari bahasa Mentawai yang digunakan.

Barangkali, kelak, saudara-saudaranya yang masih bertahan di hulu dapat kembali memukul tuddukat dan gong sembari menari-menyanyi-mengejek uma seberang Sungai, “Oi, lihat kami. Anak kami Legeumanai sudah kami sekolahkan ke Tanah Tepi.”(Burung Kayu, 2023: 120)

Sehingga secara keseluruhan, novel ini menyampaikan narasinya secara efektif, terutama dalam memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada pembaca. Keefektifan ini nampak pada keberhasilan narasi dalam menyampaian keseluruhan cerita mulai dari gejolak batin, realitas budaya, dan pergulatan antara mempertahankan tradisi atau menerima perubahan dari program pemerintah. Novel Burung kayu berhasils menjadi jembatan dalam membuka jendela pengetahuan terkait budaya suku pedalaman Mentawai kepada khalayak umum.

Novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang tentunya memiliki dampak yang cukup penting pada sektor budaya, terlebih dalam merepresentasikan budaya tradisional suku pedalaman Mentawai. Dengan menjadikan suku Mentawai sebagai latar tempat dan pusat dari keseluruhan cerita, novel ini mampu mengangkat budaya tradisional yang belum banyak diketahui orang akibat merebaknya budaya modern yang mulai masuk. Novel ini merekam berbagai informasi terkait kepercayaan, ada istiadat, ritual, dan pola hidup masyarakat Mentawai sehingga bergitu berarti dalam menjaga budaya tradisional di era globalisasi yang dapat mengikis budaya lokal. Novel Burung Kayu mampu menginspirasi masyarakat terkait cara pandang terhadap budaya lokal ketika dihadapkan dengan pergulatan program pemerintah, melalui tokoh-tokoh yang digambarkan mengalami konflik mulai dari permusuhan antar-suku, tradisi, dan krisis identitas. Tak berbeda jauh dengan novel yang mengangkat isu serupa seperti novel Segala Yang Diisap Langit karya Pinto Anugrah menyoroti budaya Minangkabau yang digambarkan dengan tokoh Rabiah yang dihadapkan pada tekanan budaya dan peran keluarga. Keduanya sama-sama mengangkat budaya lokal dengan memperlihatkan bagaimana sastra mampu menjadi media dalam mengekspos identitas dan budaya-budaya lokal di Indonesia.

Dengan mengangkat tema kebudayaan suatu suku, novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang ini mampu membuka pandangan pembaca terhadap pola perilaku dan kehidupan masyarakat Mentawai yang telah digambarkan secara rinci. Berbagai peristiwa dihadirkan begitu realistis seperti penggambaran ritual yang sakral dan mendalam. Melalui novel ini, penulis mampu menggambarkan suku Mentawai yang bukan hanya sebagai daerah di dalam sebuah peta geografis, namun juga hidup dengan rupa-rupa budaya di dalamnya. Konflik yang diangkat juga sangat relevan mengingkat di era globalisasi ini banyak budaya modern yang hadir, jika tidak disikapi dengan bijak akan merusak budaya lokal yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Novel ini mampu membuka ruang untuk memberikan tempat bagi suku pedalaman yang semakin hari semakin terpinggirkan untuk terekspos. Novel ini bukan hanya sekadar narasi semata, melainkan sebagai refleksi diri bagi pembaca. Berbagai tradisi yang ada di dalam suku Mentawai dipaparkan begitu jelas. Novel ini seakan mengajak pembaca untuk ikut serta menjaga ragam kebudayaan di Indonesia dengan menuangkannya dalam untaian kalimat sehingga abadi dan tak pudar oleh waktu.

*Mahsiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa, Seni, dan BudayaU niversitas Negeri Yogyakarta

Berita Terkait

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta
Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol
Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme
PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756
Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep
Alternatif Pengganti Kendaraan Pribadi
Sumpah Pemuda yang Sudah “Menua”
Refleksi Hari Santri Nasional 2025

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 11:05 WIB

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta

Jumat, 28 November 2025 - 18:24 WIB

Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol

Selasa, 11 November 2025 - 16:22 WIB

Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme

Sabtu, 1 November 2025 - 14:32 WIB

PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756

Jumat, 31 Oktober 2025 - 01:14 WIB

Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep

Berita Terbaru

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menabur bunga saat ziara ke Makam Bung Karno, Minggu, 29/3/2026 (Foto: Istimewa)

Nasional

Dalam Suasana Lebaran, Ketum PDIP Ziarah ke Makam Bung Karno

Senin, 30 Mar 2026 - 15:24 WIB

Ketua Komisi III DPRD Sumenep Komitmen Kawal DAK 2026 (Foto: Humas DPRD Sumenep)

Daerah

Ketua Komisi III DPRD Sumenep Komitmen Kawal DAK 2026

Jumat, 27 Mar 2026 - 13:19 WIB

Bupati Sumenep Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo (foto: Ist)

Daerah

Terapkan WFH, Bupati Sumenep Jamin Pelayanan Tetap Optimal

Jumat, 27 Mar 2026 - 00:15 WIB