Mengarungi Tahun Politik 2023

Alfie Mahrezie Cemal

Jumat, 6 Januari 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini, NOLESA.com — Tahun 2023 merupakan tahun yang penuh dengan tantangan. Di satu sisi, kita harus bertahan dan bangkit menghadapi dampak resesi global. Di sisi lain, kita juga harus melakukan berbagai tahapan krusial menuju suksesi Pemilu yang akan digelar pada 14 Februari 2024.

Meski menurut berbagai laporan Indonesia tidak mengalami langsung resesi global itu, namun situasi ini harus dijadikan alarm kewaspadaan sebab momentumnya bersais-bersama dengan momentum politik elektoral.

Belajar pada pemilu-pemilu sebelumnya, jangankan di tengah situasi ekonomi yang tidak sehat, di tengah situasi ekonomi sehat pun momentum politik elektoral seringkali memicu perpecahan dan gelombang permusuhan di kalangan masyarakat akar rumput.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Situasi menegangkan semacam itu salah satunya bisa kita lihat di gelaran Pemilu 2019 yang lalu. Yang bukan hanya menimbulkan ketegangan, tetapi juga permusuhan dan perpecahan yang sangat dahsyat di anata kedua kubu.

Baca Juga :  Pilkada 2024: Mendambakan Pemimpin Daerah yang Cinta Lingkungan

Dua kelompok pendukung [pendukung Prabowo-Sandi dan Jokowi Ma’ruf] lebur dalam suasana konflik dan pertengkaran yang sangat serius. Bahkan, setelah dua sosok itu melakukan rekonsiliasi politik, tetapi tensi politiknya tetap tidak banyak berubah.

Kedua kelompok itu tetap hanyut dalam konflik politik berkepanjangan.

Tatkala Prabowo-Sandi memilih untuk menjadi bagian dari kabinet pemerintahan Presiden Jokowi-Ma’rut [Prabowo sebagai Menteri Pertahanan dan Sandi sebagai Menteri Ekonomi Kreatif] tensi konfliknya tidak serta merta mereda, sebaliknya, tetap lanjut dan bahkan semakin memanas.

Sebab Utama Perpecahan: Politisasi Identitas Agama

Ada beberapa faktor mengapa Pemilu 2019 memicu perpecahan dan permusuhan berkepanjangan. Salah satunya adalah adanya politisasi atau kapitalisasi identitas agama. Agama dijadikan alat untuk mendulang dan mendongkrak suara elektoral.

Baca Juga :  AI dan Dampaknya pada Psikologi Manusia: Peluang and Resiko

Politisasi agama ini sangat terlihat dari fenomena munculnya kelompok politik Islam kanan yang ikut mewarnai kompetisi elektoral Pemilu 2019. Kehadiran mereka, di satu sisi, selain memicu ketegangan, di sisi lain juga menimbulkan perpecahan dan polarisasi sosial yang sangat serius di masyarakat.

Pasalnya, selain tampil dengan identitas ”Islam Politik”, mereka juga kerap kali menegasikan identitas politik yang lain sebagai identitas politik yang tersesat dengan menekankan identitas politik mereka yang paling benar dalam mengambil posisi politik.

Walhasil, perselisihan dan ketegangan politik pun menjadi tak terhindarkan. Makna pemilu pun menjadi terdistorsi. Alih-alih menjadi media perjuangan untuk menyukseskan kepemimpinan politik Indonesia, pemilu hanya dimaknai sebagai media untuk mengalahkan dan menegasikan identitas lain. Bukan lagi untuk Indonesia, tetapi untuk persekutuan kelompok dan identitas tertentu saja.

Sehingga, berbagai cara pun dilakukan meski merusak persatuan dan kerukunan Indonesia.

Baca Juga :  Pathological Lying

Aturan-aturan dan norma-norma hukum diabaikan untuk meraih kemenangan kelompok. Alhasil, kompetisi elektoral demikian menjadi picik dan tidak substansial. Pemilu kehilangan makna dan tujuannya.

Memetik Hikmah: Jangan Lagi Ada Politisasi Identitas Agama

Pemilu atau kompetisi elektoral hanyalah alat. Alat untuk menyukseskan kepemimpinan politik Indonesia. Tujuannya adalah mewujudkan Indonesia yang damai dan berkemajuan. Sebagai alat, tak seharusnya pemilu atau kompetisi elektoral dijadikan alasan untuk saling bermusuhan satu sama lain.

Karena itu, jangan lagi ada politisasi identitas agama seperti dalam Pemilu 2019 yang berpotensi memecah belah kerukunan kita. Memperjuangkan identitas politik itu adalah hak setiap kelompok. Akan tetapi, yang lebih penting dari sekadar identitas kelompok itu adalah identitas nasional: kesatuan dan kemajuan Indonesia. Inilah yang harus kita perjuangkan. Bukan identitas dan kepentingan kelompok semata.(*)

Berita Terkait

Psychological Safety
Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?
Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi
Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin
Desa Tangguh Bencana
Pentingnya Pengelolaan Kesehatan dan Ketahanan Mental Bagi Gen Z dalam Strategi Membangun Masa Depan Menurut Pandangan Islam
ASN Belajar dan Spirit Bulan Muharram: Hijrah Menuju Keberdampakan
Pendaki FOMO: Saat Foto Lebih Penting daripada Keselamatan

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 15:52 WIB

Psychological Safety

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:04 WIB

Sumenep Tak Kekurangan Pesantren, Mengapa Pemudanya Mencari Ruang Lain?

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:58 WIB

Muktamar ke-35 NU: Ujian Dialektis Pendewasaan Organisasi

Jumat, 21 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Kemerdekaan dan Dialektika Pembebasan Batin

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:04 WIB

Desa Tangguh Bencana

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Psychological Safety

Rabu, 16 Sep 2026 - 15:52 WIB

Politik

Daftar Anggota DPRD Partai Hanura di Madura

Senin, 14 Sep 2026 - 20:18 WIB