Dirgahayu Bangsaku!

Redaksi Nolesa

Rabu, 17 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

for NOLESA.COM

for NOLESA.COM

Oleh Abd. Kadir

OPINI, NOLESA.COM – Ada pesan WA masuk ke saya: “Mas, kenapa ditulis Dirgahayu Bangsaku? Kenapa tidak Dirgahayu ke-80 Bangsaku? Atau Dirgahayu ke-80 RI? Atau Dirgahayu ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia?”

Sepertinya, teman ini membaca tulisan saya di Jawa Pos Radar Madura (JPRM), 24 Agustus 2025: “HUT ke-80 RI”. Di situ, di kalimat akhirnya, saya tulis: “Dirgahayu Bangsaku, Merdeka!”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam tulisan saya itu, dari awal, saya tulis sekilas tentang logika sederhana atas tafsir 2 model tulisan: “HUT RI ke-80” dan “HUT ke-80 RI”. Saya paparkan pula hasil rekomendasi dari “Meta AI” tentang penulisan yang “dianggap benar” (versi AI).

Saya hanya tersenyum membaca pesan WA teman ini. Saya juga bersyukur ‘alhamdulillah’, ternyata ada tanggapan untuk didiskusikan lebih lanjut, tentang tulisan saya di atas: “Dirgahayu Bangsaku, Merdeka!”.

Baca Juga :  Pilkada Tak Langsung: Upaya Pembunuhan Demokrasi oleh Syahwat Elit Politik

Bagi sebagian orang, sebenarnya hal ini sangatlah sederhana, receh dan sepertinya tak begitu penting. Hanya urusan tulisan “dirgahayu” untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.

Namun begitu, diakui bahwa cukup banyak ditemui tulisan—baik di dunia nyata, maupun di dunia maya: “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-80”. Ada juga yang menulis: “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA”. Bagi saya, tulisan ini bagian dari ekspresi untuk meluapkan semangat dan spirit perjuangan sehingga bangsa Indonesia bisa merasakan kemerdekaannya sampai hari ini.

Ini adalah sesuatu yang baik. Biar bagaimanapun, ungkapan atau ekspresi dari anak bangsa atas kemerdekaan bangsanya adalah bagian dari nasionalisme dan semangat kebangsaan yang harus tetap dijaga dan dipertahankan.

Hanya saja, kadang kita tidak merasa bahwa apa yang dieksperesikan dengan bahasa itu sebenarnya sekadar ‘ikut-ikutan’ dan tidak tahu apa makna sebenarnya. Meskipun terlihat sederhana dan terkesan tak terlalu penting, tetapi kiranya perlu juga dipahami bahwa kadang ungkapan yang hanya sekadar ikut-ikutan itu, menjadi naif.

Baca Juga :  Memupuk Semangat Gotong Royong

Realitas ini lahir karena ketidaktahuan kita terhadap makna yang sebenarnya dari apa yang diungkapkan tadi.

Seperti “dirgahayu”, selama ini mungkin sebagian orang akan memberi makna selamat hari ulang tahun/selamat/memperingati/peringatan dan sebagainya.

Pemaknaan ini didasarkan pada asumsi umum yang disampaikan banyak orang bahwa “seolah-olah” dirgahayu ini adalah peringatan/selamat tadi. Jadi, kalau dimaknai secara sederhana, tulisan di atas menjadi “SELAMAT HARI ULANG TAHUN REPUBLIK INDONESIA KE-80”. Terlihat sederhana dan ini menjadi fenomena yang dinikmati banyak orang, karena tulisannya tersebar di mana-mana dan bahkan diucapkan oleh banyak kalangan.

Padahal, jika dilihat di dalam kamus, dirgahayu itu bermakna doa: “semoga panjang umur”. Nah kita kadang abai, bahwa apa yang kita ucapkan adalah doa. Doa untuk bangsa ini. Doa untuk kesejahteraan bangsa ini. Doa untuk kemakmuran bangsa ini. Doa untuk kesejahteraan bangsa ini. Doa panjang umur bagi bangsa yang merdeka ini agar tetap “merdeka” selamanya.

Baca Juga :  Ketahanan Keluarga dan Masa Depan Anak

Merdeka dari kebodohan. Merdeka dari keterbelakangan. Merdeka dan menjadi bangsa yang baldatun toyyibatun warobbun ghafur, sebagaimana yang dicita-citakan para founding father bangsa ini.

“Dirgahayu” bukanlah peringatan, bukan pula selamat hari ulang tahun, sehingga dengan kalimat “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA” atau “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIAKU”, atau “DIRGAHAYU INDONESIAKU”, atau “DIRGAHAYU BANGSAKU”, itu sudah cukup.

Tak perlu ada ke-80 atau ke berapa dalam doa kita, karena kita menginginkan doa panjang umur itu selamanya akan dirasakan oleh bangsa ini. Meskipun seolah terkesan fallacy, tapi doa untuk panjang umur selamanya itu sebenarnya ada batasnya, karena hidup di dunia ini juga ada batasnya. “Dirgahayu Indonesiaku!”

*Dosen Pascasarjana Institut Kariman Wirayudha, Sumenep

Berita Terkait

ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan
Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan
Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau
Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan
Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara
Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya
Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?
Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:48 WIB

ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:57 WIB

Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:07 WIB

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:17 WIB

Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:29 WIB

Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara

Berita Terbaru