Oleh Naslira Alhabsyi*
Saat ini, istilah “Nepal Effect” bukanlah istilah baku atau umum yang dikenal dalam terminologi politik. Ini menegaskan bahwa istilah tersebut belum digunakan secara luas untuk menggambarkan fenomena politik tertentu yang berasal dari Nepal.
Namun dalam perkembangan terakhir, “Nepal Effect” tampaknya lebih sering digunakan dalam konteks akademis atau penelitian untuk merujuk pada kekacauan politik yang diakibatkan oleh pengaruh ketimpangan sosial, ekonomi, runtuhnya penegakan hukum, perilaku korupsi yang masif dan terakhir adalah perilaku pamer hedonisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekacauan politik yang terjadi baru-baru ini di Nepal memiliki karakteristik yang berpotensi memicu gelombang gejolak serupa di negara lain, terutama di negara-negara dengan kondisi sosial dan politik yang rapuh.
Kekacauan ini, yang dimulai dengan protes yang dipicu oleh kebijakan pemerintah, dengan cepat meluas menjadi gerakan yang lebih besar, dipicu oleh frustrasi publik yang mendalam terhadap isu-isu seperti korupsi, nepotisme, pengangguran, dan kesenjangan ekonomi.
Berikut adalah beberapa aspek dari kekacauan politik di Nepal yang dapat beresonansi di wilayah lain dan berpotensi memicu semacam efek domino.
Pertama, penyalahgunaan kekuasaan dan nepotisme. Protes di Nepal dipicu oleh kemarahan terhadap gaya hidup mewah “nepo kids” (anak-anak pejabat) yang kontras dengan kesulitan hidup sebagian besar penduduk. Isu ini sangat relevan di banyak negara berkembang, di mana korupsi dan nepotisme merusak kepercayaan publik dan memperdalam ketidaksetaraan.
Kedua, peran media sosial. Demonstrasi dipicu oleh ban media sosial, namun ironisnya, media sosial juga menjadi alat yang kuat untuk menyebarkan kemarahan dan mengorganisir protes. Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi katalisator bagi perubahan sosial dan politik, sebuah pola yang telah terlihat di banyak gerakan massa di seluruh dunia.
Ketiga, frustrasi generasi muda. Tingkat pengangguran yang tinggi dan kurangnya kesempatan memaksa banyak pemuda Nepal untuk mencari pekerjaan di luar negeri. Frustrasi generasi muda ini menjadi kekuatan pendorong di balik protes, yang mencerminkan ketidakpuasan global di kalangan kaum muda yang merasa masa depan mereka tidak menentu.
Keempat, ketidakstabilan politik dan pemerintahan yang rapuh.
Sejarah politik Nepal ditandai oleh transisi yang panjang dan konflik, termasuk perang saudara. Ketidakstabilan saat ini dapat dilihat sebagai bagian dari siklus ini, dan berpotensi menjadi preseden bagi negara-negara lain dengan sejarah serupa.
Meskipun istilah “Nepal Effect” belum menjadi bagian dari kosakata politik global, dinamika yang terjadi di Nepal, kemarahan publik yang dipicu oleh ketidaksetaraan dan korupsi, yang diperkuat oleh media sosial dan dipimpin oleh generasi muda yang frustrasi, akan sangat relevan dan dapat menjadi model untuk kekacauan politik di masa depan di negara lain.
Jadi, negara manapun harus berbenah diri dan harus lebih sensitif, pintar dan bijak dalam melakukan manajemen konflik, baik sosial maupun politik khususnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
*) Pengamat Sosial










