Pathological Lying

Abd. Kadir

Senin, 26 Juni 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Istilah pathological lying ini memang jarang didengar. Tak banyak yang paham dengan istilah ini. Saya pun baru beberapa hari ini mencoba belajar dan membaca literatur yang berkaitan dengan pathological lying. Orang yang mengalami pathological lying ini disebut pathological liar.

Mengapa saya belajar tentang pathological lying ini? Awalnya saya mendengarkan cerita anak saya bahwa dia punya teman yang ketika berbicara selalu di luar nalar akal sehat seseorang. Sepertinya, hampir semua cerita temannya itu sulit diterima dengan nalar sehat. Mengapa demikian, karena ‘kebohongan’ yang dibangun itu tidak disesuaikan dengan ‘kadar kebohongannya’. Karena tidak sesuai dengan kadar kebohongannya, maka kecenderungan untuk tidak dipercayai itu sangatlah kuat.

Nah, dari sini, teman anak saya ini sepertinya tidak merasa bahwa apa yang diceritakan sudah diketahui irasionalitasnya, dan tidak mendapatkan simpati apalagi kepercayaan dari orang yang mendengarkan ceritanya. Bahkan kata anak saya, apa yang diceritakannya sering menjadi bahan obrolan yang sebenarnya secara substansi untuk membuly temannya yang bercerita itu. Parahnya, temannya itu belum paham dam tidak pernah merasa bahwa dia hanya menjadi objek ‘penderita’. Seolah-olah mereka yang mendengarkan adalah orang-orang yang simpati dan memberikan sanjungan atas segala cerita irasional yang dibangunnya.

Mendengar cerita anak saya ini, saya kemudian mencoba membuka wawasan, mencari literatur yang berkaitan dengan kebohongan model ini. Ternyata ada banyak istilah yang terkait dengan kebohongan ini. Saya mencermati setidaknya ada dua hal: mytomania dan pathological lying yang bisa dikategorikan penyakit kebohongan pada seseorang. Bisa jadi, dua kategori di atas diawali dengan maladaptive daydreaming.

Maladaptive daydreaming atau berkhayal maladaptif adalah sejenis ‘gangguan’ berkhayal. Ketika hanya berkhayal dalam batas kewajaran, itu sah-sah saja. Sebagaimana penelitian yang dilakukan Harvard University tahun 2010, bahwa 47 % waktu seseorang dihabiskan untuk berkhayal.

Tetapi, berkhayal maladaptif ini sudah di atas kewajaran. Relitas Ini sudah masuk pada konteks ‘gangguan’ berkhayal. Berbeda dengan berkhayal biasanya, berkhayal maladaptif ini terasa sangat intens, jelas, dan kaya akan detail, sehingga akan menjadi cukup berbahaya dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Mengapa berbahaya dan mengganggu? Karena seseorang yang mengalami berkhayal maladaptif biasanya menghabiskan waktu hingga berjam-jam hanya untuk berkhayal di dunia fantasi mereka. Hal ini tentunya mengganggu fungsi kehidupan mereka sehari-hari karena waktu yang mereka pergunakan untuk hal-hal yang lebih produktif dipergunakan untuk berkhayal. Selain itu, mereka juga tidak mampu mengontrol diri mereka untuk berhenti berkhayal sehingga menjadi kecanduan. Kecanduan seperti ini akan cenderung membawa seseorang pada kebohongan. Bahwa apa yang dikhayalkan itu, ketika disampaikan kepada kepada orang lain, biasanya akan cenderung menjelma kebohogan.

Baca Juga :  Awas Politik Identitas!

Dalam konteks demikian, maka fase yang akan dialami seseorang itu akan masuk pada mythomania. Mythomania merupakan keadaan seseorang yang sering bohong dalam jangka waktu yang lama dan terus dilakukan meskipun tidak ada maksud untuk mendapatkan keuntungan pada setiap kebohongan yang disampaikan. Pada tahap mythomania, tidak jarang orang tersebut akan mempercayai kebohongannya sendiri dan tidak dapat membedakan mana kebohongan, mana kenyataan. Penyebab mythomania cukup beragam, salah satu alasannya adalah faktor psikologis pengidap. Biasanya, orang yang memiliki mythomania pernah memiliki pengalaman kegagalan atau pengalaman yang kurang baik dari kenyataan yang pernah ada misalnya kegagalan dalam keluarga, kegagalan dalam studi, atau pekerjaan.

Dengan membuat kebohongan, pengidap mythomania merasa dapat melarikan diri dari kenyataan. Biasanya, pengidap mythomania akan berfantasi saat ia melakukan kebohongan. Pengidap mythomania juga akan cenderung mengalami fase pathological lying, yakni bohong patologis.

Pathological lying dipahami sebagai kebiasaan berbohong yang terjadi secara alami layaknya bernapas yang dilakukan setiap detik selama masih bernyawa. Pada fase kebohongan patologi ini, kecenderungan seseorang biasanya ditandai dengan adanya pola perilaku berbohong secara berlebihan, yang dilakukan dengan gigih dan kompulsif. Perilaku tersebut kemudian menjadi gaya hidup, dan mengarah pada gangguan dalam fungsi kesehariannya, baik dalam area sosial, area pekerjaan, area keluarga maupun area lainnya. Ciri utama kebohongan patologis ini adalah tidak memilikinya motivasi yang jelas akan tindakan berbohongnya, sehingga terjadi tanpa alasan yang jelas juga, dan tampaknya tidak menguntungkan individu itu sendiri.

Baca Juga :  Dikuasai AI: Krisis Kritis Mahasiswa

Nah, kembali pada apa yang dialami teman anak saya ini, saya hanya berpikir bahwa ada yang ‘tidak sedang baik-baik saja’ dengan psikologisnya. Kita yang masih ‘sehat’ perlu memahami gejala ini. Bahwa teman anak saya ini perlu bantuan untuk menyembuhkan ‘sakit’ psikologisnya, itu niscaya. Maka dalam konteks ini, sebenarnya dia perlu ada yang menuntunnya kembali ke ‘jalan yang benar’. Atau juga perlu bantuan psikolog maupun psikiater untuk mendiagnosisnya. Pada ranah ini, metode pengobatan pada pathological liar sejatinya berupa pemeriksaan oleh psikolog klinis atau psikiatris. Dengan ini, maka penanganan yang diberikan merupakan penanganan psikoterapi, meditasi, penanganan psikofarmakologi, dan obat-obatan untuk membantu mengobati secara perlahan. Ah, sepertinya sih begitu!

Berita Terkait

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Bohong Akut
Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah
Eksaminasi Parate Eksekusi atas Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Analisis Perlindungan Hukum terhadap Debitur
Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd
MBG dan Potensi Gesekan Ekonomi di Pondok Pesantren
Menyelamatkan Bahasa Madura dari Ejaan yang Kocar-kacir
Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 09:31 WIB

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Senin, 6 April 2026 - 15:50 WIB

Bohong Akut

Jumat, 6 Maret 2026 - 21:15 WIB

Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:28 WIB

Eksaminasi Parate Eksekusi atas Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Analisis Perlindungan Hukum terhadap Debitur

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:09 WIB

Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd

Berita Terbaru

Ketua DPD PDIP Jatim, Said Abdullah (Foto: Istimewa)

Politik

Said Abdullah Tegaskan Kedekatan PDIP Jatim dengan NU

Minggu, 12 Apr 2026 - 18:45 WIB

Bupati Sumenep Gencarkan Gerakan ASRI (Foto: Istimewa)

Daerah

Bupati Sumenep Gencarkan Gerakan ASRI

Jumat, 10 Apr 2026 - 11:14 WIB

Beri Contoh Hemat BBM, Bupati Sumenep Naik Becak (Foto: Istimewa)

Daerah

Beri Contoh Hemat BBM, Bupati Sumenep Naik Becak

Rabu, 8 Apr 2026 - 11:54 WIB