Bulan Muhammad SAW

Sujono

Jumat, 22 September 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sujono (Foto: dokumen pribadi)

Sujono (Foto: dokumen pribadi)

Oleh SUJONO*

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (At-Taubah: 128)

Keimanan akan melahirkan keteladanan. Apa yang bisa kita petik dari pribadi Rasulullah Muhammad SAW?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Beliau, bukan sekedar manusia yang memiliki budi pekerti luhur. Pada dirinya ada kecintaan dan empati yang luar biasa. Sedemikian besarnya kecintaan itu, sehingga penderitaan kita adalah penderitaannya.

Ia turut merasakan penderitaan kita yang banyak. Ada keinginan yang sangat kuat untuk mengantarkan kita pada keselamatan, dan tidak ada keselamatan tanpa iman.

Dan tidak bernilai iman jika tidak berpijak pada aqidah yang lurus dan agama yang benar. Sehingga tidaklah kita berserah diri kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Begitu amat besarnya keinginannya agar kita meraih keselamatan dan kemuliaan, bahkan meskipun untuk itu ia dimusuhi dan disakiti.

Beliau, melakukan semua itu bukan untuk meraih dunia — yang tidak perlu berlelah-lelah untuk meraihnya, andaikata ia menghendaki.

Baca Juga :  Volksraad: Parlemen Hindia Belanda yang Oleh H. Agus Salim Disebut sebagai “Komidi Omong”

Ia juga bukan mengejar kekuasaan dan mahkota. Bukan!

Tetapi ia berbuat dengan tulus, melayani penuh kecintaan, berjuang dengan sungguh-sungguh demi membaguskan kita. Bukan untuk meninggikan kedudukannya. Dan justru karena itulah, kita merasakan keagungannya. Dunia mengakui kemuliaannya. Bahkan Allah Ta’ala dan para malaikat pun ber-Shalawat untuknya.

Sahabat…

Terasa betul betapa berbedanya dengan apa yang kita jumpai hari ini. Atas nama da’wah dan muru’ah (kehormatan), banyak orang yang berburu gelar “Ustadz” dan menyandangi dirinya dengan berbagai kemewahan.

Kenapa?

Karena ada persangkaan bahwa dengan itu kita akan dihormati dan nasehatnya didengar.

Tetapi tidak…

Mereka berceramah, manusia tertawa dan mengelu-elukan. Sesudah itu, tak ada lagi yang berbekas.

Jika agama hanya menjadi penghibur jiwa, maka sulit membayangkan terjadi perubahan mendasar pada mereka yang mendengar dan belajar.

Jika para penyeru agama telah silau hatinya kepada kedudukan, maka nyaris tak mungkin rasanya budaya karakter akan tumbuh.

Kebanggaan pada sebutan, simbol, dan yang semacamnya, lahir dari budaya prestasi, dimana prestise lebih berharga daripada keringat dan kesungguhan.

Baca Juga :  Calon Tunggal, Kegagalan, dan Pragmatisme Partai Politik

Sementara budaya karakter menyibukkan diri dengan sikap, usaha dan perjuangan, kejujuran, pelayanan kepada orang lain, ketulusan, dan yang serupa dengan itu.

Tatkala karakter yang menjadi kegelisahan utama, prestasi akan menyertai. Prestasi muncul sebagai akibat. Bukan tujuan.

Sehingga tak berharga sebuah prestasi, yang paling memukau sekali pun, jika diraihnya dengan cara mencederai keyakinan, keimanan, dan kejujuran.

Sahabat… 

Mari kita tengok kembali betapa berbedanya antara apa yang kita sebut sebagai pendidikan karakter dengan apa yang terjadi di masa Rasulullah Saw, sehingga melahirkan manusia-manusia dengan karakter mulia yang luar biasa.

Sesungguhnya, tidaklah Rasulullah SAW diutus kecuali untuk membentuk akhlak mulia (akhlaqul karimah). Tetapi, apakah yang Beliau lakukan di awal-awal masa kenabian?

Apakah Beliau SAW, melakukan serangkaian pembiasaan berkait dengan budi pekerti?. Sepanjang yang mampu saya pahami, bukan itu yang dilakukan oleh Nabi SAW.

Masa-masa awal da’wah Beliau Saw, titik tekan utamanya adalah pada penanaman keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala dan tidak mempersekutukan-Nya, membangun aqidah yang lurus, menempa mereka untuk memiliki ketundukan total kepada Allah Ta’ala melalui qiyamul-lail dan menafikan sesembahan selain Allah Ta’ala.

Baca Juga :  DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026

Ini memberi pelajaran berharga bagi kita. Kelak kita tahu dalam sejarah betapa tinggi kemuliaan akhlak para Sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in, maupun para salafush-shaleh.

Tetapi kemuliaan akhlak itu bukan semata-mata akibat dari pembiasaan, melainkan tumbuh di atas keyakinan yang kuat dan keimanan yang benar.

Sangat berbeda kebiasaan yang muncul semata-mata sebagai hasil pembiasaan dengan kebiasaan yang lahir dari keyakinan yang kuat.

Yang pertama akan mudah luntur oleh situasi, sedangkan yang kedua cenderung mewarnai dan membawa pengaruh tatkala kita berada pada lingkungan yang sangat berbeda.

Serupa dengan itu, sangat berbeda kaya sebagai tujuan dan kaya sebagai akibat.

Jika menolong agama Allah yang menjadi kegelisahan dan tekad kuat kita, maka kita akan siap berletih-letih untuk berjuang, termasuk mengumpulkan harta yang banyak agar dapat mengongkosi perjuangan dan da’wah kita.

Selamat datang lelaki terbaik sepanjang sejarah…

Nabi Muhammad SAW, hidup di hati kita. Insya-Allah…

Berita Terkait

Terpedaya Janji dan Kesombongan
Nabi Sulaiman dan Semut
Hari Tasyrik
Masjid Kampus Harus Berfungsi Lebih
Jangan Mematikan Hati
Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa
DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026
Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 09:05 WIB

Terpedaya Janji dan Kesombongan

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:36 WIB

Nabi Sulaiman dan Semut

Kamis, 28 Mei 2026 - 11:42 WIB

Hari Tasyrik

Jumat, 15 Mei 2026 - 12:32 WIB

Masjid Kampus Harus Berfungsi Lebih

Jumat, 15 Mei 2026 - 09:11 WIB

Jangan Mematikan Hati

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Sosok

Pramoedya Ananta Toer dan Tanah yang Tak Mengenalinya

Kamis, 16 Jul 2026 - 12:03 WIB