Kegilaan, Harapan, dan Ketakutan: Analisis Sosiologis dari Naskah Drama Orang-Orang di Tikungan Jalan Karya W. S. Rendra

Redaksi Nolesa

Kamis, 12 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Nasywa Fairuz Kamalia

ESAI, NOLESA.COM – Sebuah drama muncul di Indonesia sebelum negara tersebut merdeka. Drama merupakan wujud dari pertikaian, perilaku, dan kemanusiaan, yang ditampilkan melalui dialog dan tindakan.

Setiap naskah drama yang ditulis oleh penulis pasti mempunyai gaya bahasa unik atau ciri khusus terkait karya mereka, seperti W.S Rendra yang dikenal secara luas sebagai seorang penulis dan seniman yang banyak menghasilkan sebuah karya-karya yang berkembang pada tahunnya (Rizkia, 2021).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

W. S Rendra, bernama asli Willibrodus Surendra Broto, ia lahir di Solo pada tanggal 7 November 1935 dari pasangan Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. W.S. Rendra dikenal sebagai penyair, dramawan, dan budayawan terkemuka Indonesia. Ia mulai menulis puisi sejak usia muda dan aktif di dunia teater sejak kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Rendra mendalami seni drama dan sastra di Amerika Serikat, tepatnya di American Academy of Dramatic Arts di New York, yang memperkaya pendekatan artistiknya dalam dunia teater. Pada 1967, ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta, sebuah kelompok teater eksperimental yang menjadi wadah penting dalam perkembangan teater modern Indonesia. Ia dijuluki “Burung Merak” karena gaya pementasannya yang ekspresif dan karismatik.

W.S. Rendra adalah sosok yang dikenal luas oleh publik sebagai seorang sastrawan dan seniman, dengan banyak karya drama yang telah berkembang sejak tahun 1954. Pada usia 17 tahun, bakat Rendra sudah mulai tampak, berkat lingkungan keluarga yang mendukung; ayahnya merupakan seorang pengajar Bahasa Indonesia dan Jawa Kuno, sementara ibunya adalah seorang penari serimpi.

Sejak masa kanak-kanaknya, Rendra tidak merasa kesulitan ketika ayahnya mengenalkan berbagai jenis puisi seperti soneta, pantun, dan stanza. Rendra dengan cepat menangkap pelajaran yang diberikan oleh ayahnya, terutama dalam aktivitas ekstrakurikuler teater.

Ayahnya sering menyutradarai Rendra dalam acara sekolah atau perayaan Natal, dari pengalaman inilah Rendra belajar tentang setting, blocking, karakter, kostum, dan semua elemen teater lainnya. Dalam melakukan gerak tubuh melalui pementasan drama yang dilakukan Rendra memperlihatkan aksi panggungnya yang sangat memukau (Mulyani, 2014).

Setiap naskah dalam seni teater pastinya memiliki makna. Salah satunya naskah yang ditulis oleh WS Rendra, Februai 1954. Alam Rendra dan teater modern Indonesia karya Edi Haryono (2013: 3), drama yang ditulis W. S Rendra secara singkat dengan latar tempat yang sama memberi pesan permasalahan hidup orang-orang yang bersumber dari sebuah cinta.

Naskah ini memperlihatkan tema sosial, filosofis dan psikologis melalui plot, watak setiap tokoh dan suasana. Pesan naskah teater ini seringkali kita temui dalam kehidupan saat ini, yaitu bagaimana mengatasi dan melawan rasa kehilangan cinta pada diri manusia. Didukung dengan rasa ingin dihargai dan dipercayai, serta menundukan keegoisan (Nanda & Widyanti, 2020).

Dalam menciptakan banyak karya, Rendra tidak hanya fokus pada puisi, tetapi juga menghasilkan drama serta artikel. Saat ia berada di kelas II SMP, Rendra mempersembahkan drama yang ia tulis sendiri. Naskah yang diciptakannya pada masa itu berjudul “Orang-Orang di Tikungan Jalan.” Karena keberhasilannya dalam menulis drama, pada tahun 1954, Rendra meraih juara pertama dalam lomba drama yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Walaupun sudah menulis beberapa karya puisi maupun drama, sajaknya baru dipublikasikan untuk pertama kalinya pada saat berada di bangku SMA (Mulyani, 2014).

Drama adalah sebuah tindakan atau perilaku. Kata ini berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang memiliki arti berbuat, berlaku, bertindak, dan lain-lain. Drama menggambarkan kehidupan melalui gerakan. Konflik yang timbul dari sifat manusia menjadi elemen utama dalam drama. Naskah drama berfungsi sebagai representasi ide penulis yang mencakup pengalaman nilai-nilai umum, sekaligus sebagai konsep dasar untuk para aktor.

Baca Juga :  Perempuan dan Perpustakaan Orang-orang Mati

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa karya sastra muncul dari latar belakang serta motivasi mendasar manusia untuk mengekspresikan keberadaannya. Sebuah karya sastra dianggap sebagai representasi nyata dari kehidupan dan konteks penyajiannya, tersusun dengan cara yang teratur dan menarik serta menggunakan media bahasa berupa teks yang disusun melalui pengalaman dan pengetahuan secara potensial memiliki berbagai macam bentuk representasi kehidupan (Anwar, 2019).

Naskah tersebut memperlihatkan kompleksitas dan kedekatan karya sastra terhadap masyarakat yang ada, khususnya di Indonesia. Bahkan beberapa masalah yang terjadi seperti persoalan gender, perempuan yang dapat direpresentasikan sebagai manusia kelas dua. Dalam konteks studi gender, subordinasi dijelaskan sebagai perlakuan yang merendahkan kaum perempuan, menganggap mereka sebagai individu yang kurang dihargai atau dianggap kelas dua dalam masyarakat (Baso 2021:49).

Menurut pendekatan sosiologi sastra, karya sastra dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Kenyataan dalam konteks ini memiliki makna yang sangat luas, yaitu segala hal yang ada di luar karya sastra yang menjadi rujukan dalam karya sastra itu sendiri. Demikianlah, pendekatan sosiologi sastra menaruh perhatian pada aspek documenter sastra dengan landasan suatu pandangan bahwa sastra merupakan gambaran atau potret fenomena sosial (Logita, 2019).

Secara realita, karya sastra selalu mencerminkan masyarakat. Hingga saat ini, karya sastra khususnya di Indonesia masih sangat dominan dengan tema-tema sosial. Walaupun perkembangannya yang sangat progresif, perkembangan karya sastra tidak dapat terlepas dari para seniman, dramawan, penyair, dan prosais sebelumnya. Salah satunya yang sangat menarik ialah W.S. Rendra dalam naskah drama Orang-Orang di Tikungan Jalan (Septiadi, 2024). Naskah ini menyajikan realitas yang getir namun relevan, terutama dalam konteks masyarakat yang dihadapkan pada ketimpangan sosial dan ekonomi. Para tokoh dalam drama ini adalah representasi dari suara-suara yang sering kali diabaikan: pengamen jalanan, gelandangan, dan warga miskin.

Karya sastra, sejak awal kemunculannya, memang tidak pernah bisa dilepaskan dari realitas sosial masyarakat yang melahirkannya. Ia bukan hanya sekadar hasil imajinasi sastrawan, tetapi juga merupakan respons terhadap situasi dan kondisi sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang sedang berlangsung. Di Indonesia, perkembangan karya sastra sangat erat kaitannya dengan dinamika masyarakat, terutama dalam menyoroti isu-isu sosial yang masih menjadi problematika utama hingga hari ini. Tema-tema seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, marginalisasi, dan eksistensi manusia di tengah sistem yang menindas, terus menjadi sumber inspirasi bagi para sastrawan. Salah satu karya yang sangat menonjol dalam mengangkat realitas getir masyarakat marjinal adalah naskah drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan” karya W.S. Rendra. Karya ini tidak hanya menjadi potret kehidupan jalanan, tetapi juga menjadi refleksi mendalam tentang luka sosial, psikologis, dan eksistensial manusia yang terpinggirkan.

Naskah ini mengambil setting di sebuah tikungan jalan kecil yang remang dan sepi di malam hari. Tempat ini menjadi semacam ruang liminal, persimpangan yang mempertemukan berbagai tokoh dari kalangan marjinal kota: pengamen, gelandangan, pelacur, pemabuk, dan orang gila. Mereka semua adalah korban dari sistem sosial yang gagal memberikan keadilan dan kesempatan hidup yang layak. Tokoh utama, Djoko, adalah seorang pemuda yang sedang merenung tentang kehidupan, mencoba mencari makna dan jawaban di tengah keterpurukan. Ia bertemu dengan Sri, seorang perempuan jalang dengan masa lalu yang pahit dan kelam. Pertemuan mereka bukan hanya pertemuan dua individu, melainkan juga pertemuan dua dunia: dunia yang masih berusaha berpikir dan mencari makna, dan dunia yang sudah terlalu lama terluka hingga kehilangan harapan. Percakapan mereka mengungkap luka-luka sosial dan psikologis yang ditanggung oleh para tokoh jalanan itu, memperlihatkan betapa beratnya beban hidup yang harus mereka pikul.

Baca Juga :  Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep

Satu per satu, tokoh-tokoh lain bermunculan dan memperkaya dinamika cerita. Botak, pria jenaka yang tetap ramah di tengah kegetiran hidup, menjadi simbol bahwa humor dan tawa adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap kenyataan pahit. Iyeng, pelacur tua yang dihinakan dan dilupakan, memperlihatkan bagaimana waktu dan sistem sosial telah menelantarkan manusia-manusia yang dianggap tidak berguna. Ada juga pemabuk yang mengutip sajak-sajak Li Tai Po sebagai bentuk pelarian dari kenyataan, serta pemuda gila yang melagukan harmonika sambil mencari ayahnya yang tidak dikenali. Setiap tokoh membawa cerita dan luka masing-masing, membuka lapisan-lapisan harapan yang rapuh dan memperlihatkan bagaimana masyarakat yang menindas telah membuat mereka kehilangan arah hidup.

Dialog-dialog dalam naskah ini tampak ringan di permukaan, namun menyimpan kedalaman dan muatan emosional yang sangat kuat. Percakapan antar tokoh tidak hanya menjadi ajang pertukaran cerita, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi penonton untuk merenungkan makna hidup, kegagalan sistem, dan ketidakadilan yang terjadi. Kritik terhadap stigma sosial, terhadap masyarakat yang gemar menghakimi, serta terhadap sistem yang tidak memberi ruang bagi orang-orang untuk berubah dan bangkit, menjadi inti pesan yang disampaikan Rendra. Ia dengan cerdas menggunakan bahasa yang puitis namun tetap membumi, sehingga pesan-pesan sosial yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh berbagai lapisan masyarakat.

Setting malam hari dan suasana remang-remang menciptakan nuansa kontemplatif yang dalam. Lampu jalan yang temaram, denting harmonika, dan suara-suara malam menjadi citraan visual dan auditif yang sangat kuat, memperkuat suasana getir dan sunyi yang menyelimuti para tokoh. Simbol-simbol seperti tikungan jalan, rokok, dan wedang kacang memperkaya makna narasi, menandai kebutuhan manusia akan kehangatan, pengakuan, dan kebersamaan di tengah keterasingan. Bahkan tindakan-tindakan kecil, seperti menawarkan rokok atau secangkir wedang kacang, menjadi simbol dari kebutuhan akan koneksi, pengakuan, dan pengertian. Dalam suasana yang serba kekurangan, solidaritas kecil antar mereka menjadi satu-satunya harapan untuk bertahan hidup.

Keunggulan utama naskah ini terletak pada kekuatan pesannya, kepekaan sosial penulisnya, serta kemampuan menghadirkan ketegangan tanpa perlu adegan fisik yang berlebihan. Rendra memanfaatkan citraan, metafora, dan perangkat retorika secara efektif, sehingga drama ini tidak hanya hidup dalam narasi, tetapi juga dalam imajinasi dan emosi penonton. Gaya bahasa yang digunakan sangat khas, menggabungkan antara bahasa sehari-hari dengan ungkapan-ungkapan puitis yang sarat makna. Hal ini membuat drama ini tidak hanya menarik secara intelektual, tetapi juga menyentuh secara emosional. Humor yang dihadirkan oleh tokoh Botak menjadi penyeimbang suasana, menghadirkan ironi bahwa di balik tawa, tersimpan kepedihan yang mendalam, dan bahwa manusia tetap membutuhkan hiburan di tengah penderitaan.

Drama ini sangat potensial untuk dipentaskan dalam berbagai skala, baik di ruang konvensional seperti gedung teater maupun di ruang terbuka seperti jalanan atau taman kota. Tema sosial yang diangkat membuat drama ini relevan untuk dijadikan media pendidikan, kampanye sosial, hingga bahan diskusi komunitas. Pemanggungan drama ini di ruang terbuka dapat menghadirkan pengalaman yang lebih otentik dan mendekatkan penonton pada realitas yang diangkat. Akan tetapi, pemanggungan drama ini juga tidak tanpa tantangan. Latar yang statis dan narasi yang banyak mengandalkan percakapan memerlukan kreativitas dalam menjaga dinamika agar penonton tidak merasa jenuh. Penggunaan elemen musik, pencahayaan, dan tata panggung yang kreatif dapat menjadi solusi untuk menghidupkan suasana dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

Aktor yang memerankan tokoh-tokoh dalam drama ini juga harus memiliki kemampuan akting yang mumpuni, terutama dalam menghidupkan karakter dengan kedalaman emosional dan interpretasi yang tepat. Mereka harus mampu menyampaikan emosi, luka, dan harapan para tokoh secara autentik, sehingga penonton dapat merasakan kedekatan emosional dengan karakter-karakter yang ada.

Baca Juga :  Galian C Ilegal: Siapa Yang Bertanggungjawab?

Selain sebagai karya seni, drama ini juga memiliki nilai edukatif yang tinggi. Ia dapat digunakan sebagai bahan ajar di sekolah atau kampus, terutama dalam mata pelajaran atau mata kuliah yang berkaitan dengan sastra, sosiologi, atau pendidikan karakter. Melalui drama ini, siswa dan mahasiswa dapat belajar tentang pentingnya empati, solidaritas, dan keadilan sosial. Mereka juga diajak untuk memahami bahwa di balik setiap individu yang tersingkir, terdapat cerita dan perjuangan hidup yang tidak mudah. Dengan demikian, drama ini dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran sosial dan mendorong perubahan sikap di masyarakat.

Secara stilistika, naskah ini sangat menarik untuk dianalisis. Penggunaan citraan, gaya bahasa, dan perangkat retorika yang khas membuat drama ini memiliki kekuatan estetika yang tinggi. Rendra dengan piawai memadukan antara bahasa lisan yang sederhana dengan ungkapan-ungkapan puitis yang mendalam. Hal ini terlihat dalam monolog-monolog Djoko yang sering kali menjadi ruang refleksi bagi penonton. Monolog tersebut tidak hanya berisi renungan tentang kehidupan, tetapi juga kritik tajam terhadap sistem sosial yang menindas. Selain itu, penggunaan simbol-simbol seperti tikungan jalan, lampu jalan, dan denting harmonika memperkaya makna dan memberikan dimensi tambahan pada narasi. Analisis stilistika terhadap drama ini dapat membuka wawasan tentang bagaimana bahasa dan citraan digunakan untuk memperkuat pesan sosial dan emosional dalam karya sastra.

Pada akhirnya, “Orang-Orang di Tikungan Jalan” bukan hanya potret kehidupan jalanan, tetapi juga refleksi tentang kesepian, penolakan sosial, dan perjuangan untuk diakui sebagai manusia yang utuh. Drama ini mengajak penonton untuk melihat dan merasakan, tanpa menghakimi. Ia menyoroti bagaimana sistem sosial bisa menciptakan luka yang tak kunjung sembuh, bagaimana kegilaan bisa menjadi pelarian dari ketidakadilan, dan bagaimana keinginan untuk dipahami adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Di akhir cerita, penonton tidak hanya menyaksikan kisah orang-orang di tikungan jalan, tetapi juga melihat bayangan diri sendiri di dalamnya. Drama ini menantang kita untuk bertanya: sejauh mana kita benar-benar peduli dan memahami realitas di sekitar kita? Apakah kita hanya penonton yang pasif, ataukah kita mampu menjadi bagian dari perubahan? Dengan demikian, naskah drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan” karya W.S. Rendra adalah karya yang kaya makna dan relevan dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia, serta layak menjadi bahan refleksi dan diskusi lintas generasi, baik di dunia pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Drama ini membuktikan bahwa karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media kritik sosial, pendidikan, dan pembentukan karakter bangsa. Melalui karya ini, Rendra mengingatkan kita bahwa di balik setiap kehidupan yang tampak sepele, tersimpan kisah perjuangan dan harapan yang layak untuk didengar dan dipahami.

Drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah karya yang menggugah kesadaran. Ia tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak penontonnya untuk berpikir dan merasakan. Lewat tokoh-tokoh sederhana, penonton diajak untuk menyaksikan pergulatan hidup yang mungkin tak asing, tapi sering kita abaikan. Naskah ini membuktikan bahwa panggung teater dapat menjadi ruang yang ampuh untuk menyuarakan ketidakadilan, harapan, dan resistensi. Ia menantang kita untuk bertanya: apakah kita akan terus menjadi penonton, atau mulai bergerak dari tikungan jalan menuju jalan yang lebih terang? Dengan semua kekuatan simbolik dan realitas sosial yang diusungnya, drama ini pantas mendapat tempat penting dalam wacana kesenian yang berpihak pada kemanusiaan.

*Nasywa Fairuz Kamalia Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 

Editor : Wail Arrifqi

Berita Terkait

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta
Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol
Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme
PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756
Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep
Alternatif Pengganti Kendaraan Pribadi
Sumpah Pemuda yang Sudah “Menua”
Refleksi Hari Santri Nasional 2025

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 11:05 WIB

“Taubat Ekologis”: Pertobatan Manusia terhadap Alam Semesta

Jumat, 28 November 2025 - 18:24 WIB

Mengungkap Makna Tersembunyi dalam Cerpen “Robohnya Surau Kami” Melalui Tanda Ikon, Indeks, dan Simbol

Selasa, 11 November 2025 - 16:22 WIB

Hari Pahlawan: Antara Heroisme dan Hedonisme

Sabtu, 1 November 2025 - 14:32 WIB

PR Kecil untuk Hari Jadi Sumenep ke-756

Jumat, 31 Oktober 2025 - 01:14 WIB

Perempuan, Warisan, dan Peradaban: Refleksi Hari Jadi ke-756 Kabupaten Sumenep

Berita Terbaru

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menabur bunga saat ziara ke Makam Bung Karno, Minggu, 29/3/2026 (Foto: Istimewa)

Nasional

Dalam Suasana Lebaran, Ketum PDIP Ziarah ke Makam Bung Karno

Senin, 30 Mar 2026 - 15:24 WIB

Ketua Komisi III DPRD Sumenep Komitmen Kawal DAK 2026 (Foto: Humas DPRD Sumenep)

Daerah

Ketua Komisi III DPRD Sumenep Komitmen Kawal DAK 2026

Jumat, 27 Mar 2026 - 13:19 WIB

Bupati Sumenep Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo (foto: Ist)

Daerah

Terapkan WFH, Bupati Sumenep Jamin Pelayanan Tetap Optimal

Jumat, 27 Mar 2026 - 00:15 WIB