Bercermin pada Semangkuk Mie Ayam

Redaksi Nolesa

Jumat, 15 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Alifia Giri Akhiril Ramadhani

RESENSI BUKU, NOLESA.COM – Terdapat pertanyaan sederhana yang tersembunyi di balik judul buku ini, yakni apa yang kamu inginkan sebelum segalanya berakhir? Untuk sebagian orang, jawabannya adalah hal – hal besar seperti melaksanakan perjalanan ke luar negeri, bertemu seseorang yang sangat dicintai, ataupun berhasil menggapai puncak dalam karier mereka.

Tetapi, karya Brian Khrisna berjudul “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” justru membagikan perihal yang berbeda. Judul itu bukan hanya untuk menarik atensi dengan cara yang unik, namun juga menjadi pintu masuk ke dalam dunia cerita yang penuh, hangat, serta kadangkala membuat hati terasa sesak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Brian Khrisna bukanlah nama yang tidak dikenal di dunia literasi digital Indonesia. Tulisan- tulisan yang banyak tersebar di media sosial dikenal karena suaranya yang santai tetapi mampu menyentuh perasaan pembaca dengan sangat tepat.

Dalam karya ini, dia membagikan suatu yang tidak banyak ditemui dalam sastra populer masa kini, ialah keberanian untuk membicarakan rasa lelah dalam kehidupan tanpa berupaya menjadi sumber semangat.

Lebih dari Sekadar Semangkuk Mie

Buku ini bukan kisah tentang makanan, meski mie ayam menjadi metafora sentralnya. Brian menggunakan mie ayam sebagai simbol utama dari hal – hal sederhana yang sering kita tunda nikmati karena terlalu sibuk berlari dari satu beban ke beban lain. Lewat narasi yang mengalir hangat, pembaca diajak merenungi pertanyaan yang tidak selalu mudah dijawab seperti sudahkah kita benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri?

Baca Juga :  Mas Tamam, Politisi Termuda Inspirasi Santri Madura

Tema yang dibahas dalam buku ini berfokus pada kesehatan mental, kesendirian, serta rasa rindu yang kerapkali tidak tahu kepada siapa harus diberikan. Brian tidak memakai bahasa psikologi yang berat. Dia memilih jalan lain yaitu dengan bercerita. Dan dalam bercerita itulah, dia sangat piawai. Banyak bagian di dalam buku ini seperti pesan dari seorang yang tahu betul bagaimana rasanya berjuang, tanpa perlu kamu berusaha menarangkan apa pun.

Kekuatan utama buku ini terletak pada keautentikannya. Brian tidak berupaya terlihat bijak ataupun filosofis. Dia menulis dengan cara seperti seseorang teman yang duduk di warung tepi jalan bersamamu, berbicara dengan tulus serta alami sembari menunggu pesanan mie ayam datang.

Gaya bahasa yang dipakainya terasa hangat serta gampang dimengerti, jauh dari kesan sombong yang umumnya membuat pembaca merasa perlu buku kamus untuk mengerti bacaan tersebut.

Tidak hanya itu, memilih mie ayam sebagai pusat cerita merupakan keputusan yang bijak. Makanan ini tidak begitu mahal, tidak terbatas untuk golongan tertentu, tetapi nyaris seluruh orang pasti pernah mencobanya. Dengan memilih simbol yang sangat relevan dengan kehidupan sehari – hari, Brian sukses menciptakan hubungan yang erat antara ceritanya dengan pengalaman pembaca yang berasal dari bermacam latar belakang.

Baca Juga :  Menyibak Akar Kehidupan Tanah Madura

Buku ini bukan hanya ditulis khusus untuk kelompok tertentu, melainkan ditulis untuk siapa saja yang sempat merasa lelah tanpa tahu mengapa.

Ketika Kepuitisan Menutupi Substansi

Namun, seperti mangkuk mie ayam yang lezat juga dapat terasa kurang kuah di bagian tertentu, buku ini juga tidak terlepas dari beberapa keterbatasan. Salah satu perihal yang paling terasa adalah kecenderungan Brian untuk selalu menggulir di area perasaan yang sama terlalu lama.

Beberapa bagian terasa mengulang, seakan pembaca cuma dibiarkan mengitari satu ruang perasaan yang sama tanpa terdapat penambahan lapisan makna yang baru serta bermakna.

Permasalahan lain timbul karena struktur cerita terasa kurang mencukupi. Untuk pembaca yang terbiasa dengan novel – novel fiksi yang mengembangkan cerita secara alami, buku ini bisa jadi terasa lebih seperti kumpulan refleksi yang dibawa oleh satu tema tertentu, daripada sebuah karya yang mempunyai alur cerita dramatis yang terang serta terstruktur. Tentu saja, ini dapat jadi keuntungan bagi sebagian pembaca, tetapi bisa jadi kendala untuk yang lain.

Terdapat pula saat saat di mana metafora yang digunakan terasa dipaksakan supaya terlihat lebih puitis, akibatnya justru kehilangan kesan alami. Padahal, kekuatan terbesar Brian justru terletak pada saat dia tidak lagi berupaya terdengar menarik, melainkan dikala dia berbicara secara langsung serta jujur.

Baca Juga :  Menjadi Perempuan Kuat di Era Birokrat

Mengapa Buku Ini Perlu Kamu Baca?

Terlepas dari catatan – catatan di atas, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati tetaplah karya yang layak buat dinikmati, terutama di masa saat ini di mana banyak orang hidup dalam kecepatan tinggi serta kurang sempat memeriksa perasaan mereka sendiri. Buku ini memberimu kesempatan untuk berhenti sejenak, mengakui kalau rasa lelah itu nyata, serta memahami kalau menikmati hal – hal kecil bukanlah kelemahan, melainkan wujud keberanian.

Jika kamu suka membaca hanya untuk cari kesenangan, mungkin buku ini bukan opsi terbaik bagimu. Tetapi bila kamu sedang mencari suatu yang dapat menemanimu dikala berpikir, suatu yang membuat kamu merasa tidak sendirian dalam keberatan hidup yang kerap tak terlihat, maka buku ini bisa menjadi teman yang pas. Dia tidak memberimu jawaban, namun dia membuatmu merasa kalau pertanyaan – pertanyaan yang kamu bawa itu benar dan manusiawi.

*) Mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (UNS).

Berita Terkait

You’re Not Funny Enough: Sejenis Novel Humor yang Ringan dan Mudah Dinikmati
Cinta dan Kasih Sayang ala Nabi, Pondasi Meminimalisir Keretakan Rumah Tangga
Di Balik Negeri Bertopeng Bahagia
Perjalanan Penyembuhan di Britania Raya
Berusaha Memandang Sudut Pandang Orang Tua melaui Buku Maafkan Kami Ya, Nak!
Menyibak Akar Kehidupan Tanah Madura
Mas Tamam, Politisi Termuda Inspirasi Santri Madura
Menyingkap Tabu, Menantang Sunyi

Berita Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:08 WIB

Bercermin pada Semangkuk Mie Ayam

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:35 WIB

You’re Not Funny Enough: Sejenis Novel Humor yang Ringan dan Mudah Dinikmati

Rabu, 25 Februari 2026 - 23:34 WIB

Cinta dan Kasih Sayang ala Nabi, Pondasi Meminimalisir Keretakan Rumah Tangga

Selasa, 13 Januari 2026 - 18:10 WIB

Di Balik Negeri Bertopeng Bahagia

Senin, 21 Juli 2025 - 16:28 WIB

Perjalanan Penyembuhan di Britania Raya

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Resensi Buku

Bercermin pada Semangkuk Mie Ayam

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:08 WIB

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar (Foto: Istimewa)

Mimbar

Masjid Kampus Harus Berfungsi Lebih

Jumat, 15 Mei 2026 - 12:32 WIB

Menkomdigi Meutya Hafid (Foto: Istimewa)

Nasional

Hampir 200 Ribu Anak Indonesia Terpapar Judol

Jumat, 15 Mei 2026 - 09:56 WIB

(for NOLESA.COM)

Mimbar

Jangan Mematikan Hati

Jumat, 15 Mei 2026 - 09:11 WIB