Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Saya mungkin termasuk orang yang tidak begitu perhatian pada momen-momen yang dianggap “sakral” oleh sebagian orang sehingga dirayakan sebagai hari tertentu yang dikaitkan dengan tanggal tertentu pula. Salah satunya Hari Ibu.
Seperti bulan kemarin ketika ada teman yang yang mengingatkan saya tentang Hari Ayah dengan mengirimkan foto dua orang yang memakai seragam kaos bertuliskan “DUTA AYAH”. Sungguh saya tak ngeh saat itu. Barulah setelah itu saya buat tulisan tentang Hari Ayah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah saya posting tulisan tentang Hari Ayah, ada teman yang tanya ke saya tentang Hari Suami. Saya jawab, bahwa saya salah satu orang yang abai dengan momentum yang dikaitkan dengan tanggal. Tapi setelah saya googling ternyata Hari Suami itu ada:
Sabtu 19 April 2025. Hari Suami Sedunia ini berbeda dengan Hari Ayah atau Hari Ibu. Penentuannya adalah hari Sabtu, pada minggu ketiga bulan April. Jadi, tiap tahunnya bisa jadi akan berbeda tanggalnya, karena yang sama adalah harinya: Sabtu.
Untuk Hari Ibu ini, karena saya diingatkan tentang Hari Ayah oleh teman, yang mengingatkan saya juga pada Hari Ibu, akhirnya, sejak saat itu, saya memang sudah berniat untuk membuat tulisan di akhir tahun. Tulisan yang yang khusus saya persembahkan untuk para Ibu yang kasihnya tak pernah padam.
Hari Ibu bukan sekadar peringatan tahunan yang dirayakan dengan bunga, ucapan manis, atau unggahan penuh sentimental di media sosial. Lebih dari itu, Hari Ibu adalah ruang refleksi tentang perjalanan panjang seorang perempuan yang menjelma menjadi pusat kasih, keteduhan, sekaligus kekuatan dalam kehidupan keluarga. Ia adalah kisah yang tak pernah selesai ditulis, karena setiap detik hidup seorang ibu selalu memancarkan cinta yang baru, berbeda, dan mendalam.
Diakui bahwa kasih ibu tidak lahir pada hari pertama seorang anak dilahirkan. Jauh sebelum itu, ia sudah tumbuh dalam bentuk kecemasan kecil, harapan-harapan yang dirapal diam-diam, serta ketabahan menghadapi perubahan yang tidak mudah pada tubuh maupun hidupnya. Setiap malam panjang, setiap rasa mual, setiap ketidaknyamanan adalah potongan dari cinta yang tidak pernah meminta balasan.
Begitu seorang anak hadir di dunia, kasih itu berubah bentuk, menjadi pelukan yang menenangkan, menjadi mata yang tidak tidur, menjadi tangan yang tak pernah lelah menimang, menyuapi, membersihkan, atau sekadar memastikan semuanya baik-baik saja.
Kasih ibu bukan hanya tentang kelembutan. Ia juga tentang kekuatan. Ada ibu yang harus menghadapi kerasnya hidup seorang diri, ada yang berjuang dengan keterbatasan ekonomi, ada pula yang menanggung beban mental tak kasatmata. Namun, dalam kondisi apapun, cinta mereka selalu menemukan jalannya. Ya, cinta yang tetap kuat bertahan dalam ujian.
Mereka (para ibu) mungkin tidak selalu sempurna. Mereka bisa lelah, marah, atau keliru. Tetapi di balik itu semua, selalu ada niat untuk menjaga, menguatkan, dan memastikan bahwa anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Niat yang disertai cinta yang ikhlas karena tidak pernah menghitung balas budi.
Keikhlasan seorang ibu adalah paradoks yang menakjubkan. Ia memberi tanpa merasa kehilangan, mengalah tanpa merasa kalah, dan mencintai tanpa takut tersakiti. Banyak ibu yang menyiapkan segalanya tanpa pernah mengharapkan hadiah, ucapan terima kasih, atau pengakuan. Bagi mereka, melihat anak tumbuh baik sudah menjadi kebahagiaan yang tak ternilai. Inilah cinta yang sering kali membuat kita—sebagai anak—tak cukup mampu membayar kembali apa pun yang telah dikorbankan.
Ketika kita mulai tumbuh, usia semakin bertambah, kita perlahan menjauh dari pangkuan ibu. Kita tumbuh, sibuk, dan tenggelam dalam kehidupan sendiri. Namun, kasih ibu tidak mengenal jarak maupun waktu. Ia akan tetap ada dan menyala. Ia hadir dalam bentuk doa yang tak pernah putus. Hadir dalam pesan singkat menanyakan apakah kita sudah makan. Atau hadir dalam suara lembut yang selalu menenangkan bahkan ketika dunia sedang kacau sekalipun. Kasih ibu tidak memaksa untuk selalu diingat. Ia hadir lembut, namun selalu nyata.
Merayakan Hari Ibu adalah mengingat bahwa ada cinta yang tidak pernah padam meski jarang disebut, jarang kita rayakan, dan sering kita anggap biasa. Ini adalah momentum untuk menundukkan kepala sejenak, melihat ke belakang, dan menyadari bahwa banyak langkah hidup kita berdiri di atas pengorbanan diam-diam seorang ibu. Di situlah kewajiban kita berbakti dan memuliakan ibu (yang masih hidup) niscaya untuk disegerakan. Bagi ibu kita yang sudah meninggal, mendoakannya di setiap saat adalah kewajiban yang tak boleh dilupakan.
Kasih ibu adalah narasi panjang yang melintasi generasi. Ia akan terus hidup, menjadi doa yang diwariskan, kekuatan yang diturunkan, dan nilai hidup yang melekat dalam diri setiap anak. Cinta seorang ibu tidak pernah padam. Ia hanya berubah bentuk, namun tetap menjadi cahaya yang setia menyertai perjalanan kita.
Hari Ibu bukan sekadar perayaan, tetapi pengakuan bahwa tanpa mereka, kita tidak akan berada di titik ini. Maka, di Hari Ibu ini, semoga kita semua mampu mengucapkan rasa terima kasih dengan cara yang paling sederhana namun tulus. Karena bagi seorang ibu, ketulusan itulah yang membuat seluruh perjalanan panjangnya selalu layak diperjuangkan. Semoga!
*) Pembina Komunitas Kata Bintang









