Mengutamakan Implementasi

Redaksi Nolesa

Minggu, 19 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Shinta Faradina Shelmi (Foto: dokumen pribadi)

Oleh: Shinta Faradina Shelmi

(Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta)

Permasalahan terkait kurikulum di Indonesia menjadi perbincangan yang cukup krusial. Banyak pihak yang terlibat dalam perancangan dan pengimplementasian kurikulum. Kirikulum sendiri memiliki tujuan sebagai alat yang digunakan untuk mengatur dan memeratakan pendidikan di Indonesia. Kemendikbud dan pihak terkait sudah berusama merancang kurikulum seideal mungkin. Kurikulum yang dirancang telah berstandar nasional agar pendidikan di Indonesia tidak tertinggal dengan negara lain. Akan tetapi, fakta di lapangan tidak sejalan dengan konsep yang telah dirancang dan pada kenyataannya kurikulum merdeka belum berhasil diimplementasikan di seluruh sekolah di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada kurikulum merdeka, siswa dilatih untuk lebih aktif dalam pengembangan potensi diri. Pembelajaran yang diselenggarakan pada kurikulum merdeka memiliki keterkaitan dengan kehidupan nyata siswa dan memiliki unsur muatan lokal. Unsur muatan lokal pada kurikulum merdeka diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih relevan kepada siswa. Usaha pengembangan softskill juga dilakukan melalui penugasan berbasis proyek. Akan tetapi, masih terdapat beberapa pihak yang beranggapan bahwa kurikulum yang diterapkan kurang memberikan pembekalan menuju dunia kerja.

Baca Juga :  Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Ketidakmerataan penyebaran teknologi juga menjadi salah satu hambatan dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka. Terdapat sekolah-sekolah yang tidak memiliki akses internet, hal itu dapat mengakibatkan sebuah sekolah mengalami ketertinggalan. Bahkan sekolah yang memiliki akses internet belum tentu dapat mengimplementasikan kurikulum merdeka dengan baik. Tidak semua tenaga pendidik memiliki kemauan tinggi untuk memahami kurikulum merdeka secara mendalam agar pengimplementasian terjadi dengan baik. Terutama bagi tenaga pendidik yang sudah berusia lanjut, mereka cenderung kurang paham tentang teknologi dan memilih cara mengajar seperti yang sudah diterapkannya selama ini.

Jangankan pengimplementasian kurikulum, di Indonesia masih terdapat sekolah yang sarana dan prasarana pokok untuk belajar mengajar belum terpenuhi. Tidak semua sekolah memiliki akses yang memadahi dan jumlah tenaga pendidik yang cukup. Padahal anggaran yang dikeluarkan pemerintah setiap tahunnya untuk memajukan pendidikan di Indonesia mencapai angka yang fantastis. Dana dengan nominal fantastis tersebut rupanya belum memberikan impact besar bagi kemajuan pendidikan di Indonesia, salah satunya karena terdapat pihak-pihak yang melakukan kecurangan. Stereotipe masyarakat bahwa sekolah bukanlah suatu hal yang penting menjadi tantangan tersendiri dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Padahal tingkat pendidikan dan literasi di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara lain.

Baca Juga :  Politik Jahat Boy Thahir, Menjegal Anies & Ganjar

Terdapat banyak kendala yang dialami dalam pemerataan implementasi kurikulum, salah satunya berkaitan dengan kualitas tenaga pendidik. Kurangnya minat masyarakat Indonesia untuk menjadi tenaga pendidik menyebabkan kualitas tenaga pendidik di Indonesia masih belum mumpuni. Kurang tingginya persaingan untuk menjadi tenaga pendidik menyebabkan kualitas SDM yang diserap cenderung kurang potensial. Hal dasar yang dapat diterapkan pendidik sebagai usaha dalam meningkatkan pendidikan di Indonesia adalah dengan meningkatkan kualitas diri. Memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses belajar mengajar agar dapat menghilangkan persepsi dari sebagian siswa bahwa belajar itu membosankan. Pendidik yang memiliki wawasan luas dapat memberikan tambahan informasi yang berguna bagi kehidupan siswa.

Baca Juga :  Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP

Sebagai seorang tenaga pendidik, terkhusus di bidang bahasa Indonesia harus mampu memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Mengajak siswa untuk gemar membaca dengan cara memberikan bacaan-bacaan yang menyenagkan dengan tujuan untuk meningkatkan minat baca mereka terlebih dahulu. Literasi memiliki peran penting dalam memajukan pendidikan di Indonesia, untuk itu salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan minat baca siswa. Pendidik dapat menyajikan teks dengan unsur muatan lokal agar siswa merasa familier dan lebih relevan. Membangun suasana kelas yang menyenangkan dapat dilakukan untuk menghapus pandangan siswa bahwa belajar bahasa Indonesia itu membosankan.


Shinta Faradina Shelmi merupakan salah satu mahasiswa aktif tahun 2022 Universitas Negeri Yogyakarta, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang lahir tanggal 28 Januari 2004. Di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa, Shinta memanfaatkan waktu luangnya untuk melakukan aktifitas yang disukainya, yaitu menulis dan membaca cerita

Berita Terkait

ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan
Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan
Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau
Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan
Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara
Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya
Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?
Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:48 WIB

ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:57 WIB

Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:07 WIB

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:17 WIB

Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:29 WIB

Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Sosok

Pramoedya Ananta Toer dan Tanah yang Tak Mengenalinya

Kamis, 16 Jul 2026 - 12:03 WIB