Indonesia Bakal Gabung BRICS. Apa Itu BRICS?

Redaksi Nolesa

Selasa, 29 Agustus 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nasional, NOLESA.com – Indonesia diwacanakan bakal bergabung dengan ke blok ekonomi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS).

Wacana Indonesia bakal gabung BRICS ini semakin menguat pasca Presiden Jokowi mengunjungi beberapa negara Afrika beberapa waktu lalu.

Menurut Presiden Jokowi, Indonesia saat ini sedang mengkaji dan memahami perihal tawaran untuk gabung BRICS itu. Apakah akan bergabung atau tidak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kita ingin mengkaji terlebih dahulu, mengkalkulasi terlebih dahulu, kita tidak ingin tergesa-gesa,” kata Jokowi dalam keterangan pers yang disiarkan lewat YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (24/8/2023).

Apa Itu BRICS?

BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) adalah aliansi negara-negara Afrika yang mewakili kekuatan ekonomi baru yang memiliki potensi untuk meresapi lanskap geopolitik dan ekonomi global.

Koalisi ini dibentuk pada tahun 2006, telah mendapatkan perhatian besar karena upaya kolektifnya dalam menantang dominasi tradisional kekuatan Barat dan mempromosikan tatanan dunia yang lebih multipolar.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Serahkan Sapi Kurban ke Masjid Al Karomah Banjar Kalsel, Beratnya Segini

Negara-negara BRICS memiliki keragaman geografis, mencakup empat benua dan beragam budaya, ekonomi, serta sistem politik. Meskipun memiliki perbedaan, negara-negara ini memiliki aspirasi bersama untuk meningkatkan pengaruh global, pembangunan, dan hubungan internasional yang lebih adil.

Salah satu aspek paling menonjol dari aliansi BRICS adalah signifikansi ekonominya. Secara kolektif, kelima negara ini mewakili sebagian besar populasi dan PDB dunia.

China dan India termasuk di antara ekonomi terbesar di dunia, dan laju pertumbuhan mereka telah berperan penting dalam memindahkan pusat gravitasi ekonomi global ke arah Timur.

Negara-negara BRICS telah mendirikan Bank Pembangunan Baru (New Development Bank, NDB), sebelumnya dikenal sebagai Bank Pembangunan BRICS, sebagai alternatif terhadap lembaga keuangan tradisional yang didominasi oleh negara-negara Barat seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional.

NDB bertujuan untuk memberikan pendanaan bagi proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang, memberikan negara-negara BRICS lebih banyak pengaruh dalam sistem keuangan global.

Selain itu, negara-negara BRICS telah berusaha meningkatkan pengaruh politik mereka secara bersama-sama.

Baca Juga :  Soal OTT Hakim Agung MA., Koordinator Pusat Demfasna: Kepada Siapa Lagi Kami Percayakan Keadilan?

Pertemuan puncak rutin mereka memberikan platform bagi para pemimpin untuk membahas isu-isu global yang mendesak dan mengkoordinasikan posisi mereka tentang berbagai hal mulai dari perubahan iklim hingga kontraterorisme.

Upaya aliansi ini sering sejalan dengan visi dunia yang lebih multipolar, di mana keputusan tidak hanya ditentukan oleh sekelompok negara kuat.

Namun, aliansi BRICS juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu hambatan utamanya adalah perbedaan kepentingan dan prioritas anggota-anggotanya.

Setiap negara memiliki tujuan ekonomi dan politik yang unik, yang kadang-kadang dapat menimbulkan ketegangan dalam aliansi ini.

Misalnya, sengketa perbatasan antara India dan China serta disparitas ekonomi di antara negara-negara anggota kadang-kadang memengaruhi upaya kerjasama mereka.

Selanjutnya, para kritikus berpendapat bahwa negara-negara BRICS belum sepenuhnya mampu menerjemahkan potensi kolektif mereka menjadi perubahan kebijakan global yang signifikan.

Meskipun mereka telah berhasil menghadapi dominasi institusi Barat, institusi-institusi ini masih secara luas membentuk aturan sistem internasional.

Efektivitas NDB dan inisiatif BRICS lainnya masih menjadi perdebatan, karena dampaknya terhadap pembiayaan pembangunan global masih relatif terbatas dibandingkan dengan institusi-institusi tradisional.

Baca Juga :  BPIP dan DPR RI Gelar Karya Pelajar Pancasila di Pangandaran, Angkat Nilai Budaya dan Kebajikan

Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap geopolitik global telah mengalami perubahan signifikan, memengaruhi dinamika aliansi BRICS.

Ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat, serta konflik berkelanjutan di Ukraina dan Timur Tengah, telah mengubah prioritas dan strategi negara-negara anggota.

Selain itu, pandemi COVID-19 telah menyoroti perlunya kolaborasi internasional dalam mengatasi tantangan global, yang potensial memberikan peluang bagi BRICS untuk menunjukkan relevansinya.

Sebagai kesimpulan, aliansi BRICS mewakili kekuatan unik dan berkembang dalam arena internasional.

Meskipun menghadapi tantangan yang berasal dari perbedaan internal dan keterbatasan inisiatifnya, potensi mereka untuk mempengaruhi politik dan ekonomi global sebaiknya tidak diabaikan.

Saat dunia terus bertransformasi, BRICS bisa berperan semakin penting dalam membentuk tatanan dunia yang lebih multipolar dan adil, asalkan negara-negara anggotanya dapat mengelola kepentingan yang berbeda dan bekerja secara serasi menuju tujuan bersama.


Penulis: redaksi

Berita Terkait

Novita Hardini Ingatkan Kemenpar Soal Kolaborasi Sektor Pariwisata
KOPRI PMII DIY dan Jendela Dunia Kita Gelar Gerakan Literasi di Gunungkidul
Di Prancis, Presiden Prabowo Bicara Stabilitas Kawasan Timur Tengah
Bobot Sapi Kurban Menkeu Purbaya Capai 868 Kilogram
Panen Raya Udang Vannamei, Presiden Prabowo: Sangat Menjanjikan
Legislator PKB Minta BI Paparkan Strategi Stabilkan Rupiah
Presiden Prabowo Targetkan Lapangan Kerja Formal Meningkat pada 2027
Menag Dorong Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:08 WIB

Novita Hardini Ingatkan Kemenpar Soal Kolaborasi Sektor Pariwisata

Jumat, 29 Mei 2026 - 21:40 WIB

KOPRI PMII DIY dan Jendela Dunia Kita Gelar Gerakan Literasi di Gunungkidul

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:46 WIB

Di Prancis, Presiden Prabowo Bicara Stabilitas Kawasan Timur Tengah

Kamis, 28 Mei 2026 - 12:07 WIB

Bobot Sapi Kurban Menkeu Purbaya Capai 868 Kilogram

Sabtu, 23 Mei 2026 - 22:39 WIB

Panen Raya Udang Vannamei, Presiden Prabowo: Sangat Menjanjikan

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI

Jumat, 29 Mei 2026 - 14:44 WIB