Tentang Kesombongan

Ahmad Farisi

Kamis, 17 Maret 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ada salah satu risalah Rene Descartes yang sangat pendek, tapi sangat bernas, berisi. Judulnya Kesombongan dan Rasa Malu.

Risalah itu saya baca dan saya temukan saat mengedit naskah buku The Passion Of The Soul, risalah Descartes yang diterjemahkan oleh Muhammad Muhibudin.

Dalam mengedit, saya biasanya bekerja lebih. Artinya, pun pekerjaan saya itu juga membaca, tetapi porsi membacanya harus beda. Beda dengan membaca buku pada umumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika membaca buku pada umumnya saya fokus pada kegiatan memahami teks, tetapi tidak dalam mengedit. Saya harus lebih dari sekadar memahami teks.

Misalnya, harus memperhatikan struktur kalimatnya, tanda bacanya, diksinya, dan yang lainnya.

Baca Juga :  Roebling, Tak Sempurna; Namun Mampu Mewujudkan Cita-citanya

Namun, hal yang berbeda saya rasakan saat membaca teks risalah itu. Seketika saya agak terperangah. Terkejut. Dan seketika melupakan hal-hal teknis (dalam mengedit) yang harus selalu saya perhatikan.

Dalam risalahnya itu, Descartes menulis: “ … kebaikan yang ada atau yang telah ada dalam diri kita yang diperhatikan oleh orang lain membangkitkan kesombongan dalam diri kita….”

Kalimatnya sederhana. Namun membangunkan kesadaran kita; menyadarkan kita tentang dari mana asal usul kesombongan itu.

Pernahkah kita berpikir bahwa yang membangunkan kesombongan dalam diri kita itu adalah kebaikan kita sendiri? Saya sendiri tidak pernah.

Saya menyangka, kebaikan, dengan segala efeknya, akan selamanya tetap sebagai sebuah kebaikan. Ternyata tidak. Ada efek yang tidak pernah kita duga, yakni membangunkan kesombongan dalam diri kita.

Baca Juga :  Prof. Al Makin

Saya sepenuhnya sepakat dengan pendapat Descartes itu. Sebab, jika ungkapan itu kita renungkan, maka hal itu benar (meski tidak berlaku dalam semua kasus).

Benar yang saya maksud, sebab memang demikianlah kenyataannya. Orang yang cenderung sombong, biasanya adalah orang yang merasa memiliki kebaikan. Dalam bentuknya yang kecil sekalipun.

Tidak perlu jauh-jauh mengambil dan melihat contoh. Lihatlah diri kita sendiri. Bagaimana sikap kita ketika merasa punya kebaikan.

Lantas, apakah untuk menghindari kesombongan diri itu kita harus berhenti berbuat baik? Tentu tidak. Ini adalah pertanyaan yang salah.

Kebaikan, sebagaimana diungkapkan Descartes itu, pada titik tentu memang memicu bangkitnya kesombongan dalam diri kita.

Baca Juga :  Renungan Idul Adha 1445 H: Taat seperti Ibrahim, Ikhlas seperti Ismail

Namun, dengan begitu, bukan berarti kita harus menghindari dan tidak melakukan kebaikan.

Tetap lakukan kebaikan sebanyak-banyaknya. Namun jangan merasa bahwa kita telah punya kebaikan dan satu-satunya yang memiliki.

Kebaikan memicu bangkitnya kesombongan dalam diri kita memang benar. Tapi, itu tidak akan terjadi jika kita tidak merasa.

Teruslah berbuat baik. Tapi, jangan pernah merasa bahwa kitalah yang paling baik. Sebab, merasa itulah pembangkit kesombongan yang sebenarnya.

Semakin kita banyak berlaku baik. Semakin besar potensi kita untuk sombong.

Akan tetapi, sebesar apa pun potensi kesombongan dari kebaikan yang kita lakukan, hal itu sama sekali tidak akan terjadi jika kita tidak merasa.

Berita Terkait

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa
DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026
Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya
Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci
Mabrur Tanpa Berhaji
Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra
Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern
Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 07:03 WIB

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa

Jumat, 10 April 2026 - 18:53 WIB

DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:13 WIB

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:21 WIB

Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:38 WIB

Mabrur Tanpa Berhaji

Berita Terbaru

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya (Foto: Istimewa)

Nasional

Kemenpora Buka Program TPON, Berikut Syaratnya

Selasa, 28 Apr 2026 - 21:26 WIB