Oleh | Ahmad Agil Saputro
OPINI, NOLESA.COM – Gunung kini bukan lagi sekadar tempat pelarian bagi mereka yang mencari ketenangan atau pencinta alam sejati. Sejak media sosial merajai keseharian kita, puncak-puncak gunung mendadak berubah fungsi menjadi latar belakang konten demi eksistensi digital.
Dari sinilah lahir tren baru yang akrab disebut Pendaki FOMO (Fear of Missing Out) orang-orang yang nekat mendaki gunung cuma karena takut ketinggalan tren dan lapar akan pengakuan di dunia maya. Sayangnya, ambisi berburu foto (selfie) estetik sering kali membutakan mata mereka dari satu hal paling krusial: keselamatan (safety).
Di lapangan, logika para pendaki FOMO ini sering kali bergeser demi sebuah kata bernama “konten”. Demi mendapatkan sudut foto yang dramatis dan panen likes, tidak sedikit dari mereka yang nekat melanggar aturan.
Mulai dari melewati tali pembatas, berdiri di bibir jurang yang rapuh, hingga memaksakan diri berswafoto di puncak saat cuaca buruk melanda. Parahnya lagi, kostum yang dipilih kadang lebih mementingkan aspek “modis” daripada fungsi.
Mengenakan pakaian tipis tanpa jaket windbreaker atau memakai sepatu kasual yang licin di medan terjal seolah menjadi hal biasa, asalkan terlihat keren saat masuk fyp ( for your page ) TikTok atau feed Instagram.
Fenomena “minim persiapan, maksimalkan gaya” ini jelas menjadi bom waktu. Banyak pendaki pemula meremehkan medan dengan modal nekat karena melihat orang lain di media sosial tampak mudah menaklukkannya.
Alhasil, mereka buta jalur, tidak paham manajemen logistik, dan mengabaikan kondisi fisik sendiri. Imbasnya tidak main-main; angka kecelakaan pendakian mulai dari hipotermia, tersesat, cedera, hingga korban jiwa terus melonjak.
Tugas Tim SAR dan petugas pos pendakian pun jadi berkali-kali lipat lebih berat hanya karena harus mengevakuasi pendaki yang ceroboh demi sebuah foto.
Sebenarnya, tidak ada yang melarang siapa pun untuk mengabadikan momen di atas gunung. Berbagi keindahan alam di media sosial adalah hal yang sah-sah saja.
Namun, satu hal yang harus diingat: alam tidak pernah berkompromi dengan kebodohan manusia. Puncak gunung itu hanyalah bonus, sementara tujuan utama dari setiap pendakian adalah pulang ke rumah dengan selamat. Jadi, sebelum mengemas kerendahan hati ke dalam tas gunungmu, ubah dulu pola pikirmu: safety first, content later. Jangan sampai foto terakhirmu di gunung justru menjadi kenangan terakhir bagi orang-orang tercinta.
*) Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi FKIP Universitas Sebelas Maret









