Pak Bupati dan Guru Ngaji

Ahzam Habas

Minggu, 19 Maret 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini, NOLESA.com — Dalam kultur kehidupan aristokrat Madura, para kyai sejak zaman kesultanan diletakkan dalam struktur sosial yang setara dengan kelas bangsawan.

Sebab, mereka dipandang linuwih. Mereka mengajari putra-putri sultan membaca Al-Quran dan pendidikan keagamaan secara mendalam. Mereka juga terbiasa dimintai nasihat untuk memecahkan persoalan pemerintahan dan kemasyarakatan.

Oleh karena itu, para Indonesianis seperti Clifford Geertz memasukkan para kyai sebagai patron orang-orang keraton. Mereka umumnya menikmati privilege dan hidup berkecukupan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika terjadi perubahan bentuk pemerintahan pasca kemerdekaan, dari monarki ke demokrasi, posisi para kyai ini mulai bergeser.

Jika dulu para kyai menjadi patron utama dalam pusat lingkaran kekuasaan keraton, kini secara perlahan mulai terpinggirkan.

Baca Juga :  Kendaraan Listrik, Alternatif Mengurangi Polusi Udara

Para kyai dalam konteks saat ini adalah mereka yang mendirikan pondok pesantren secara mandiri dan mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam lingkungan tersendiri dan umumnya jauh dari pusat-pusat keramaian.

Dalam sistem pendidikan agama yang terus terpolarisasi, dewasa ini dikenal pula profesi guru ngaji yang berbeda dengan para kyai.

Guru ngaji ini umumnya mendirikan surau. Tempat bagi anak-anak belajar membaca Al-Quran untuk pertama kali sebelum melanjutkan ke pesantren atau pendidikan formal lainnya.

Bagi generasi yang lahir pada era 70-an, saat lampu teplok menjadi penerangan rumah warga di pelosok-pelosok, pastilah akrab dengan suasana surau dan guru ngaji yang kadang sangat galak.

Mereka tekun mengajari anak-anak kecil di kampung-kampung selepas azan magrib berkumandang dengan sarana seadanya.

Baca Juga :  Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP

Hanya saja guru ngaji itu, saat ini berada dalam struktur sosial yang berbeda dengan pegawai negeri, karyawan atau buruh pabrik.

Mereka tak punya penghasilan tetap dan menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian atau perikanan. Walaupun disaat yang sama mereka menanggung beban yang tak bisa dipandang remeh.

Merekalah, para guru ngaji yang menjadi gantungan harapan orang tua yang menginginkan anak-anaknya fasih membaca Al-Quran. Mereka juga yang dibebani tanggungjawab untuk menjadikan anak-anak milenial mengenal pendidikan dasar keagamaan.

Kita tahu, anak-anak milenial saat ini terjebak dalam era toksik akibat candu media sosial seperti tiktok dan youtube. Sulit sekali menjauhkan mereka dari gawai dan menyuruh mereka ke surau secara teratur untuk belajar mengaji kitab suci.

Baca Juga :  Ketika Kebebasan Berpendapat Antara Semu dan Realita

Dulu, ketika Bung Karno berpesan bangsa yang besar adalah bangsa yang (tahu cara) menghargai jasa pahlawan, maka kini Bupati Fauzi mampu mengkontekstualkan (baca: membumikan) pesan bersejarah itu.

Bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang gugur dalam kecamuk perang kemerdekaan yang berlangsung berjilid-jilid selama ratusan tahun. Tetapi juga untuk para guru ngaji yang mengabdikan hidupnya mengajarkan anak-anak dengan pendidikan Al-Quran.

Bagi saya tak ada mantan guru. Apalagi guru ngaji. Mereka, orang-orang yang rela bekerja dalam sunyi. Sampai mereka pun kadang tak mendengar jika santrinya kini telah menjadi Bupati yang peduli (memberi bantuan) pada guru ngaji (*).

Berita Terkait

Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam
ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan
Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan
Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau
Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan
Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara
Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya
Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 11:39 WIB

Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:48 WIB

ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:57 WIB

Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:07 WIB

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:17 WIB

Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan

Berita Terbaru