Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Minggu lalu, ada teman saya yang datang untuk diskusi tentang kepemimpinan kiai. Beliau mahasiswa S2 yang akan menulis tesis seputar kepemimpinan kiai di pesantren.
Kegigihannya untuk tetap menyelesaikan kuliah meskipun di usia yang sudah “berkepala empat” patut diacungi jempol. Semangat yang luar biasa dan bisa menjadi inspirasi untuk banyak orang dalam konteks mencari ilmu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Membincang tentang kepemimpinan kiai, saya hanya memberikan pemahaman tentang bagaimana kiai di pesantren ini bisa dilihat dari beberapa sisi. Pertama, dari sisi karismatik.
Di sini, perilaku akan tercermin bagaimana seorang kiai bisa menjadi pimoinan di pondok pesantren, misalnya, untuk memberikan keyakinan dan kesadaran tentang penguatan visi, misi serta belajar menghargai dan menyerap aspirasi para ustaz, santri dan stake holder pondok pesantren.
Karisma seorang kiai biasanya lahir dari perpaduan antara keteladanan akhlak, kedalaman ilmu agama, dan karisma rohani. Karena adanya keteladanan inilah keyakinan dan kesadaran itu akan muncul.
Sebagaimana teori internalisasi nilai, bahwa efektivitas internalisasi nilai akan lebih dikuat dengan adanya keteladanan.
Kedua, sisi inspirasi dan motivasi. Sisi ini menunjukkan betapa kiai adalah seorang pimpinan pondok pesantren yang bisa menjadi inspirasi dan motoivasi yang kuat bagi masyarakat pesantren khsusnya tentang bagaimana semangat juang untuk mencapai misi pesantren.
Di sini kekuatan inspirasi dan motivasi ini akan dipengaruhi oleh karisma kiai. Bahwa seorang kiai yang memiliki daya tarik spiritual, intelektual, dan sosial yang kuat sehingga mampu memengaruhi, menginspirasi, dan memimpin masyarakat atau santri dengan wibawa yang khas, meskipun tanpa kekuasaan formal.
Ketiga, sisi intelektualitas. Pada ranah ini, intelektualitas seorang kiai diperlukan dalam konteks memberikan rangsangan dan penguatan intelegensi, serta kepekaan untuk memutuskan suatu hal yang tepat dan terarah serta berimplikasi positif untuk kemajuan pondok pesantren.
Makanya, intelektualitas kiai ini merujuk pada kapasitas berpikir, kemampuan ilmiah, dan kedalaman pemahaman kiai terhadap agama serta realitas sosial di sekitarnya. Seorang kiai tidak hanya menjadi tokoh spiritual, tetapi juga intelektual organik yang mampu menjawab tantangan zaman melalui pendekatan keilmuan yang khas dan kontekstual.
Kiai tidak sekadar menguasai teks, tetapi mampu menerapkan nilai-nilai agama dalam konteks masyarakat modern. Ia paham bagaimana Islam berinteraksi dengan sosial budaya lokal, dinamika politik dan perkembangan ekonomi dan teknologi.
Banyak kiai juga bertindak sebagai penggerak wacana keagamaan dan sosial menulis kitab, makalah, dan ceramah-ceramah berbasis analisis tajam terlibat dalam forum keilmuan, baik formal maupun nonformal menjadi narasumber atau pengarah kebijakan berbasis nilai-nilai Islam. Artinya, bahwa kiai juga memiliki kapasitas sebagai itelektualitas publik.
Keempat, sisi personalitas. Sisi ini menyiratkan bagaimana perilaku atau kemapuan seorang kiai untuk mengajari dan mengkader seseorang bawahan secara personal dengan melihat potensi yang dimilliki oleh orang-orang di sekeliling kiai: para ustaz, santri dan yang lainnya. Personalitas atau kepribadian kiai mencerminkan perpaduan antara karakter moral, sikap sosial, dan identitas spiritual yang khas dalam diri seorang pemimpin agama Islam tradisional di Indonesia. Kepribadian ini terbentuk dari pendidikan pesantren, pengamalan ajaran Islam, serta pengaruh lingkungan sosial.
Saya katakan pada teman saya, bahwa keempat sisi ini hanyalah bagian kecil dari banyak hal yang menjadi fenomena dan dinamika kiai di pesantren. Selebihnya, bisa dilakukan riset langsung ke pesantren. Ya, begitulah!
*Alumni Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Pangarangan, Sumenep










