Puisi-puisi Dhimas Bima Shofyanto

Redaksi Nolesa

Selasa, 8 Agustus 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Memakan Matahari

dini hari kau menjaring langit

keratan matahari beserta lanskap

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

kau jejalkan ke dalam tustel

awan merah luber yang mengambang

seketika terpecah menjadi gelombang

sehingga bubuk-bubuk bercahaya

berebut menyesaki rongga dadamu

katamu, “jangan singgung orang-orang

yang akan kesepian karna matahari

telah kumakan,”

kataku matahari belum hilang

meski sudah ada dalam ragamu

matahari adalah cahaya yang dengan

senang hati memberikan kehidupan:

“bukankah ruh-ruh itu ditiupkan olehmu?”

2023

 

Siapa yang Tiba-tiba Saja Lapang

Siapa yang tiba-tiba saja lapang merelakan pupil matanya dihanguskan lempengan kaca yang selama dua puluh empat jam lebih satu detik dipandangnya tiada henti tanpa mengganti apa yang tersaji selain sorot lentik mata lambaian angin berpadu sunggingan wajah yang dapat mengundang sekeluarga semut berziarah dan ikut tenggelam dalam keabaian akan diri selagi terus mencoba menundukkan paksa keabadian yang tak seharusnya dapat dipaksa bahkan oleh apa-apa dan siapa saja selain oleh keindahan dari garis pipi pencipta perasaan membuncah yang dapat memporak-porandakkan sorga?

Baca Juga :  Begadang

2023

Lekuk Kecil

saat matahari terpeleset jatuh

dibedil bocah lima taun

yang bayang layangannya terhalangi

Baca Juga :  Itu Biasa

cahaya semerta-merta mengapung

biru keabu-abuan tanpa tetes darah

keramaian yang tersedak pada merah

terbata-bata menundukkan takzim wajah,

“lekuk kecil pada pipinya telah direlakan

berganti posisi dengan matahari!”

langit kemudian memiliki lekukan bercahaya

yang begitu riang berpendar-pendar

gelayut awan yang meleleh karena kilau

pelan-pelan bermetamorfosa menjadi kaca

bersijingkat memintal bahagia yang sebentar

2023

Ibu Adalah Abadi

wajah ibu tak akan pernah berkerut

yang berkerut adalah waktu

yang mencoba mengerutkan wajah ibu

ibu sebenarnya memang tak ingin abadi

namun perdebatan malaikat di kaki-kaki langit

bersahutan mengobrak-abrik bumi

ibu jadi bersujud kepada barat

Baca Juga :  Menakuk Hiruk Pikuk

mencoba memohon agar segera

bersanding dengan tiang-tiang Arsy

semua tau doa ibu adalah tanda seru

yang dapat mementung awan

sehingga berlubang di sana-sini

namun ibu tetap damai dikerangkeng nafas

usapan pelan tangannya pada kepala

berbuah jutaan tetes malaikat

yang pada tiap jengkal mulutnya

tersumpal sekelumit doa

yang lebih nyaring dari apa-apa saja

2023


Dhimas Bima Shofyanto lahir di Jombang, 12 November 2002. Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dapat dihubungi melalui instagram @bimaaseena. Bisa disapa di Instagram : @bimaaseena atau Twitter : @bimaaseena

Berita Terkait

Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa
Puisi-puisi Amanda Amalia Putri
Puisi-puisi Ahmad Rizal
Puisi-puisi Nihalun Nada
Puisi-puisi Khalil Satta Èlman
Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen
Puisi-puisi Ilham Wiji Pradana

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 15:24 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Senin, 22 Desember 2025 - 12:29 WIB

Puisi-puisi Adzkia Fahdila Khairunisa

Selasa, 16 Desember 2025 - 18:18 WIB

Puisi-puisi Amanda Amalia Putri

Sabtu, 29 November 2025 - 11:42 WIB

Puisi-puisi Ahmad Rizal

Sabtu, 27 September 2025 - 11:19 WIB

Puisi-puisi Nihalun Nada

Berita Terbaru

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya (Foto: Istimewa)

Nasional

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya

Selasa, 28 Apr 2026 - 21:26 WIB

(for NOLESA.COM)

Puisi

Puisi-puisi Nihalun Nada

Minggu, 26 Apr 2026 - 15:24 WIB