Angka Kemiskinan

Ahzam Habas

Rabu, 15 November 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini, NOLESA.com – Sejak zaman Nabi, kita tahu sudah dikenal istilah orang-orang miskin (masakin). Di dalam al-Qur’an ataupun hadist orang-orang miskin adalah mereka yang berhak menerima zakat. Pada abad ke-8 hingga abad ke-1 SM, orang miskin di Yunani Kuno disebut Aporos. Yakni mereka yang tak punya sarana untuk memperoleh pendapatan sesuai kebutuhan.

Jadi standar orang miskin pada zaman Nabi atau zaman yunani kuno dibuat simpel dan tidak ribet seperti zaman sekarang. Kita tahu, ada standar garis kemiskinan versi BPS yang mencapai 14 variabel. Kemudian standar kemiskinan versi World Bank yang kompleks dan menjadikan daya beli masyarakat sebagai variabel utama.

Jika fokus pada versi BPS, maka persoalan yang kita hadapi minimal ada 2 hal. Pertama persoalan standar kemiskinan yang (sejatinya) terus berkembang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kedua, persoalan angka kemiskinan yang berkaitan dengan sumber data dan metode survei oleh BPS sendiri.

Namun demikian, standar kemiskinan yang dipakai BPS cenderung stagnan. Patut diduga masih memakai standar dan variabel era 90-an ke bawah. Sebab, tidak ada variabel kepemilikan telepon genggam didalamnya. Padahal, zaman sekarang setiap warga di semua strata sosial nyaris memegang handphone. Apakah warga yang telah berkomunikasi memakai handphone dapat disebut warga miskin?

Kemudian mengenai angka kemiskinan yang diintrodusir oleh BPS disuatu daerah seperti Kabupaten Sumenep ini, pastilah tidak jatuh dari langit. BPS dalam praktik penghitungan angka kemiskinan diwajibkan menggunakan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Baca Juga :  Menjadi Guru Masa Depan

Metode yang dipakai bisa melalui survei mandiri dimana para petugasnya turun langsung ke lapangan atau bisa secara pasif dengan meminta data ke kecamatan, desa, instansi dan lembaga pemerintahan maupun swasta.

Yang saya ketahui dan faktor ini pula yang menurut saya menjadi pangkal persoalan bahwa selama ini tak ada yang berusaha menguji validitas hasil penghitungan angka kemiskinan versi BPS tersebut. Apakah dari kalangan akademik atau dari NGO yang konsen dibidang statistik.

Satu contoh persoalan lain yang terjadi adalah apakah data yang diberikan desa mengenai jumlah warga miskin di wilayahnya telah sesuai dengan fakta dan variabel yang ditentukan BPS. Jika data yang diserahkan selalu sama atau bahkan terus bertambah dari tahun ke tahun maka ini bisa dipertanyakan sebetulnya.

Baca Juga :  Pilkada 2024: Waspada Politik Gentong Babi!

Berapa triliun dana desa pertahun yang digelontorkan pada seluruh desa ditanah air yang digunakan untuk memberantas kemiskinan. Belum lagi bantuan dari pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Jadi, aneh bin ajaib jika angka kemiskinan itu cenderung stagnan, apalagi bertambah.

Oleh karena itu, persoalan kemiskinan di Republik ini bukan semata-mata berkaitan dengan effort penyelenggara pemerintahan untuk memberantas kemiskinan. Tetapi juga ditentukan oleh political will para pemangku kebijakan untuk merevisi jenis dan jumlah bantuan kemiskinan secara jujur sesuai dengan fakta di lapangan.

Berita Terkait

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global
Dialektika Pedagogis Hardiknas dan Harkitnas: Dua Mata Pisau yang Sinergis
Demi Konten, Etika Dikubur?
Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati
Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab
Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Bohong Akut
Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:58 WIB

Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global

Jumat, 24 April 2026 - 08:07 WIB

Demi Konten, Etika Dikubur?

Selasa, 21 April 2026 - 21:04 WIB

Semangat Kartini dalam Peran Ganda Guru Perempuan: Mendidik dengan Hati

Selasa, 21 April 2026 - 10:59 WIB

Spirit Kartini: Sebuah Refleksi Tentang Kebebasan dan Tanggung Jawab

Senin, 13 April 2026 - 09:31 WIB

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Berita Terbaru

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD (Foto: Istimewa)

Politik

Pemilu Mendatang, PDIP Sumenep Target 15 Kursi di DPRD

Minggu, 3 Mei 2026 - 10:29 WIB