Sumenep, NOLESA.com — Badai pasti berlalu. Bagi orang pulau kata itu bukan lagi lirik lagu, melainkan sebuah kenyataan yang harus dihadapi dengan penuh keikhlasan.
Seperti halnya cerita warga Pulau Masalambu, Kabupaten Sumenep yang kini tengah kesulitan membeli bahan pokok karena di pulau tersebut lagi diterpa badai.
Semakin lama badai menerjang maka, semakin lama pula warga terjebak dalam kebingungan menghadapi kenyataan. Stok yang ada terus berkurang dan kapal-kapal pengiriman barang dari luar dihentikan selama badai belum usai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seperti cerita Komarudin, untuk saat ini warga sudah mulai kesulitan mendapatkan kebutuhan bahan pokok. Khususnya beras dan gas elpiji.
Khusus beras untuk sementara stoknya masih ada. Hanya saja beras yang ada sudah tidak layak konsumsi, apek dan berkutu.
Sudah begitu, kata Komar, harga beras dengan kualitas seperti itu harganya terus melambung tinggi. Satu kilogram beras harganya mencapai Rp15.000 sampai 17.000. Padahal sebelum terjadi badai harga beras layak konsumsi hanya Rp12.500.
“Itupun pembeliannya dibatasi agar semua kebagian,” ujarnya.
Sembari menunggu badai berlalu warga berupaya mencari solusi lain untuk bisa bertahan hidup. Sebagian beralih menggunakan beras ketan untuk dikonsumsi.
“Walaupun seharga Rp16.000 per kilogram warga tetap membeli,” tuturnya.
Cerita badai Masalembu dan krisis bahan makanan dibenarkan oleh Darul Hasyim Fath anggota DPRD Sumenep asal pulau tersebut. Menurutnya kejadian semacam itu bukan yang pertama dirasakan warga Masalembu.
Namun untuk kali ini beda dengan kejadian sebelumnya, sekarang badai datang tiada henti terus menerus selama 15 hari.
Oleh sebab itu, politisi PDIP itu berharap adanya gotong royong antara Pemrof Jatim dan Pemkab Sumenep untuk mengurai krisis pangan selama badai belum berhenti.
Politisi yang akrab disapa Darul, itu menyarankan agar segera ada pengiriman bahan makana ke sana. Apapun caranya.
“Kan bisa menggunakan kapal perang milik TNI itu, saya kira itu solusi yang tepat karena kapal tersebut tahan ombak dan badai,” kata Darul.
Ketua Komisi I DPRD Sumenep itu juga mengungkapkan sejauh ini yang memiliki niatan mengirimkan bahan makanan baru Polres Sumenep. Tetapi keinginannya itu kandas sebab badai belum juga redah.
“Akhirnya gagal juga, karena armada yang akan digunakan tidak tahan badai,” ungkapnya mengakhiri cerita badai dan krisis pangan di Pulau Masalembu.
Penulis : Rusydiyono









