Puisi-puisi Safari Maulidi

Redaksi Nolesa

Senin, 16 Oktober 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Awan Terakhir Musim Semi

Tak mengapa

Kutelan kecewa dan lukaku ini

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak mengapa

Demikian pula

Suaramu yang berceceran di halamanku

Ku sapu setulus hati

Dan jejakmu

Ku tutupi dengan sisa rasaku padamu

Setelah hujan mengering

Aku sudah selesai berkemas

Untuk pergi menemui cuaca baru

Lagian musimmu sudah berakhir di tempatku

Dan akan ada musim baru yang memelukmu di kala musim dingin menerpa

Sedari awal akulah gerimis kecil

Yang mengganggu harimu

Yang kadang berserakan di waktu santaimu

Yang mau tak mau menjadikanmu kenal denganku

Sekarang ceritamu dan ceritaku telah usai

Ku harap kita menjadi sepasang bunga baru

Yang tak saling tahu menahu

2023

Dalam Hatiku Namamu tak Semegah Dulu Lagi

Dalam hatiku namamu tak semegah dulu lagi

Kabar bahagiamu tak semeriah dulu lagi

Bahkan kedatanganmu adalah kedatangan air ketika dahaga menggema

Dan hilang

Aku tidak menemukan hal – hal yang menjadikanmu lebih Baru dari luka

Serupa orang – orang yang tak heran

Kepada hari dan malam yang bergantian

Meskipun kamu tidak kembali

Aku akan tetap dalam jalanku yang sama

Setelah hari – hari terjeda

Baca Juga :  Itu Biasa

Mengapa kamu kembali

Bukankah sudah kau dapati

Seseorang yang telah kau sukai ?

Sejak awal kita hanyalah petualang

Yang hanya ingin mengenal

Bukan rembulan dan matahari yang saling melengkapi

Aku sudah tidak mendoakan namamu lagi

Bukan seperti waktu itu

Ketika hariku dipenuhi bau yang wangi

September 2023

Namamu Resmi sebagai Kenangan

Diam – diam aku memandang mu dari jauh

Dan sialnya

matamu selalu menemukanku

Bukankah semak belukar yang jadi penghalang begitu gelap dan senyap

Mengapa begitu ?

Kadang juga

Aku sering mengintip fotomu

Yang terpajang di sepanjang genggamku

Tapi mengapa begitu ?

Bukankah hatiku mengakui

Bahwa aku tak akan lagi merindukanmu ?

Hati begitu misteri

Ia rela melahap janji

Yang sudah terpahat abadi

Demi cinta yang tak pernah pasti

Gadis jendela

Seperti lalu – lalang orang di stasiun kereta

Pergi dan kembali

Di jendela kamarmu

Aku sering mengintip mu dari jalan sekitar rumahmu

Berharap akan ada rambut tergerai indah

Tangan halus melambai

Dan baju santai yang menutup

Hari bergantian

Waktu berjalan

Jendela mu tak lagi mengeluarkan gairah penasaran

Daun – daun yang mengetuk jendela

Berubah menjadi kelabu tua

Seperti usia senja

Baca Juga :  Puisi-puisi Maria Dominika Tyas Kinasih-Semarang

Seperti orang – orang di terminal

Lalu – lalang dan hilang

Di jendela kamarmu

Aku bayangan yang diterangi cahaya

Malang 2023

Gadis Kunang – kunang

Samar – samar

Langit menurunkan gerimis

Seperti kaki burung di reranting pohon

Menetes melewati atap berombak

Jari – jarimu mengibaskan Tetes kecil

Dengan gerak kecil pula

Perciknya mengenai wajahku

Kau tertawa kecil dan usil

Sementara aku berdecak kesal dan sebal

Sebab pakaian yang kupakai basah

“Apaan sih”, suaraku mengusik dirimu

Dan kamu tetap dalam kebiasaan yang baru kau temui itu

Tertawa kecil dan usil

“Sebentar lagi hari akan mengering, dan ia akan datang menjemputku dengan tenang”

Ucapmu dengan mendung

Aku tidak mengetahui bahwa tanganmu telah menggenggam telapak yang dekat denganmu sementara asing denganku

Samar – samar badai bergemuruh di dadaku

Menelan segala harap yang hinggap di namamu

Begitupun matahari

Tiba – tiba menjadi senja dan tiada

Malang 2023

Yang tak Pernah Hilang di Matamu

Semula adalah bunga wangi

Menebar ke segala arah

Menjadi sungai indah

Melebar ke ruas – ruas bumi

Kemudian kabar angin

Dari rimba kecil

Di laci mejamu

Yang tersimpan rapi di masalalu

Baca Juga :  Puisi-Puisi Andik Trio Widodo

Yang terpahat nyaris abadi

Ia berbisik

“Ini aku, adakah rasamu berubah ?”

Dan kau tersenyum manis

Mendengar ia kembali meski tidak untuk menyatu lagi

Seperti lampu

Cahayaku menjadi redup

Tenggelam pada dasar yang gelap

Hitam dan pekat

Dan segalanya tampak kelabu

Segalanya tampak kelabu

2023

Kalimat Maaf untuk Peri Tionghoa

Dik, sebelum malammu menggelap

Dan cahaya lampu di kamarmu mati

Aku ingin berkata “maaf”

Maaf telah menjadikanmu serupa botol plastik

Maaf telah menjadikanmu jendela darurat

Maaf telah menjadikanmu hangat kopi yang sesaat

Ada yang mesti kau tau

Bahwa yang tersisa dari suaramu

Adalah kasih ibu melihat anak – anak tak dapat menyamakan diri dengan yang lain

Bahwa rasa kesal dan bebal

Mengelus pelan di hati ini

Dan ketika suaramu hinggap di tangan yang lain

Ku dengar sesosok gadis berwajah peri

Menggelinding dalam gerimis di pipi

Dik, ku katakan kepadamu “maaf” untuk berkali – kali

Malang, 2023


Safari Maulidi: Alumni Pondok Pesantren Annuqayah. Berasal dari desa Guluk – Guluk barat, Sumenep Madura. Lahir di Pamekasan, dan tumbuh di Sumenep. Penyuka sastra yang sedang belajar berkarya. Sedang kuliah di universitas

Berita Terkait

Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Khalil Satta Èlman
Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen
Puisi-puisi Ilham Wiji Pradana

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 15:24 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Senin, 22 Desember 2025 - 12:29 WIB

Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa

Selasa, 16 Desember 2025 - 18:18 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 29 November 2025 - 11:42 WIB

Puisi-puisi Ahmad Rizal

Sabtu, 27 September 2025 - 11:19 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Berita Terbaru

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya (Foto: Istimewa)

Nasional

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya

Selasa, 28 Apr 2026 - 21:26 WIB

(for NOLESA.COM)

Puisi

Puisi-puisi Nihalun Nada

Minggu, 26 Apr 2026 - 15:24 WIB