Antara Gojlokan, Bullying, dan Pentingnya Self-Defense dalam Dunia Pendidikan Pesantren

Redaksi Nolesa

Sabtu, 5 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh Erik Lis Setiawan

OPINI, NOLESA.COM – Di lingkungan pendidikan, terlebih lagi di dunia pesantren, fenomena ejek-ejekan atau yang sering dikenal dengan istilah “gojlokan” sudah menjadi hal yang lumrah. Gojlokan, secara sederhana, adalah bentuk candaan yang terkadang bernada keras, tajam, dan menggoda.

Entah sejak kapan tradisi ini menjadi bagian dari interaksi sosial santri dan pelajar, namun banyak yang menganggapnya sebagai bumbu dalam membentuk mentalitas dan kedekatan antarteman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, istilah seperti bullying, mental health, dan well-being mulai banyak diperbincangkan. Terutama ketika berbagai kasus perundungan yang berujung pada trauma atau bahkan kehilangan nyawa, muncul ke permukaan. Lalu, apakah berarti semua bentuk gojlokan itu otomatis masuk dalam kategori bullying? Apakah semua bentuk candaan keras patut dihapuskan?

Baca Juga :  Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam: Sebuah Kolaborasi Komplomentatif

Dalam sependek pengetahuan saya, kita perlu membedakan antara gojlokan yang masih dalam batas wajar—yang memang menjadi bentuk komunikasi khas dan saling memahami antarteman—dengan tindakan bullying yang sistematis, menyakitkan, dan penuh niat merendahkan martabat seseorang.

Bullying adalah perilaku yang dilakukan secara sengaja, terus-menerus, dan menyebabkan dampak buruk secara psikis maupun fisik kepada korban. Sedangkan gojlokan dalam tradisi pesantren, sering kali tidak dimaksudkan untuk menyakiti, tetapi justru sebagai latihan mental untuk menghadapi kerasnya hidup.

Yang tak kalah penting adalah bagaimana seseorang menanggapi perlakuan semacam itu. Di sinilah peran penting self defense atau mekanisme pertahanan diri. Manusia secara naluriah memiliki kodrat untuk melindungi diri ketika merasa terancam.

Baca Juga :  #KaburAjaDulu dan #IndonesiaGelap: Ekspresi Kekecewaan Generasi Muda yang Harus Disikapi dengan Bijak

Maka ketika seseorang menghadapi ejekan, gojlokan, atau bahkan perundungan, lalu dia belajar untuk bertahan, membela diri secara sehat—baik dengan bersikap tegas, melawan secara intelektual, ataupun memperbaiki citra diri—itu adalah proses pembelajaran yang sangat berharga.

Self defense tidak selalu berarti melawan dengan fisik. Dalam konteks pendidikan, ini bisa berarti membangun mental yang kuat, memahami diri sendiri, tidak mudah larut dalam tekanan, dan berani menyampaikan ketidaknyamanan kepada pihak yang tepat. Dengan kata lain, pengalaman menghadapi tekanan bisa menjadi pelajaran penting dalam membangun karakter.

Namun demikian, bukan berarti kita melegalkan semua bentuk ejekan dengan dalih “ini gojlokan biasa”. Jika sudah menimbulkan luka batin, mempermalukan, atau menyebabkan seseorang menarik diri dari pergaulan, maka perlu evaluasi. Dunia pendidikan—termasuk pesantren—harus tetap menjadi ruang aman, bukan hanya tempat tempaan.

Baca Juga :  Membaca Itu Kebutuhan

Kesimpulannya, gojlokan bukanlah musuh utama. Yang penting adalah niat, batas, dan respon. Bila kita bisa memahami bahwa setiap tekanan adalah medan latihan self defense yang positif, maka kita tidak akan tumbang hanya karena omongan. Tapi kita juga tak boleh menutup mata bahwa tidak semua orang punya kapasitas mental yang sama. Maka, tugas kita adalah saling mendukung, bukan menjatuhkan.

*Kordinator kepenulisan Duta Damai Santri Jawa Timur

Berita Terkait

Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?
Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi
Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin
Desa Tangguh Bencana
Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam
ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan
Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan
Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:04 WIB

Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:58 WIB

Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi

Jumat, 21 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:04 WIB

Desa Tangguh Bencana

Minggu, 9 Agustus 2026 - 11:39 WIB

Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam

Berita Terbaru

SE Menkomdigi Untuk Lindungi Sisa Kuota Pelanggan Seluler (Foto: Istimewa)

Nasional

SE Menkomdigi Untuk Lindungi Sisa Kuota Pelanggan Seluler

Sabtu, 29 Agu 2026 - 13:17 WIB

(for NOLESA.COM)

Puisi

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama

Sabtu, 29 Agu 2026 - 11:50 WIB