Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP

Redaksi Nolesa

Kamis, 22 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Bima Putra Haryashena S.H

OPINI, NOLESA.COM – Munculnya Pasal 100 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana memicu perdebatan publik. Pasal ini mengatur bahwa pidana mati dapat dijatuhkan dengan masa percobaan selama sepuluh tahun.

Jika terpidana menunjukkan “perbuatan terpuji”, pidana mati dapat diubah menjadi pidana seumur hidup. Formulasi ini menimbulkan persoalan serius, terutama terkait kepastian hukum dan potensi konflik kepentingan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masalah utama terletak pada konsep “perbuatan terpuji” yang tidak didefinisikan secara tegas. Ukuran moral ini sangat subjektif dan membuka ruang tafsir yang luas bagi penegak hukum, utamanya jaksa.

Masa uji coba sepuluh tahun juga tidak dapat dijadikan tolok ukur yang pasti untuk menilai perubahan sikap dan orientasi moral seseorang. Akibatnya, mekanisme ini justru menciptakan ruang yang besar bagi terjadinya conflict of interest antara aparat penegak hukum, penguasa, dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan terpidana.

Baca Juga :  Blangkon Pak Bupati

Dalam perspektif kriminologi dan teori konsistensi kultural, penerapan pidana mati cenderung memperoleh legitimasi sosial ketika ia ditempatkan sebagai pidana pokok yang tegas dan tidak bersyarat. Hal ini karena masyarakat membandingkan secara proporsional antara beratnya kejahatan dan beratnya sanksi.

Pada kejahatan yang bersifat luar biasa (extraordinary crime) seperti terorisme, pembunuhan berencana, peredaran narkotika, dan korupsi, pola kejahatannya sering kali sistematis, terstruktur, dan berdampak luas. Oleh karena itu, pidana mati tanpa pengecualian dipandang lebih sebanding dengan tingkat bahaya yang ditimbulkan.

Baca Juga :  Event dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Bima Putra Haryashena, S.H., Associate pada Kantor Hukum Jagradhira Law Firm, menegaskan bahwa: “Hadirnya persyaratan dan pengecualian dalam Pasal 100 UU No. 1/ 2023 membuka ruang inkonsistensi yang sangat besar serta menimbulkan potensi conflict of interest dalam penerapannya. Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip moralitas dan etika hukum.”

Pendapat tersebut menegaskan bahwa Pasal 100 secara substantif mengandung kontradiksi internal. Di satu sisi, pidana mati ditegaskan sebagai sanksi paling berat.

Namun di sisi lain, keberadaan syarat dan pengecualian justru mengaburkan sifat tegas tersebut. Akibatnya, kepastian hukum menjadi lemah dan mudah digeser oleh kepentingan non-yuridis.

Baca Juga :  Ujung Tanduk Bahasa Daerah di Era Globalisasi

Secara struktural, Indonesia juga belum sepenuhnya siap menerima paradigma hukum yang multitafsir dalam isu sepenting pidana mati. Kualitas sumber daya manusia dan budaya hukum yang masih rentan terhadap intervensi kepentingan menjadikan norma yang lentur berpotensi melahirkan penerapan hukum yang bias dan tidak adil.

Dengan demikian, Pasal 100 UU No. 1 Tahun 2023 dapat dinilai inkonsisten secara normatif dan problematis secara etik. Formulasi yang membuka ruang tafsir subjektif tidak hanya melemahkan kepastian hukum, tetapi juga mengancam integritas sistem peradilan pidana itu sendiri. (*)

*)Asscociate Jagradhira Law Firm

Berita Terkait

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global
Dialektika Pedagogis Hardiknas dan Harkitnas: Dua Mata Pisau yang Sinergis
Demi Konten, Etika Dikubur?
Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati
Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab
Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Bohong Akut
Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:58 WIB

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global

Jumat, 24 April 2026 - 08:07 WIB

Demi Konten, Etika Dikubur?

Selasa, 21 April 2026 - 21:04 WIB

Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati

Selasa, 21 April 2026 - 10:59 WIB

Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab

Senin, 13 April 2026 - 09:31 WIB

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB