Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Setelah dihubungi panitia Seminar dan Musyawarah Kerja Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni Mathali’ul Anwar (IKAMA) Pangarangan, saya coba kumpulkan beberapa buku referensi yang terkait dengan pesantren.
Salah satu buku yang saya temukan, ada satu buku yang terbit tahun 2020, judulnya “Gagal Nyantri”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Membaca judul ini, saya jadi teringat kehidupan di pesantren dulu. Ada bahasa yang mirip dengan judul buku di atas dengan pemaknaan yang mungkin hampir sama karena masih “sudara kembar” yakni “santri gagal”. Ungkapan ini sering saya sampaikan kepada murid-murid saya dulu ketika saya melakukan perkenalan di pembelajaran hari pertama untuk siswa baru, bahwa saya adalah contoh santri yang gagal. Ini saya lakukan bukanlah bagian dari pencitraan atau apapun namanya yang sejenis dengan pencitraan.
Bahkan, dalam acara seminar kemarin, saya sampaikan di awal tentang kegelisahan saya yang sebenarnya sangatlah tidak pantas untuk mengisi acara seminar IKAMA. Betapa “cangkolang” seorang alumni seperti saya, yang ketika di pesantren dinobatkan sebagai santri gagal, kemudian berani “duet” dalam satu forum dengan senior, Dr.KH. Didik Mulyadi, M.Ag., seorang alumni yang juga diaspora, dan saat ini menjadi dosen di IAIN Madura.
Sekali lagi saya sampaikan, bahwa ini bukanlah pencitraan. Hal ini murni dari kegelisahan pribdi yang merasa pakebu saja, bahwa sejatinya memang saya tidak pantas untuk mengisi acara. Tetapi, karena menjadi pemateri ini amanah dari panitia, sebagai seorang alumni yang dulu pernah berdamai dan menikmati diamika kehidupan pesantren, maka saya harus menjalankan amanah ini dengan baik.
Kembali ke santri gagal di atas, bahwa realitas ini mungkin ini terjadi hanya kepada saya ketika masih di pesantren, dan tidak pernah dialami santri yang lain. Barangkali juga sayalah satu-satunya santri di pesantren saat itu yang “gagal” dalam konteks penilaian pengurus pondok.
Diakui atau tidak, kehidupan pesantren yang penuh dengan fenomena telah mengantarkan saya menjadi santri paling “jelek”/”tidak teladan”/”malas”/”bodoh” atau apalah namanya yang merupakan antonim dari teladan/terbaik (karena saya masih kesulitan untuk menemukan antonim dari kata teladan/terbaik). Ini bukanlah isapan jempol belaka. Saat itu, saya diumumkan dalam acara imtihan pondok pesantren sebagai santri “terjelek”.
Hanya saja, karena memang agenda pengumuman santri terjelek sudah saya ketahui sejak awal, akhirnya saya tidak begitu antusias dengan imtihanan kala itu. Saya pun tidur setelah para santri yang khatam Al-Qur’an membacakan surat-surat pendek di akhir Juz 30 dan Doa Khatmil Qur’an.
Saya dibangunkan teman bahwa saya dapat hadiah anugerah santri terjelek. Kebetulan dia yang naik ke panggung untuk menerima hdiah itu. Ya, hadiah “sebungkus gabin”.
Begitulah, bahwa ternyata ada persamaan antara santri yang terbaik dengan yang terjelek. Sama-sama mendapatkan hadiah. Meskipun hadiah dalam imaji dan konotasi yang berbeda.
Ini yang saya katakan special moment sebagai santri terjelek, yang dalam bahasa saya ini adalah anugerah “santri gagal” di era itu. Hal inilah yang selalu saya sampaikan kepada para siswa saya untuk memotivasi, bahwa santri yang gagal kala itu bukanlah kegagalan untuk selamanya.
Anugerah yang tidak pernah diadakan sebelum-sebelumnya dan yang lebih aneh, setelah moment special itu, tidak pernah ada anugerah santri terjelek lagi, sampai sekarang. Momen yang hanya terjadi dan dialami saya.
Saya tidak begitu paham, apakah ada konspirasi atau tidak dari para pengurus pondok dulu. Tetapi yang jelas, saya telah menjadi “artis” pondok yang dipanggil naik ke panggung untuk menerima anugerah “santri gagal” ini, dengan sederet penilaian ‘negatif’ untuk saya: pembangkang (lebih tepatnya kritis) terhadap pengurus yang diberi kewenangan mengatur jalannya peraturan dan aktivitas santri di pondok, tidak bisa tuntas menghafal kitab shorrof, Jurmiyah dan beberapa kitab yang diwajibkan untuk dihafalkan di akhir tahun.
Meskipun realitasnya, masih ada sebagian kitab yang saya hafal dan sudah nyetor hafalan ke para ustad saat itu, meskipun ada juga beberapa bagian yang tidak hafal dan tetap diusahakan untuk melengkapi hafalan sampai tuntas.
Bagi saya, momentum anugerah santri gagal itu tidak terlalu berpengaruh. Namun, momentum ini menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk mementahkan laqob yang disematkan di pundak saya sebagai santri gagal. Sejak saat itu, motivasi untuk menjadi santri yang “baik” (meskipun tidak harus diakui pengurus pondok) terus saya upayakan.
Berbagai ritual, seperti mengkhatamkan Al-Qur’an di area pesarean Kiai Sepuh (KH. Abdullah bin Husein) hampir setiap hari menjadi rutinitas saya. Beberapa amalan salawat yang diijazahkan oleh Kiai Sepuh, ke bapak saya dan diijazahkan ke saya terus saya amalkan.
Bahkan amalan yang diijazahkan oleh KH. Abus Suyuf Ibni Abdillah juga saya amalkan. Sampai akhirnya, ketika saya lulus kuliah, saya diminta oleh KH. Mahfudh Rahman (Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar) untuk menjadi guru MTs/MA di lingkungan pondok pesantren. Tahun 1995 saya meninggalkan pesantren untuk kuliah di Surabaya, tahun 1998 saya diminta kembali ke pesantren.
Tiga kali, Kiai Mahfudh mengajak saya kembali ke pesantren, tiga kali itu pula saya menolaknya. Alasannya sederhana, karena saya tidak mau menjadi guru.
Akhirnya, untuk yang keempat kalinya, ketika saya bertemu lagi, beliau mengajak saya kembali. Ada beban psikologis bagi saya, antara idealisme untuk tidak menjadi guru dan kepatuhan kepada guru/kiai. Karena kepatuhan itu lebih kuat mengisi otak dan psikologis saya, akhirnya saya pun menerima permintaan beliau untuk kembali ke pesantren. Mengabdikan diri di pesantren, sebagai bentuk kepatuhan saya pada guru sekaligus momentum kembalinya santri gagal ke pesantren.
Di sinilah saya memulai berinteraksi dengan siswa dalam dunia kepenulisan. Memotivasi mereka menjadi para penulis yang bisa berbicara di kancah kabupaten, provinsi, maupun nasional. Salam ta’dim!(*)
*Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Panggarangan, Sumenep









