Kiai adalah Kita

Redaksi Nolesa

Minggu, 7 Agustus 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Oleh Farisi Aris*)


Suatu waktu saya pernah berbalas komentar dengan seorang kiai. Temanya soal politik.

Karena itu berlangsung di media sosial, saya tidak ambil serius. Bagi saya, media sosial adalah taman bermain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, pun membahas hal-hal serius, hampir setiap berbalas komentar, saya selalu mencari kalimat-kalimat yang ringan.

Kata seorang nitizen, yang duniawi saja.

Dan itu, juga saya lakukan saat berbalas komentar dengan kiai yang juga masih guru saya, saya bawa enjoy saja. Membalas dengan nada-nada bercanda.

Tak disangka. Ada yang kebakaran jenggot. Ulah saya yang berbalas komentar dengan kiai itu dianggap su’ul adzab. Muncullah sumpah serapah.

Saya tersenyum membaca ulah netizen yang, jangankan kenal, merasa kenal saja tidak. Namun, saya memaklumi itu semua. Termasuk sumpah serapahnya.

Baca Juga :  Mengakhiri Politik Identitas dan Politik Uang

Toh, bagaimanapun, hak untuk menafsirkan teks yang ia baca adalah hak ia sepenuhnya.

Saya –sebagai pengucap– tidak punya hak untuk membatasi, apalagi mengintervensi semesta tafsir sang pembaca.

Tafsir dan pengkultusan kiai

Adakah tafsir yang objektif, yang terlepas dari subjektivitas si penafsir?

Tentu ada. Banyak bahkan. Dan itu terjadi, bila si penafsir menjaga jarak dari objek yang ditafsiri itu sendiri.

Pada saat bersamaan, juga tak lupa menjadikan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya teropong kebenaran.


Meski kita semua bukan kiai, tapi semua kiai itu adalah kita: manusia pada umumnya.


Akan tetapi, masyarakat kita tidak punya tradisi intelektual macam itu. Tradisi yang kita punya adalah tradisi menghakimi, dengan asumsi, dengan spekulasi.

Baca Juga :  Narges, Perempuan, dan Perdamaian

Sering kali, atau kebanyakan, peristiwa-peristiwa budaya, sosial, apalagi politik, dilihat dari sudut-sudut yang paling personal, alih-alih berpegang pada ilmu pengetahuan.

Dan, tak bisa dipungkiri, sumpah serapah yang saya dapati dalam peristiwa balas komentar dengan seorang kiai itu, juga tak lebih dari sekadar argumen yang tidak memiliki pijakan rasionalitas.

Setidaknya, hal itu bisa dilihat dari komentarnya yang mengkultuskan posisi seorang kiai tanpa mau menyaksikan bagaimana ilmu pengetahuan melihatnya.

Kiai diposisikan sebagai monumen kebenaran yang final, yang tidak bisa dilawan secara dialogis. Melawannya dianggap tabu. Atau haram sekaligus.

Baca Juga :  Demokrasi dan Transparansi Kebijakan Publik

Padahal, di dalam konsep politik kesetaraan, kelas sosial itu adalah barang mati. Dan, semua subjek, sama sebagai manusia. Yang punya kesempatan yang sama untuk berbicara.

Namun, terlepas dari konsep kesetaraan politik itu, saya tetap heran dengan fenomena pengkultusan kiai itu. Mengapa kita begitu suka mengkultuskan kiai?

Bukankah kiai juga manusia? Bukan nabi yang maksum (terjaga) dari kesalahan. Juga bukan malaikat yang selamanya putih!

Anda mau contoh? Silakan buka Mbah Google. Lalu, ketik frasa kasus kiai… Anda akan menemukan bahwa kiai itu manusia biasa.

Jadi, meski kita semua bukan kiai, tapi semua kiai itu adalah kita: manusia pada umumnya.


*)Farisi Aris, penulis lepas, mukim di Yogyakarta

Berita Terkait

Hari Tasyrik
Masjid Kampus Harus Berfungsi Lebih
Jangan Mematikan Hati
Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa
DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026
Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya
Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci
Mabrur Tanpa Berhaji

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 11:42 WIB

Hari Tasyrik

Jumat, 15 Mei 2026 - 12:32 WIB

Masjid Kampus Harus Berfungsi Lebih

Jumat, 15 Mei 2026 - 09:11 WIB

Jangan Mematikan Hati

Jumat, 24 April 2026 - 07:03 WIB

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa

Jumat, 10 April 2026 - 18:53 WIB

DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026

Berita Terbaru

Ketua DPD PDIP Jawa Timur, MH Said Abdullah (Foto: Istimewa)

Politik

Di Lumajang, Ketua DPD PDIP Jatim Tegaskan Kekuatan Partai

Minggu, 14 Jun 2026 - 14:52 WIB