Oleh | Amanda Aisyah
OPINI, NOLESA.COM – Bayangkan, hanya dengan satu sentuhan layar, mahasiswa bisa mengakses ribuan e-book, artikel ilmiah, dan jurnal ilmiah dari seluruh dunia. Namun, di balik kepraktisan itu, muncul pertanyaan yang menarik: apakah kemajuan teknologi benar-benar meningkatkan minat baca mahasiswa, atau justru membuatnya berkurang?
Secara umum, di Indonesia tingkat kemampuan membaca masyarakat masih sangat rendah. Menurut UNESCO, Indonesia berada di peringkat kedua terbawah dalam hal literasi di dunia, yang berarti minat baca masyarakat sangat rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat menyedihkan, hanya 0,001%. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Hal ini tentu menjadi hal yang mengkhawatirkan, bahwa budaya membaca belim menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari dari kalangan mahasiswa.
Literasi digital mencakup kemampuan mencari informasi, menilai kepercayaan sumber, mengelola informasi, serta menggunakan teknologi untuk berkomunikasi dan bekerja sama. Kemampuan ini penting bagi mahasiswa karena membantu mereka memahami, menganalisis, dan menerapkan informasi yang dibaca.
Dengan literasi digital yang baik, mahasiswa dapat mengenali sumber terpercaya, menghindari informasi keliru, dan memanfaatkan waktu membaca dengan efektif. Jadi literasi digital bukan sekedar penggunaan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam mengelola informasi untuk pengembangan diri dan prestasi akademik.
Salah satu aspek penting dari literasi digital adalah kemampuan dalam membentuk minat baca mahasiswa. Minat baca yang tinggi merupakan fondasi utama dalam proses pembelajaran dan pengembangan diri.
Dengan kemampuan ini, minat baca para mahasiswa tidak hanya bergantung pada keberadaan buku atau sumber bacaan, tetapi juga tergantung pada faktor-faktor dari dalam diri mereka sendiri, seperti semangat, kebiasaan, dan cara mereka memandang manfaat dari membaca.
Literasi digital bisa menjadi alat yang membantu memperkuat factor-faktor tersebut. Contohnya dengan menggunakan platform digital seperti aplikasi e-book, forum diskusi online, jurnal online, artikel ilmiah, hingga konten atau podcast edukatif di platfrom media sosial.
Mahasiswa bisa memukan cara-cara yang lebih menarik dan interaktif untuk mengembangkan minat baca mereka dan memperluas pengetahuannya. Akses ke berbagai bacaan ilmiah kini jauh lebih mudah dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini tentu memberi kesempatan besar untuk meningkatkan minat baca yang lebih luas dan beragam, karena semua informasi kini bisa diakses hanya dalam genggaman tangan.
Sayangnya, kemudahan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas membaca. Fenomena Scroll Culture yaitu kebiasaan menggulir konten yang disajikan dalam media sosial secara terus menerus tanpa batasan, kini menjadi hal yang umum bagi mahasiswa.
Mereka sering kali lebih banyak menghabiskan waktu membaca potongan teks singkat di media sosial dibandingkan mendalami bacaan ilmiah yang kompleks. Mereka akan merasa malas dalam menerima informasi yang panjang dan padat karena telah terbiasa dengan konten singkat yang memiliki kesimpulan ringkas sebagai penunjuk suatu informasi.
Hal ini terjadi karena orang tersebut hanya melihat bagian-bagian kecil dari informasi tanpa usaha mencari tahu lebih lanjut. Selain itu, informasi yang diterima pun belum tentu benar, karena di media sosial informasi sering disingkat agar sesuai dengan Batasan durasi yang ditentukan (Nariswari, 2024).
Hal ini diperlukan upaya membudayakan kembali kebiasaan membaca yang dilakukan dengan cara terarah dan terukur. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya terbiasa membaca cepat di media sosial, tetapi juga mampu memahami dan mengkritisi informasi secara mendalam serta membangun pola piker ilmiah yang lebih matang.
Selain itu, tantangan dalam meningkatkan literasi digital penting untuk diperhatikan karena minat baca mahasiswa tidak bisa diabaikan. Masalah utama yang dihadapi adalah kesenjangan akses terhadap teknologi dan internet. Tidak semua mahasiswa memiliki perangkat dan koneksi yang sama, sehingga menghambat kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi.
Banyak mahasiswa masih kurang memahami pentingnya literasi digital dan cara menggunakan secara maksimal untuk kegiatan belajar. Karena itu diperlukan upaya bersama dari institusi, masyarakat, pemerintah, kampus, dan dosen untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi digital di kalangan mahasiswa.
Literasi digital memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan membaca yang lebih kreatif dan kerja sama. Misalnya melalui platfrom digital mahasiswa bisa bergabung engan klub buku online, berdiskusi mengenai buku-buku yang dibacanya dengan teman-teman dari berbagai negara atau bahkan menulis ulasan serta refleksi tentang buku yang mereka baca.
Aktivitas seperti ini tidak hanya memperkaya pengalaman membaca, tetapi membantu meperkuat pemahaman dan menghargai isi buku yang dibacanya. Literasi digital melibatkan kemampuan berpikir kritis dalam mengevaluasi informasi. Mahasiswa dengan literasi digital yang baik akan lebih selektif dan kritis dalam menilai sumber bacaan, sehingga minat baca mereka meningkat karena tertarik pada konten yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Literasi digital juga memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk membaca berbagai jenis bahan, seperti buku, video, atau podcast. Banyaknya pilihan ini membuat aktivitas membaca lebih seru dan tidak membosankan. Di platfrom digital, mahasiswa juga bisa berinteraksi, misalnya berdiskusi, memberi komentar, atau membuat konten sendiri.
Hal ini menjadikan kegiatan membaca lebih menarik dan menyenangkan. Literasi digital juga mendorong kerja sama dan pembentukan kelompok pembaca. Dengan demikian, mahasiswa lebih termotivasi untuk terus membaca karena merasa terhubung dengan orang lain yang memiliki minat yang sama.
Dalam pembelajaran, literasi digital juga bisa dijadikan bagian dari kurikulum perguruan tinggi untuk meningkatkan minat baca para mahasiswa. Contohnya dosen bisa menggunakan teknologi untuk memberi tugas baca yang lebih menarik, seperti aplikasi untuk memberi catatan digital atau platfrom diskusi online.
Dengan car aini, mahasiswa tidak hanya membaca secara pasif, tetapi ikut terlibat aktif dalam menganalisis dan merefleksikan bacaan yang mereka baca. Hal ini bisa membantu mereka lebih memahami materi yang dibaca sekaligus membangun minat baca yang lebih kuat.
Secara keseluruhan, literasi digital memiliki kemampuan besar dalam membentuk minat baca para mahasiswa, terutama di masa kini yang sangat terhubung. Dengan meningkatkan literasi digital, diharapkan minat baca mahasiswa bisa bertambah banyak yang akhirnya akan membantu meningkatkan kualitas pendidikan serta daya saing bangsa. (*)
*) Mahasiswi semester 5 Prodi Tadris Bahasa Indonesia dari UIN Raden Mas Said Surakarta










