Politik Jahat Boy Thahir, Menjegal Anies & Ganjar

Redaksi Nolesa

Rabu, 24 Januari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh FAIZAL ASSEGAF*

Erick Tohir dan Boy Thohir bersaudara makin ganas konsolidasi sejumlah konglomerat super kaya. Mengklaim ⅓ penyumbang ekonomi RI siap menangkan Prabowo-Gibran. Deklarasi culas itu muncul di tengah isu Pilpres curang.

Seolah bandar politik digiring dalam pemufakatan jahat untuk membajak demokrasi. Bermondalkan ribuan triliun punya target Pilpres satu putaran. Boy Thohir secara terbuka menyodorkan peta kekuatan para pemodal besar tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mulai dari Djarum Grup, Sampoerna Grup, Adaro Grup, siapa lagi, pokoknya grup-grup semua ada di sini, ada Ninin, the richest wanita in Indonesia, dan semuanya Pak,” ujar Boy Thoir dalam acara Relawan Erick Thohir Alumni Amerika Serikat di Plaza Senayan, Jakarta, Senin (22/1).

Baca Juga :  Pilkada 2024 dan Agenda Politik Kesejahteraan

Prabowo Subianto hadir dan dinobatkan sebagai tamu spesial sembari menggulir pesan penting: “Kehormatan besar, baru saya paham sekarang kenapa saya dua kali kalah pilpres, karena dulu saya enggak diundang ke sini”.


Kecurigaan publik atas peran oligarki merusak demokrasi sangat nyata.


Tersirat Prabowo mengakui dua kali dicurangi lantaran tanpa sokongan Boy Thohir dan kawanan konglomerat. Kini berbalik membongkok pada rezim Jokowi dan oligarki. Di jalan gelap itu, Prabowo dijamin bakal menang satu putaran.

Baca Juga :  Demokrasi dan Agenda Politik Kesejahteraan

Keterlibatan oligarki dengan modal besar di ruang demokrasi punya daya rusak dan ancaman bagi kedaulatan politik rakyat. Sudah banyak protes rakyat bermunculan. Rakyat sangat marah dan merasa demokrasi disandera pemodal besar.

Manuver Boy Thahir dan kelompok konglomerat yang berada di lingkar kekuasaan jelas bikin gaduh. Kecurigaan publik atas peran oligarki merusak demokrasi sangat nyata. Hak dan kedaulatan politik rakyat terancam diberangus.

Baca Juga :  Hari Guru dan Keberpihakan Abu-abu pada Guru

Terlebih pengakuan Prabowo dalam pertemuan pengusaha kaya tersebut, bahwa dirinya dua kali kalah dalam Pilpres. Ukurannya karena tidak disokong oleh jaringan oligarki. Seolah menang atau kalah atas restu pemodal besar.

Pertemuan Boy Thahir dan pemodal besar jelang pemungutan suara 14 Februari 2024 harus disikapi serius. Demokrasi tidak boleh kangkaki kelompok oligarki demi menyingkirkan kehendak aspirasi rakyat. Jelas jahat dan culas.

Bersatulah rakyat, lawan kejahatan oligarki…!


*) Kritikus politik

Sumber Berita: X/Twitter

Berita Terkait

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau
Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan
Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara
Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya
Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?
Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI
Guru: Mulia dalam Kata, Menderita dalam Nyata
Kurban: Dari Ketundukan Spiritual Menuju Kesalehan Sosial

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:07 WIB

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:17 WIB

Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:29 WIB

Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:58 WIB

Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:31 WIB

Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?

Berita Terbaru