KULINER, NOLESA.COM – Masyarakat Jawa memiliki beragam tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, salah satunya peringatan Malam Satu Suro. Tradisi ini dilaksanakan untuk menyambut datangnya 1 Suro dalam penanggalan Jawa yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam, 1 Muharram.
Bagi masyarakat Jawa, Malam Satu Suro bukan sekadar pergantian tahun. Momen ini dimaknai sebagai waktu untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak doa, serta memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam menjalani kehidupan pada tahun yang akan datang.
Budayawan dan sejumlah kajian sejarah menyebutkan bahwa tradisi Satu Suro merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam yang berkembang sejak masa Kesultanan Mataram pada era pemerintahan Sultan Agung. Saat itu, kalender Jawa diselaraskan dengan kalender Hijriah tanpa menghilangkan unsur budaya lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam berbagai peringatan Malam Satu Suro, masyarakat biasanya menggelar doa bersama, tahlilan, tirakatan, hingga kenduri. Salah satu sajian yang hampir selalu hadir dalam tradisi tersebut adalah bubur suro.
Bubur suro merupakan hidangan berbahan dasar beras yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah sehingga menghasilkan cita rasa gurih. Di beberapa daerah, bubur ini disajikan dengan rasa sedikit pedas dan dilengkapi aneka lauk pendamping.
Menurut sejumlah peneliti budaya Jawa, bubur suro bukan hanya makanan tradisional, tetapi juga simbol rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan. Hidangan ini menjadi sarana mempererat kebersamaan karena biasanya disantap bersama keluarga maupun tetangga.
Penyajian bubur suro umumnya dilengkapi telur, ayam, tempe, kacang tanah, perkedel, serta berbagai pelengkap lainnya. Setiap lauk dipercaya memiliki makna filosofis, seperti harapan akan keberkahan, keteguhan hati, kesejahteraan, dan kehidupan yang harmonis.
Di tengah masyarakat, berkembang pula keyakinan bahwa bubur suro dapat menjadi simbol penolak bala atau sarana memohon perlindungan dari berbagai marabahaya. Namun para budayawan menegaskan bahwa makna utama tradisi tersebut sejatinya terletak pada doa, rasa syukur, dan harapan akan keselamatan, bukan pada makanan itu sendiri.
Hingga kini, tradisi menyantap bubur suro masih terus dilestarikan di berbagai daerah di Pulau Jawa. Selain menjadi bagian dari kekayaan kuliner nusantara, tradisi tersebut juga menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai kebersamaan, spiritualitas, dan warisan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun. (*)
*diolah dari berbagai sumber
Penulis : Redakasi









