Manusia sebagai Perahu

Mohammad Arif Arifin

Jumat, 20 Mei 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi by pixabay.com

Ilustrasi by pixabay.com

Pada zaman yang jauh. Zaman sebelum Islam benar-benar tersebar luas. Zaman di mana generasi sahabat masih bisa secara langsung menyaksikan serta mendengarkan apa yang dicontohkan dan disabdakan oleh Nabi Muhammad saw. Sang Manusia Agung itu menyampaikan kepada para sahabat bahwa hidup laksana sebuah perahu berlayar mengarungi samudra.

Kala itu dunia tak begitu ingar bingar, kesunyian mengendap di mana saja dan menjernihkan pikiran. Sementara hari ini, kemajuan teknologi memang telah banyak mempermudah urusan manusia, tetepi di sisi lain orang-orang justru juga banyak kehilangan. Kehilangan terbesar yang dialami manusia modern adalah kehilangan kesunyian. Ia pun lupa hidup yang kompleks perlu direnungkan.

Alpanya manusia dari merenungkan hidupnya hari ini telah membuat dirinya terjebak pada keinginan-keinginan semu yang dibentuk oleh trend dan mode. Manusia nyaris tidak memiliki lagi kesadaran luhur. Padahal sebagai makhluk, sejatinya manusia hanya melakukan perjalanan dan singgah di dunia. Oleh karena itu, dunia bukan tujuan akhir dari sebuah perjalanan apalagi untuk tinggal dan menetap selamanya.

Di tengah ingar bingar kehidupan modern yang kian menyeret manusia pada arus yang membuat lupa pada dirinya, sudah semestinya untuk merenungkan apa yang disampaikan Nabi berabad-abad lalu: manusia sebagai sebuah perahu. Rasulullah menyampaikan tiga pesan penting. Tiga pesan itu merupakan langkah bagi manusia agar menjadi perahu yang selamat dalam pelayaran mengarungi samudra dan berlabuh dipulau impian, yaitu surga.

Pertama, ibarat sebagai sebuah perahu manusia harus selalu baharu dalam perjalanannya. Kebaharuan adalah niscaya. Sebab, sebuah perahu selalu harus dalam kondisi terbaik supaya tak mudah karam oleh badai dan gelombang dalam pelayarannya. Begitupun manusia ia harus selalu baharu di setiap harinya. Jika perahu harus selalu dipastikan keadaannya dengan cara memeriksa seluruh bagiannya, maka begitupun manusia, ia harus selalu introspeksi diri setiap saat. Melalui introspeksi manusia akan mengerti kekurangan dalam dirinya sehingga ia pun tahu hal apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya. Dengan demikian, tiap saat manusia akan senantiasa menempuh perjalanan dengan diri yang baharu.

Baca Juga :  Kenapa Film Ben & Jody Harus Masuk List Tontonanmu Bulan Ini?

Kedua, manusia sebagai sebuah perahu yang melakukan perjalanan harus selalu memastikan perbekalannya. Perbekalan yang ia bawa harus dipastikan cukup untuk mengantarkan dirinya dengan tenang hingga pelabuhan terakhir yang di dambakan, yaitu surga. Ibarat perahu yang melakukan perjalanan jauh, manusia sejatinya dapat mengumpulkan perbekalan sebanyak-banyaknya ketika di dunia.

Baca Juga :  Problematika Industri Halal di Indonesia

Ibarat sebagai sebuah perahu yang melakukan pelayaran, selain tiap saat manusia harus memastikan kebaharuan dirinya serta mengumpulkan bekal sebanyak mungkin, keempat, ia harus juga membuang segala sesuatu yang dapat menghambat perjalanannya. Dunia sebagai tempat singgah dalam perjalanan panjang yang dilakukan manusia, sengaja maupun tidak, ia tidak dapat menumpuk hal-hal yang dapat menghambat perjalanannya. Hal-hal yang bisa menghambat perjalanan manusia mewujud dalam bentuk dosa kecil maupun besar sehingga bekal-bekal yang telah dikumpulkan, berupa pahala, bisa menjadi hangus bahkan tak tersisa. Dengan begitu, bukan tidak mungkin perahu akan tenggelam sebelum sampai di pulau impian.

Demikianlah Rasulullah saw berpesan kepada manusia agar selalu mawas diri terhadap keberadaan dirinya sendiri (*)

*Peminat Kajian Keislaman dan Kebudayaan

Berita Terkait

Pertumbuhan Demokrasi dan Kritisisme Publik 
Mengapa Suara Ganjar Anjlok?
Selamat Datang di Era Otoritarianisme Kompetitif
Memanfaatkan Masa Tenang sebagai Ritual Pemilu Damai
HPN, Pilpres, dan Demokrasi Kita
HPN 2024 dan Jurnalisme Masa Kini
Mendengarkan Suara Keprihatinan Kampus
Kita Hidup Dimasa yang Amat Jauh dari Generasi Terbaik

Berita Terkait

Kamis, 15 Februari 2024 - 16:26 WIB

Mengapa Suara Ganjar Anjlok?

Kamis, 15 Februari 2024 - 07:15 WIB

Selamat Datang di Era Otoritarianisme Kompetitif

Minggu, 11 Februari 2024 - 19:00 WIB

Memanfaatkan Masa Tenang sebagai Ritual Pemilu Damai

Jumat, 9 Februari 2024 - 14:10 WIB

HPN, Pilpres, dan Demokrasi Kita

Jumat, 9 Februari 2024 - 13:09 WIB

HPN 2024 dan Jurnalisme Masa Kini

Rabu, 7 Februari 2024 - 20:36 WIB

Mendengarkan Suara Keprihatinan Kampus

Jumat, 26 Januari 2024 - 08:50 WIB

Kita Hidup Dimasa yang Amat Jauh dari Generasi Terbaik

Selasa, 23 Januari 2024 - 16:52 WIB

Menyelamatkan Demokrasi

Berita Terbaru

Opini

Selebrasi Merdeka Berkarya

Rabu, 28 Feb 2024 - 21:23 WIB

Daerah

Bupati Sumenep Berupaya Keras Tekan Harga Beras

Kamis, 22 Feb 2024 - 15:22 WIB