Oleh | Mohammad Haris
OPINI, NOLESA.COM – Bantuan sosial adalah bentuk cinta negara kepada rakyat. Di saat krisis melanda, bansos menjelma jadi penyelamat. Bagi para ibu yang kehilangan penghasilan, bagi lansia yang kesulitan mengakses layanan dasar, dan bagi anak-anak yang berjuang tetap sekolah bantuan sosial adalah nyala harapan kecil di tengah gelapnya kehidupan.
Namun belakangan ini, kita dikejutkan oleh temuan Pusat Pelaporan dan Analis Transaksi Keuangan (PPATK) yang mengungkapkan bahwa lebih dari 100 keluarga penerima manfaat (KPM) penerima bantuan sosial (Bansos) terindikasi dibuat untuk mendanai aktivitas terorisme. Temuan itu disampaikan oleh kepala PPATK Ivan Yustiavandana usai menggelar rapat anggaran di Komisi III DPR, Kamis (10/07/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kabar ini mencederai rasa keadilan kita. Ia bukan hanya soal pelanggaran hukum atau penyimpangan administratif, tapi tentang luka yang lebih dalam, pengkhianatan terhadap amanah dan nilai-nilai kemanusiaan, sebab dana yang seharusnya menjadi pelipur duka, justru jadi bahan bakar bagi ancaman dan kehancuran. Ini bukan hanya salah arah, tapi juga salah niat. Bukan saja soal regulasi yang lemah, tapi hati yang tergelincir jauh dari nurani.
Sebagai Duta Damai Santri Jawa Timur, saya tidak sekadar melihat ini sebagai kasus hukum, tetapi sebagai peristiwa yang mengganggu sendi-sendi kepercayaan bangsa, kasih sayang dan rasa kepedulian satu sama lain. Kita perlu bertanya: di mana letak kekeliruan kita bersama, hingga cinta dan kasih sayang yang diturunkan dalam bentuk bantuan bisa berubah menjadi alat kebencian?
Dalam agama Islam kita diajarkan menekankan pentingnya kasih sayang satu sama lain. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
من لا يرحم الناسَ لا يرحمهُ الله
“Siapa yang tidak menyayangi manusia, tidak akan disayangi Allah”. (HR. al-Thabarani)
Menyalah gunakan bansos untuk aktivitas terorisme atau kekerasan adalah bentuk hilangnya rasa kasih dan sayang satu sama lain. Dalam konteks sosial, ini adalah tanda bahwa solidaritas kita sedang diuji. Kita perlu kembali menghidupkan semangat gotong royong, kesalehan sosial, dan kepedulian agar tidak ada lagi ruang bagi ideologi yang menjadikan kekerasan sebagai jalan keluar.
Tugas kita hari ini bukan hanya menyalahkan. Lebih dari itu, kita harus membangun kesadaran, bangun sistem yang lebih baik, dan bangun narasi yang meluruskan kembali makna dari kata “bantuan”. Kita harus Bersatu, pemerintah, tokoh agama, masyarakat, dan generasi muda—untuk mengawal bahwa bansos benar-benar digunakan untuk kemanusiaan, bukan kekerasan.
Jangan biarkan luka ini menjadi luka yang berulang. Jadikan peristiwa ini sebagai cermin, bahwa perdamaian bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, tetapi harus dijaga, dipelihara, dan ditanamkan melalui nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.
*Duta Damai Santri Jawa Timur










