Oleh | Mauliya Riyani
SOSOK, NOLESA.COM – Blora bukan kota yang ramai. Bukan kota yang namanya sering muncul di berita nasional, bukan pula kota yang orang-orang tuju ketika berbicara soal wisata atau kuliner viral.
Blora adalah kota yang tenang, kadang terasa terlalu tenang, dengan pohon-pohon jati yang berdiri tegak di pinggir jalan seolah menjadi satu-satunya saksi bisu dari segala yang pernah terjadi di sini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dan di kota yang tenang itulah, pada 6 Februari 1925, lahir seorang anak dari seorang guru dan seorang ibu pedagang nasi yang tangguh. Namanya Pramoedya Ananta Toer.
Tahu Namanya, Tidak Tahu Asalnya
Saya lahir dan besar di Blora. Tumbuh di antara orang-orang yang menyebut kota ini dengan nada setengah minder, seolah tinggal di sini adalah sebuah kebetulan yang kurang beruntung. Blora itu jauh. Blora itu panas. Blora itu sepi. Begitu yang sering saya dengar. Tapi tidak ada yang pernah bilang: Blora itu tempat lahirnya salah satu sastrawan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia.
Saya tahu nama Pramoedya bukan dari guru di sekolah. Bukan dari spanduk di alun-alun. Bukan dari obrolan orang tua di warung kopi. Saya tahu namanya dari buku yang kebetulan nyasar ke tangan saya, lalu dari sanalah dunia mulai terasa berbeda. Dan ketika saya mulai penasaran, mulai bertanya ke orang-orang sekitar, itulah pertama kali saya merasa ada yang janggal di kota ini.
Yang lebih tua, tetangga, kenalan orang tua, orang-orang yang sudah puluhan tahun tinggal di Blora banyak yang bahkan tidak kenal namanya. Wajah mereka datar ketika saya menyebut Pramoedya. Tidak kenal, tidak penasaran pula. Tetapi yang lebih muda sedikit berbeda.
“Pramoedya? Oh, yang nulis Bumi Manusia itu?”
Mereka tahu. Itu yang membuat saya lebih terkejut daripada kalau mereka tidak tahu sama sekali. Namanya tidak asing, ada yang pernah mendengarnya di bangku kuliah, ada yang tahu filmnya, ada yang bahkan pernah pegang bukunya. Tapi ketika saya bilang bahwa Pramoedya itu orang Blora, lahir dan besar di sini, di kota yang sekarang kita injak tanahnya, ekspresi mereka berubah.
“Loh, serius? Blora?”
Nada itu bukan nada tidak percaya terhadap Pramoedya. Itu nada tidak percaya terhadap Blora. Seolah kota ini terlalu kecil, terlalu sepi, terlalu biasa untuk menjadi asal seorang yang namanya diterjemahkan ke lebih dari empat puluh bahasa dan pernah disebut layak menerima Nobel Sastra.
Itu yang membuat saya berdiam lama. Bukan marah. Lebih ke sedih yang susah dijelaskan. Bukan kotanya yang tidak kenal orangnya tapi orangnya yang tidak mengira kotanya bisa melahirkan seseorang seperti itu.
Lelaki yang Menulis dengan Mulutnya
Pramoedya menulis dalam kondisi yang tak bisa dibayangkan oleh kebanyakan orang. Ditangkap tanpa pengadilan setelah peristiwa G30S 1965. Dibuang ke Pulau Buru selama lebih dari satu dekade. Di sana, ia dilarang menulis oleh pemerintah.
Namun ia tidak menyerah ia mendongengkan novel-novelnya kepada sesama tahanan agar karya itu tidak mati bersama keheningan pulau. Bumi Manusia lahir dari mulut seorang lelaki yang dipaksa diam, namun memilih tetap bersuara.
Dan ia melakukan semua itu sambil mengingat tanah kelahirannya di dalam dadanya. Dalam banyak tulisannya, Blora hadir. Bukan sekadar nama tempat, tapi ruh. Hutan jati yang mistis, kemiskinan yang menghimpit, perempuan-perempuan tangguh yang berjuang dalam diam itu semua adalah Blora yang ia kenal sejak kecil, Blora yang membentuk cara ia melihat dunia.
Namun Blora sendiri, bertahun-tahun kemudian, tidak tahu bahwa dunia itu miliknya juga.
Nama di Empat Puluh Bahasa, Asing di Rumahnya
Saya pernah melewati jalan menuju rumah masa kecilnya di Jetis. Bangunannya sederhana. Tidak ada keramaian di sana. Tidak ada antrean orang yang ingin berfoto atau berziarah. Jalanan di sekitarnya biasa saja, seperti bagian kota yang lain. Berbeda jauh dengan bagaimana dunia memperlakukan namanya.
Sementara mahasiswa sastra di Belanda membaca Bumi Manusia dalam terjemahan bahasa mereka, sementara pembaca di Jepang dan Amerika mencari karya-karyanya, di kota tempat ia pertama kali menghirup udara, banyak yang tahu namanya tapi tidak tahu ia pernah berjalan di jalan yang sama dengan kita.
Ada ironi yang menyakitkan di situ. Seorang lelaki yang menghabiskan hidupnya untuk menulis tentang harga diri manusia, tentang hak untuk dikenali dan dihormati, justru tidak cukup diakui sebagai bagian dari sini di kampung halamannya sendiri.
Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Mungkin ini soal pendidikan yang tidak menyentuh hal-hal seperti ini dengan cukup serius. Mungkin soal nama Pramoedya yang terlalu lama diasosiasikan dengan hal-hal yang “berbahaya” karena bukunya pernah dilarang beredar selama Orde Baru, dan stigma itu rupanya cukup kuat untuk membuat generasi demi generasi memilih tidak terlalu dalam menggali.
Tapi tetap saja. Tetap ada bagian dari diri saya yang merasa bahwa kita, orang Blora, sedang melewatkan sesuatu yang sangat besar. Kita punya alasan untuk bangga yang jarang kita sadari. Kita lahir dari tanah yang sama dengan seorang lelaki yang menulis dengan keberanian luar biasa. Yang membuktikan bahwa dari kota kecil yang panas dan sepi pun, suara manusia bisa bergema sampai ke ujung dunia.
Pramoedya pernah berkata bahwa seorang yang tidak membaca hanya hidup satu kehidupan. Tapi mungkin, sebelum membaca, kita perlu tahu dulu siapa yang menulis.
Dan untuk kita, orang Blora ia orang kita. Sudah waktunya kita tahu itu.
*) Mahasiswi aktif Pendidikan Geografi Universitas Sebelas Maret (UNS)









