Oleh | Sujono
MIMBAR, NOLESA.COM – Cincin Sulaiman, saat berpuasa, manusia mendapatkan kembali kekuasaan atas dirinya sendiri.
Kata Rumi; “Puasa adalah api penyucian yang membakar hawa nafsu dari keterikatan duniawi, sekaligus ‘Cincin Sulaiman’ yang memberikan kekuatan spiritual.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan ruang batin untuk menyantap hidangan langit, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan mengaktifkan cahaya hikmah.
Puasa adalah api yang menghancurkan sifat-sifat rendah dan keduniawian, bertindak sebagai obat penawar bagi jiwa yang patah hati atau kecewa dengan dunia.
Cincin Sulaiman (Kekuasaan) dimaksudkan, bahwa saat berpuasa, manusia mendapatkan kembali kekuasaan atas dirinya sendiri. Sedangkan melepaskannya berarti kehilangan kemampuan diri.
Puasa juga menciptakan ruang di dalam diri (seperti seruling yang kosong) untuk menerima “jamuan rohani” atau hidangan langit yang jauh lebih baik daripada sekadar makanan fisik.
Puasa mendidik jiwa untuk tidak sekadar menahan haus dan lapar, tetapi juga membebaskan diri dari keterikatan, sehingga rohani dapat terbang menembus cakrawala nan luas tak bertepi.
Puasa adalah obat terkuat untuk menaklukkan nafsu yang liar. Dalam pandangan Sufi, puasa adalah bentuk pengorbanan tertinggi demi kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekaligus alat untuk menyucikan hati agar menjadi lebih murni berkilau.
Puasa adalah jalan untuk menjadi orang yang istimewa atau bertakwa (Al-Baqarah: 183).
Kata Rumi, “Berpuasalah dengan segenap jiwa, karena puasa adalah raja dari segala obat.”
Puasa adalah hadiah dari Allah Ta’ala, untuk manusia yang beriman atau mereka yang sangat membutuhkannya. Puasa sebagai wasilah untuk melahap makanan rohani yang suci.
Puasa adalah perjalanan spiritual untuk membangkitkan keagungan jiwa. Percayalah, puasa adalah makanan “ruh” yang tidak hanya menyegarkan kualitas jiwa, tetapi juga akan menyempurnakan kondisi tubuh kita. Bagi seseorang yang patah hati dengan dunia (kekecewaan dan rasa cemas), puasa adalah obat penawar terbaik. Wallahu a’lam…
Kutipan Bijak; Jika manusia dapat mengendalikan diri terhadap segala kesenangan duniawi, barulah dapat mencapai kebahagiaan dan ketenangan batin. Rasa lapar dan rasa sakit berguna untuk melatih moral manusia. (Filsuf Diogones).
*) Penulis lepas tinggal di Perum Sumekar Kota Sumenep










