Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?

Redaksi Nolesa

Jumat, 29 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Dwi Nur Afiani 

OPINI, NOLESA.COM – Ada apa dengan pendidikan di Indonesia? Pendekatan dalam pembelajaran kini semakin inovatif. Diferensiasi menjadi syarat utama dalam melaksanakan pembelajaran.

Dunia pendidikan tidak lagi berpusat pada pola lama yang berpusat pada guru, tetapi dunia pendidikan saat ini berpusat pada siswa. Kini guru berperan sebagai fasilitator yang menjadikan pembelajaran menjadi lebih aktif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui pembelajaran dengan pendekatan deep learning, guru dituntut untuk mengajarkan materi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa dengan berbasis keberagaman nasional. Pada tahun-tahun sebelumnya, pembelajaran kurang kontekstual.

Pembelajaran kontekstual dapat menjadi jembatan bagi guru untuk memahami siswa secara mendalam, melatih siswa cara berpikir kritis, dan kemampuan dalam memecahkan masalah. Sejalan dengan informasi pada detikEdu pada Selasa (25/11/26), Arif Jamali Muis menyampaikan bahwa pendidikan multikultural pada sekolah diperlukan karena negara Indonesia kaya akan keberagaman. Selain itu, deep learning mengajarkan siswa untuk belajar secara sadar dan bermakna. Pada diputuskannya pembelajaran dengan pendekatan deep learning ini, Kemendikdasmen telah memberikan sarana pelatihan terkait deep learning pada 200 ribu guru.

Tuntutan dan Keberlanjutan

Pembelajaran mendalam atau deep learning pada dasarnya memang menuntut guru untuk lebih kreatif dalam mengatur kelas dalam pembelajaran. Guru tidak lagi berfokus pada penyampaian materi saja, melainkan harus merancang suasana kelas yang interaktif, reflektif, dan menantang bagi siswa.

Selain itu, inovasi yang dikembangkan oleh guru dapat menghasilkan siswa yang berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Pada OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) dalam PISA (Programme for International Student Assesment) 2022, terungkap bahwa berpikir kritis mencakup penyelesaian masalah dan ide kreatif yang dapat menunjukkan bahwa siswa tersebut mempunyai kinerja yang baik tidak hanya dalam berpikir kreatif, tetapi juga dalam mata pelajaran akademik.

Baca Juga :  Selebrasi Merdeka Berkarya

Deep learning memang salah satu cara untuk membentuk kepribadian siswa menjadi lebih kritis dalam menanggapi suatu fenomena dalam lingkungan sosialnya. Akan tetapi, apakah kemampuan guru mumpuni dalam mengatur kelas menjadi kelas yang bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan dapat dilakukan dengan tepat? Era saat ini, identik dengan pembelajaran berbasis teknologi dan AI (Artifial Intelligence). Siswa lebih menguasai kedua hal tersebut karena sejalan dengan kemajuan zaman. Tugas guru selain memberikan pendampingan dalam kemajuan zaman juga bertugas untuk menyeimbangkan kemampuannya dengan siswa.

Prinsip dalam Mewujudkan Masa Depan

Mewujudkan pembelajaran sesuai prinsip pendekatan pembelajaran mendalam bukanlah perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak tuntutan yang harus dipenuhi dalam konteks pemenuhan kebutuhan siswa. Tuntutan ini akan menjadi beban tersendiri bagi guru apabila guru belum mempunyai kesiapan yang memadai.

Saat ini, siswa tumbuh berdampingan dengan kemajuan teknologi. Mereka lebih akrab dengan perangkat pembelajaran dan aplikasi pembelajaran berbasis digital. Selain merasa terhibur dengan keberadaan AI, siswa juga akan mendapatkan esensi pembelajaran yang dirancang.

Tantangan baru dalam menghadapi dilema perkembangan pendekatan pendidikan bagi guru menjadi sorotan yang perlu diperhatikan dalam membina guru untuk menjadi guru yang inovatif demi menciptakan generasi yang inovatif, unggul, mampu berpikir kritis, dan mampu bersaing di dunia luar. Di sisi lain, guru juga harus tetap mengembangkan kompetensinya agar mampu berjalan seiring dengan kemampuan siswa dalam hal literasi digital dan pemanfaatan AI.

Baca Juga :  Madura Menuju Provinsi: Gagasan Besar, Tantangan Nyata, Butuh Persiapan Serius

Deep Learning dalam Kehidupan Nyata

Implementasi deep learning harus berjalan berdampingan dengan persiapan maksimal. Pengimplementasian deep learning kenyataannya memerlukan pelatihan guru secara intensif agar para guru siap dalam menghadapi tantangan dalam menerapkan pendekatan deep learning bagi siswa (Putri dkk, 2022:101).

Dengan diadakan pelatihan tersebut, memungkinkan guru untuk memahami filosofi pembelajaran mendalam dan merancang strategi sesuai tujuan pembelajaran. Guru akan menjadi kunci keberhasilan pada proses pembelajaran jika guru tersebut mumpuni menguasai kelas dengan baik. Mengapa demikian? Dikarenakan fungsi guru adalah sebagai fondasi utama siswa dalam menerima materi yang akan dipelajari di hari tersebut.

Dalam lingkungan pembelajaran mendalam, guru juga berfungsi sebagai teman siswa yang menjadikan siswa merasa nyaman dalam proses pembelajaran dan tidak merasa dihakimi. Siswa tidak merasa terhakimi dalam mengeluarkan idenya, tetapi siswa dapat lebih terbuka dan bebas dalam mengeluarkan pendapat atau idenya secara kreatif.

Peran guru kini berkembang lebih pesat. Kini, guru harus mampu memiliki kepekaan dan kepedulian pada siswa. Cara yang dapat dilakukan guru dalam rangka memenuhi kebutuhan siswa adalah dengan mengenali tanda-tanda kebutuhan individu siswa, menunjukkan kepedulian, dan merespons tanda tersebut dengan hati-hati.

Maka, dapat meminimalisir adanya tindakan yang tidak diinginkan dan permasalahan secara emosional, sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan bermakna, serta guru dapat bekerja dengan profesional. Melalui pembelajaran mendalam ini, guru merangkap segala kebutuhan siswa agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Baca Juga :  Mengingat Kembali Sejarah Hari Guru Nasional

Kurikulum dari Masa ke Masa

Jika dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, kurikulum merdeka dengan pendekatan mendalam atau deep learning ini lebih memperhatikan kebutuhan siswa dan keberlanjutan masa depan siswa dalam menghadapi pesatnya arus perkembangan teknologi. Pada kurikulum sebelumnya, peran guru diibaratkan sebagai instruktur, karena guru hanya menyampaikan materi dan memerintahkan siswa untuk mengerjakan tugas.

Deep learning membuka jalan bagi pendidikan untuk lebih inovatif dan kreatif. Keberhasilan dari penerapan deep learning ini tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau media yang digunakan saja. Melalui deep learning, dapat menjembatani siswa dalam mengembangkan kreativitasnya sebagai pembuka jalannya ke depan.

Tanpa adanya kesiapan guru, semua strategi dan media yang kreatif hanyalah sebuah teori yang tidak pernah terealisasikan. Pendekatan deep learning dapat membuka kesempatan emas bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Untuk menjadikan guru profesional, pemerintah harus mengetahui kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh guru. Pemerintah tidak serta merta menuntut guru menjadi pekerja yang profesional, tetapi harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan guru. Hal ini bertujuan agar guru mampu menjalankan profesinya dengan maksimal. (*)

*) Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta

 

 

 

 

Berita Terkait

Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI
Guru: Mulia dalam Kata, Menderita dalam Nyata
Kurban: Dari Ketundukan Spiritual Menuju Kesalehan Sosial
Gerak Batin Ekoteologi
Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam: Sebuah Kolaborasi Komplomentatif
Pelantikan PCNU Sumenep 2026: Sebuah Catatan Sederhana
Pintu Kampus Tertutup bagi Si Miskin
Ketegangan di Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Global

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:31 WIB

Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?

Jumat, 29 Mei 2026 - 14:44 WIB

Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:59 WIB

Guru: Mulia dalam Kata, Menderita dalam Nyata

Kamis, 28 Mei 2026 - 11:26 WIB

Kurban: Dari Ketundukan Spiritual Menuju Kesalehan Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 - 09:11 WIB

Gerak Batin Ekoteologi

Berita Terbaru

(for NOLESA.COM)

Opini

Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI

Jumat, 29 Mei 2026 - 14:44 WIB