Oleh | Esty Destina
RESENSI, NOLESA.COM – Novel ini membuka sisi kehidupan lain di sebuah lingkungan pesantren yang kental dengan nilai-nilai konservatif. Dari sudut pandang Annisa, seorang putri Kiai yang tumbuh dalam kungkungan tradisi patriariki yang kaku.
Sejak kanak-kanak, Annisa telah merasakan getirnya perbedaan perlakuan berdasarkan gender. Ketika saudara laki-lakinya, Rizal dan Wildan, diberikan kebebasan untuk beraktivitas, Annisa justru dibatasi oleh ekspetasi lingkungan sekitarnya bahwa perempuan hanyalah sosok yang harus “manak, macak, dan masak” sesuai dengan filosofi budaya Jawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketidakadilan ini terekam jelas dalam ingatan Annisa saat ia harus membereskan tempat tidur dan membantu ibunya di dapur selepas subuh. Sementara saudara laki-lakinya, diizinkan untuk kembali tidur dengan dalih akan belajar nantinya. “Benar, mbak. Habis Rizal dan wildan boleh kembali tidur, sementara Nisa harus membersihkan tempat tidur, dan membantu ibu memasak di dapur.Sementara Rizal dan Wildan masuk lagi ke kamar, katanya mau belajar, padahal Nisa lihat sendiri mereka kembali tidur sehabis shalat shubuh.” (halaman 20).
Jiwa Annisa yang penuh ambisi dan radikal terus memberontak. Ia menolak untuk hanya menjadi bayang-bayang di balik keperkasaan laki-laki. Di tengah kebuntuan itu,, hadirlah sosok Lek Khudhori, paman jauh Annisa yang memberikan perspektif baru mengenai hak-hak perempuan dan mendukung pemikiran Annisa untuk setara dengan laki-laki.
Puncak konflik terjadi ketika ayah Annisa memutuskan untuk menjodohkannya dengan Samsudin, putra teman sang ayah. Annisa menentang keras perjodohan ini, menganggapnya sebagai bentuk belenggu yang mematikan impiannya seperti sebuah pengulangan tragedi ala Siti Nurbaya. Namun, karena rasa bakti pada orang tua, Annisa akhirnya terpaksa menerima pernikahan tersebut tanpa dasar cinta.

Kehidupan pernikahan Annisa berubah menjadi mimpi buruk. Ia mengalami berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik secara fisik maupun mental yang dilakukan oleh Samsudin. Ketidakberdayaan Annisa untuk bercerita kepada orang lain membuatnya harus menanggung beban penderitaan itu sendiri. Novel ini kemudian mengikuti perubahan karakter Annisa dari seorang perempuan yang tertindas menjadi sosok yang berani bersuara dan memperjuangkan martabatnya di tengah dominasi kultur laki-laki.
Abidah dalam karya ini melakukan langkah yang cukup berani dengan mengangkat isu-isu sensitif yang sering dianggap tabu di lingkungan pesantren. Hal yang paling menarik dari novel ini adalah diskriminasi gender dimulai dari hal paling mendasar yaitu pendidikan anak di rumah. Penulis juga kerap menyinggung mengenai martabat perempuan yang masih berada di bawah laki-laki.
Penulis secara cerdas menyisipkan kritik ketika tokoh utama sedang belajar mengeja, “A-yah per-gi ke kan-tor, Ibu me-ma-sak di da-pur, Bu-di ber-ma-in di ha-la-man, A-ni men-cu-ci pi-ring.” (halaman 10). Penggambaran ini menunjukkan bahwa bibit-bibit patriarki telah ditanamkan sejak dini melalui literasi dasar, yang secara tidak langsung mendoktrin anak bahwa peran laki-laki berasa di ruang publik sedangkan perempuan di ruang dosmetik.
Latar belakang pesantren memberikan gambaran yang kompleks. Abidah berhasil merekam kehidupan pesantren dengan sangat detail, namun ia juga memberikan interpretasi kritis terhadap nilai-nilai yang selama ini dianggap mutlak. Penulis menunjukkan bahwa nilai agama terkadang dibungkus sedemikian rupa untuk melanggengkan dominasi laki-laki dan monopoli pemikiran terhadap perempuan.
Perkembangan karakter Annisa menjadi daya tarik utama. Penulis tidak menghadirkan Annisa sebagai pahlawan yang langsung menang, melainkan sebagai manusia yang jatuh bangun menghadapi kenyataan pahit. Termasuk saat ia harus menghadapi kenyataan akan dimadu oleh suaminya. Perlawanan Annisa bukanlah perlawanan yang meledak-ledak di awal, melainkan evolusi pemikiran yang akhirnya berujung pada tindakan nyata untuk bebas dari ketertindasan.
Novel ini dikenal dengan penggunaan diksi yang tajam dan terkadang dianggap vulgar dalam menggambarkan permasalahan perempuan. Meskipun bagi sebagian pembaca hal ini dianggap tidak sesuai dengan citra pesantren yang alim, namun pendekatan ini secara efektif memberikan gambaran nyata tentang betapa kasar dan pahitnya realita yang dihadapi. Penulis seolah ingin memaksa pembaca untuk melihat sisi gelap lain yang selama ini disembunyikan dari istilah patriarki. Penulis menolak untuk mengahaluskan penderitaan Annisa dengan menuliskan betapa kasarnya dampak patriarki terhadap fisik dan psikis perempuan.
Secara keseluruhan, Perempuan Berkalung Sorban bukan sekadar novel romansa atau kisah perjuangan rumah tangga biasa. Novel ini merupakan manifestasi tentang martabat manusia khususnya perempuan. Abidah berhasil menyuarakan kegelisahan kaum perempuan yang salama ini terpinggirkan oleh tradisi patriarki yang kental. Meskipun terdapat kritik mengenai penggambaran hubungan Annisa dan Khudhori yang dianggap sudah mengarah ke zina, esensi utama novel ini tetap pada kekuatan pesan mengenai kesetaraan gender bagi perempuan. Novel ini menjadi cermin retak yang membuat pembaca melihat sisi lain yang sering disembunyikan dibalik nilai-nilai konservatif.
Perubahan karakter Annisa, dari seorang anak yang bertanya-tanya tentang ketidakadilan di rumahnya hingga menjadi perempuan yang berani memperjuangkan harga dirinya menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penindasan adalah sebuah proses pemikiran yang panjang. Novel ini sangat direkomendasikan bagi para pembaca kategori dewasa. Hal ini dikarenakan adanya penggunaan diksi yang vulgar, penggambaran kekerasa dalam rumah tangga yang eksplisit, serta tema-tema kompleks. Selain itu mengenai konsep seksualitas dan kritik religius membutuhkan kedewasaan cara berpikir untuk dapat membedakan antara kritik terhadap perilaku personal tokoh dengan ajaran agama itu sendiri.
Novel ini wajib dibaca bagi para aktivitas sosial, akademisi di bidang studi gender, maupun pembaca umum yang tertarik pada literatur yang berani menggugat patriarki demi kemanusiaan. Dengan segala keberaniannya, Perempuan Berkalung Sorban tetap menjadi salah satu tonggak dalam sastra Indonesia yang penting dalam mendobrak sekat-sekat tradisi demi sebuah kesetaraan yang lebih manusiawi. Pada akhirnya, karya ini menjadi pengingat bagi setiap pembaca dewasa bahwa kesetaraan gender adalah fondasi utama bagi kemanusiaan yang harus terus disuarakan demi menghapus segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. (*)
*) Mahasiswa aktif program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)









