JAKARTA, NOLESA.COM – Novita Hardini yang merupakan anggota DPR RI Komisi VII menilai promoi pariwisata Indonesia belum maksimal. Pasalnya promosi wisata belum diimbangi dengan infrastruktur yang memadai.
Hal itu disampaikan Novita Hardini selaku legislator PDI Perjuangan pada saat Rapat Kerja bersama Menteri Pariwisata RI di Senayan pada Rabu kemarin, 21 Januari 2026.
Sebagai solusi agar promosi maksimal, politikus berparas cantik itu meminta minta Kementerian Pariwisata fokus pada pembangunan infrastruktur dasar sebagai core strategy pariwisata nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan begitu, kata Novita, gencarnya promosi pariwisata yang dilakukan bisa maksimal karena didukung dengan kesiapan infrastruktur dan rencana tata ruang destinasi yang memadai.
Ia juga mengatakan jika promosi pariwisata Indonesia yang saat ini dilakukan secara masif hingga ke luar negeri, bahkan melalui media seperti taksi-taksi di negara asing. Menurutnya, strategi tersebut tidak bijaksana.
“Promosi kita luar biasa gencar, sampai ke luar negeri. Tapi pertanyaannya, apakah infrastruktur kita sudah siap menerima wisatawan? Jelas belum. Harusnya anggarannya dipakai untuk membenahi akses akses jalan menuju destinasi pariwisata dan pemerataan tata ruang pariwisata secara merata.” jelas Novita.
Ia pun menilai sebagian anggaran promosi pariwisata lebih bijaksana dialihkan untuk pembenahan infrastruktur dasar, terutama akses jalan, sanitasi, konektivitas dengan moda transportasi publik antar destinasi.
“Promosi tanpa kesiapan infrastruktur itu seperti menjual janji. Kementerian pariwisata belum menyiapkan strategi visi jangka panjang yang lebih subtansial untuk kemajuan pariwisata alih alih hanya fokus mengerjakan proyek event saja.” ujarnya.
Dewan asal Trenggalek itu mengatakan jika implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dalam pembangunan pariwisata. Maka pemerataan destinasi wisata akan sulit tercapai. Overtourism hanya di satu titik saja, dan under utilization di titik lain, serta rusaknya alam karena exploitasi untuk kepentingan wisata berlebihan.
Novita menilai Kementerian Pariwisata belum cukup kuat memastikan pembangunan destinasi berjalan selaras dengan tata ruang ekologis.
Selain itu, ia menyoroti lemahnya koordinasi lintas kementerian, khususnya dengan Kementerian PUPR, Perhubungan, KLHK, dan BUMN, dalam pembangunan fisik pendukung pariwisata.
“Pariwisata tidak bisa hanya berbicara event dan promosi saja. Pariwisata harus lebih berani memikirkan grand desain infrastruktur 10 tahun mendatang, jika tidak Pariwisata Indonesia akan tenggelam.” katanya.
Lebih jauh ia juga menyinggung pengelolaan lingkungan yang masih bersifat reaktif. Menurutnya, banyak bencana di kawasan wisata terjadi karena negara terlambat melakukan pencegahan.
“Kita sering baru bergerak setelah bencana terjadi. Ironinya, negara gurun (middle east) yang kering saja justru sangat peduli menjaga kelestarian lingkungannya dibanding negara kita yang sudah dianugerahi Tuhan, kaya akan alam,” pungkasnya.
Ia menekankan pentingnya menyiapkan program-program preventif dalam menjaga alam, bukan sekadar penanganan darurat setelah kerusakan terjadi.
Dirinya mendorong agar Kementerian Pariwisata memiliki visi jangka panjang agar Indonesia bisa menjadi Global-Hub tourism seperti negara-negara Timur Tengah yang secara konsisten membangun industri pariwisata secara berkelanjutan.
Menurutnya, pengembangan pariwisata nasional harus diarahkan pada optimalisasi yang berbasis sistem tata ruang ekologis dan zonasi yang jelas, sekaligus zonasi dan aturan jelas batas harga terendah dan tertinggi produk UMKM lokal di sekitar pariwisata.
“Indonesia punya peluang besar menjadi global hub tourism bagi wisatawan asing dengan keperluan yang berbeda-beda. Ada yang suka alam, ada yang suka budaya, ada yang suka berbisnis. Maka masing-masing preferency kebutuhan wisatawan adalah dasar grand design zonasi wisata berbasis pengalaman wisata. Tidak hanya sekedar proyek event dan branding saja.” jelas politisi fraksi PDI Perjuangan itu
Novita Hardini menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan bukan sekadar slogan, melainkan pilihan strategis agar Indonesia tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga dihormati sebagai destinasi kelas dunia.
“Pariwisata harus dibangun dengan visi jangka panjang, bukan sekadar promosi. Kalau fondasinya kuat, branding akan datang dengan sendirinya,” tandasnya. (*)










