Di stasiun Kereta
Di stasiun kereta
Terlukis rel dalam mata
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada anak kecil hilang permata
Duduk santai bersama botol tolol
Tak ada alas kaki
baju bolong-bolong
Semua pergi termasuk selebriti anti bakteri
Di balik
Tidur beralas kardus
Berbantal sunyi di gang-gang kecil
Berselimut dingin
Lelah, tapi mau gimana lagi
Apalagi dalam hujan air mata
Ada bungkam
Annuqayah, 24
Di atas Kasur dan Tutup Pintu Rumah
Dibalik hasil para pemikir
Otak-otak tak mampu
Meski bahagia yang luar biasa bagi saudara
Namun pengembara bahagia sederhana semakin pudar
Pelan-pelan berserakan dipinggir dan tengah jalan
Oh tuan yang terhormat
Harap terpikir sampah yang semakin menumpuk
Di atas kasur dan tutup pintu rumah
Kadang sampai hilang perintah
Lantas siapa yang pantas disalahkan
Para pemikir?
Ataukah otak kecil yang tak mampu?
Annuqayah, 24
Teman-teman Para Tuan
Putar begitu cepat, sambil bercerita anak kecil
Yang hidup sangat redup, di setiap hari hanya bisa;
Menghitung injak kaki, jalan-jalan pincang
Yang menjelma kursi hidup dengan putaran roda, saksi lapar terdengar
Di bawah tol orang-orang bertahan pada pikir, kira-kira begitu
Masih terlihat dalam lekuk mata-mata hati mereka
Bahwa ada mimpi yang begitu tinggi
Namun terlupakan dengan harus
Terhipnotis jam gelap terpejam
Kali ini sampah-sampah masih berserakan, kata mereka
Kata mereka salah tangan sebab tak pikir
Ingat, tak sadar, teman malam kau para tuan
Annuqayah, 24
Tentang Kau
Kali ini, aku menulis sajak tentang kau di bawah atap, yang di dalamnya ada ruang khusus untuk merakit indah, dan itu akan sempurna bila jam itu menunjuk kau jadi pembangun di setiap lelap menyusuri gang-gang berlumpur
Sajak-sajak ini di mulai, lalu ikutilah kau menulis kertas kosong baris juang, tulislah sampai kau tumui yang telah di ceritakan di bawah bulan-bulan tengah jalan serta gambarlah peristiwa, kau tahu
Saat sajak ini hampir selesai, sambutlah aku, kau akan aku selipkan dalam lemari hati rapat-rapat sampai kau tak dapat nafas: sebab terlalu panas
“Kau, sungguh demi air mata di dalam doa, kau dimana-mana, ketika terlelap kau menyapa dalam mimpi, ketika terbangun kau bersila dalam pikir hati, apa lagi bisa sengaja, itulah semua tentang kau” Kata kau
Bila semua telah selesai, jangan kau tanyakan “Apakah telah usai? kau ingat, ini hanyalah baris demi baris sajak yang itu tentang kau, tetaplah tersenyum seperti hari lalu. Terakhir bukan akhir, percayalah, ada manis selain pemanis
Jelas sakit, tapi sementara, penjumlah, termasuk mata kaki
Annuqayah, 24
Abdurrahman ZN nama pena dari Abdurrahman As shawi lahir pada tanggal 07 Mei 2001 di desa Candi, dan merupaka alumni PP. Nasy’atul Muta’allimin. Proses menulis sejak bergabung dalam komunitas Penyisir Sastra Iksabad (PERSI), kuliah di INSTKA (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah) Jurusan Tasawuf & Psikoterapi (TP). Sekarang bermukim di PP. Annuqayah Lubangsa. Sebagian karyanya sudah dimuat di media cetak maupun online. Bisa di hubungi melalui, Fb: Abdurrahman As shawi, IG: Abdurrahman As shawi









