Menulis Bersama Mahasiswa

Redaksi Nolesa

Rabu, 19 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Abd. Kadir (Foto: dokumen pribadi)

Abd. Kadir (Foto: dokumen pribadi)

Oleh Abd. Kadir

(Dosen STKIP PGRI Sumenep)


Tahun 2024 ini saya diminta Kaprodi PBSI STKIP PGRI Sumenep (yang juga yunior saya dulu di Lembaga Pers Mahasiswa STKIP), untuk mengampu mata kuliah “Menulis Kreatif”. Meskipun ini bukan mata kuliah wajib yang harus dipelajari oleh mahasiswa, tapi, pihak kampus menganggap mata kuliah ini penting dan wajib diajarkan kepada mahasiswa. Walhasil, saya diminta untuk mengampunya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari awal saya sebenarnya agak keberatan, karena tugas-tugas utama saya di kantor cukup menyita waktu banyak. Artinya, kalau saya mengampu mata kuliah ini, berarti setiap minggu saya harus menyempatkan diri ke kampus memberikan kuliah.

Tetapi, karena Kaprodi PBSI terus memaksa saya, dengan pertimbangan saya sebagai alumni STKIP dan memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi dalam pengembangan kampus, akhirnya saya menerima permintaan Kaprodi PBSI. Setelah mengamini permintaan itu, ternyata saya disuguhi beberapa mata kuliah. Yang pada awalnya diminta mengampu mata kuliah “Menulis Kreatif”, malah ditambah dengan mata kuliah “Kritik Sastra”. Saya sampaikan bahwa saat ini saya hanya bisa mengampu mata kuliah “Menulis Kreatif” dan paling banyak hanya dua kelas. Alasan utamanya, seperti yang saya sampaikan di awal tadi: kesibukan kantor masih padat merayap. Kalau nanti ditambah mata kuliah “Kritik Sastra”, maka semakin menambah kesibukan saya. Tampaknya, ketika dipaksakan, maka tidak akan efektif juga.

Baca Juga :  Balasan Bagi Orang yang Sabar Tidak Lagi Ditimbang dan Diukur

Saya sampaikan ke Kaprodi PBSI, bahwa saya hanya bisa mengampu mata kuliah “Menulis Kreatif”. Unuk mata kuliah “Kritik Sastra” saya angkat tangan. Selain waktu yang belum memungkinkan, dalam beberapa tahun terakhir ini, saya sudah lama menepi dari dunia sastra. Artinya, memberikan kuliah “Kritik Satra” mengharuskan saya beradaptasi lagi dengan dunia jungkir balik sastra. Karena alasan itulah, Kaprodi PBSI memahami penolakan saya untuk tidak mengampu mata kuliah “Kritik Sastra”.

Sebagai konsekuensi, ketika saya mengamini untuk mengampu mata kuliah “Menulis Kreatif”, maka saya pun harus menjalaninya dengan sepenuh hati. Artinya, memberikan keilmuan tentang menulis itu tidak hanya sekadar mentransfer pengetahuan saja, tetapi sampai pada titik pencapaian “mahasiswa bisa menghasilkan tulisan kreatif”. Nah, pada konteks inilah keseriusan saya untuk membangun ruang nyata kepenulisan bagi mahasiswa teruji.

Baca Juga :  Anak Menjerit, Orang Tua Diam: Ketika Pesantren Jadi Trauma Awal

Karena menulis bukanlah sekadar keilmuan, maka bagi saya mentransfer keilmuan an sich, tidaklah cukup. Menulis adalah keterampilan yang harus dilatih, dan pada akhirnya akan menghasilkan portofolio atas apa yang dituliskan oleh mahasiswa sehingga ada “artefak” yang dihasilkan dalam kurun waktu satu semester perkuliahan itu.

Dari awal saya memang sudah bertekad akan menulis bersama mahasiswa. Saya tidak hanya sekadar menyuruh secara verbal kepada mahasiswa, tanpa memberikan keteladan dalam menghasilkan tulisan. Dalam proses menulis bersama mahasiswa ini, saya memotivasi mahasiswa untuk menulis dan mengapresiasi segala tulisan yang dianggap layak untuk dikonsumsi publik. Berbagai tulisan mahasiswa yang dikirim ke saya dalam bentuk file, saya pelajari satu per satu, untuk saya berikan catatan: kekuatan dan kelemahannya. Ketika perlu perbaikan, saya minta untuk diperbaiki lagi. Kalau sudah dianggap cukup, baru saya kirimkan ke media.

Selain itu, karena menulis bersama, saya juga memberikan contoh tulisan yang saya kirimkan ke media massa: baik itu tulisan di media cetak, maupun media online. Apresiasi yang saya berikan, bagi mahasiswa yang tulisannya sudah masuk kategori layak, saya kirimkan ke media massa (baik cetak maupun online). Selain itu, model apresiasi yang dicontohkan Gus Iqdam dalam menjalankan dakwahnya, menjadi inspirasi bagi saya untuk memberikan apresiasi lanjutan kepada mahasiswa yang telah semangat untuk menulis. Tulisan mereka saya apresiasi dalam bentuk finansial, meskipun hanya sebatas stimulan. Tetapi, ternyata model ini cukup ampuh untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk menulis. Meskipun tidak sampai menjelma “kampung akademik menulis”, tetapi hampir setiap minggu, ada saja tulisan yang dikirim mahasiswa.

Baca Juga :  Memformulasikan Ulang Fungsi dan Kewenangan DPD

Dari sini, saya berpikir bahwa mengapresiasi hasil karya mahasiswa ini perlu dilanjutkan lagi dengan mengumpulkan tulisan mereka dalam sebuah buku antologi (ber-ISBN), sehingga di akhir semester, mereka akan menikmati karya mereka dalam sebuah buku. Ini akan menjadi “artefak” yang akan terus dikenang oleh mahasiswa, bahwa selama satu semester ternyata mereka telah menghasilkan buku. Ariel Noah saja menulis buku, apalagi mahasiswa. Ah, semoga!

Berita Terkait

Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?
Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama
Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi
Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin
Desa Tangguh Bencana
Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam
Puisi-puisi Wail Arrifqi
Melampaui Bayang-Bayang Sherlock: Enola Holmes sebagai Alegori Kebangkitan Suara Perempuan

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:04 WIB

Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 11:50 WIB

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:58 WIB

Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi

Jumat, 21 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:04 WIB

Desa Tangguh Bencana

Berita Terbaru

Juru Bicara Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim Martin Hamonangan (Foto: Istimewa)

Daerah

PDIP Jatim Dorong Tambahan Modal Jamkrida untuk UMKM

Senin, 7 Sep 2026 - 23:27 WIB

Presiden Prabowo (Foto: Istimewa)

Nasional

Presiden Prabowo Minta Anggaran Mitigasi Bencana Ditambah

Senin, 7 Sep 2026 - 23:08 WIB