Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Syukur alhamdulillah, sejatinya selalu kita ungkapkan atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah, yang salah satunya kita ditakdirkan untuk bisa menikmati indahnya Iduladha di tahun 1447 H. Hari ini (Iduladha) kembali menyapa umat Islam di seluruh penjuru dunia dengan sebuah ritual yang sarat akan makna mendalam: ibadah kurban. Realitas yang selalu tersaji dalam kehidupan kita ketika memasuki tanggal 10-13 bulan Zulhijah.
Dalam konteks ini, lebih dari sekadar prosesi penyembelihan hewan ternak, kurban adalah sebuah jembatan emas yang menghubungkan dua dimensi paling krusial dalam kehidupan seorang muslim. Ia bergerak dari titik terdalam ketundukan spiritual (hablum minallah) lalu mewujud secara nyata dalam bentuk kesalehan sosial (hablum minannas).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam perspektif sejarah, kurban telah mengajarkan kepada kita bahwa kesalehan sejati selalu dimulai dari dalam jiwa. Ketika Nabi Ibrahim AS menerima perintah untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS, nalar kemanusiaan bergolak hebat. Namun, iman yang kokoh menepis segala keraguan. Nabi Ibrahim melangkah dengan ketundukan spiritual yang mutlak: sebuah kepasrahan total tanpa syarat kepada ketetapan Sang Pencipta. Bagi Nabi Ibrahim, ego, cinta dunia, dan kepemilikan pribadi harus disembelih di atas altar ketaatan kepada Allah SWT.
Namun, Allah Yang Maha Pengasih tidak membiarkan darah manusia tumpah. Ismail digantikan dengan seekor domba. Peristiwa monumental ini menegaskan satu hal penting: Allah tidak membutuhkan darah atau daging dari hewan yang kita korbankan. Allah tidak haus akan sesembahan materi. Yang dinilai-Nya adalah ketakwaan, ketulusan, dan kesiapan kita untuk melepaskan apa yang paling kita cintai demi meraih rida-Nya.
Dari rahim ketundukan spiritual yang murni inilah, kesalehan sosial lahir. Iman yang hanya berhenti di dalam dada dan di atas sajadah adalah iman yang belum sempurna. Kurban hadir sebagai pembuktian bahwa kesalehan spiritual harus memiliki dampak nyata bagi kemaslahatan masyarakat.
Nah, ketika hewan kurban disembelih, yang sejatinya ikut runtuh bersama tetesan darahnya adalah sekat-sekat sosial yang sering kali memisahkan manusia. Di dunia modern yang cenderung individualistis dan materialistis, manusia kerap terjebak dalam kelas-kelas sosial berdasarkan kekayaan, jabatan, dan status. Teknologi yang “mendekatkan” yang jauh sering kali justru “menjauhkan” yang dekat. Manusia hari ini cenderung sibuk dengan “layar” masing-masing, membangun dinding tebal keangkuhan, dan terjebak dalam budaya konsumerisme yang menuntut pemuasan nafsu tanpa batas. Akhirnya, yang kaya cenderung abai, sementara yang miskin kian terpinggirkan.
Di sini, ibadah kurban mendobrak dinding pemisah tersebut. Pada hari raya Iduladha, daging kurban didistribusikan secara merata. Tidak ada perbedaan perlakuan antara si kaya dan si miskin dalam menerima haknya. Mereka yang biasanya jarang atau bahkan tidak pernah menikmati lezatnya daging karena keterbatasan ekonomi, hari itu dapat tersenyum lebar menikmati hidangan yang sama dengan mereka yang berkecukupan. Di sinilah kesalehan sosial itu terwujud.
Kurban mendidik kita untuk membakar egoisme pribadi dan menumbuhkan rasa empati yang mendalam. Ia memaksa mereka yang berkecukupan untuk keluar dari zona nyaman, melirik tetangga sekitar, dan menyadari bahwa di dalam harta yang mereka miliki, ada hak orang lain yang harus ditunaikan.
Dalam konteks inilah kurban menemukan relevansinya yang paling kuat. Kata “kurban” sendiri berasal dari kata qaraba yang berarti “dekat”. Secara vertikal, ia mendekatkan hamba dengan Sang Pencipta melalui ketundukan. Secara horizontal, ia adalah instrumen untuk mendekatkan manusia dengan sesamanya.
Di era ketika orang berlomba-lomba menimbun harta demi validasi sosial, kurban “memaksa” kita untuk melakukan hal yang sebaliknya: melepaskan. Kita diajak untuk “menyembelih” sifat kikir, keserakahan, dan egoisme yang bersemayam dalam dada. Hewan kurban hanyalah syariat fisik, namun “hewan” yang sesungguhnya harus disembelih adalah nafsu keakuan kita yang sering kali menindas orang lain.
Kurban hadir sebagai bentuk intervensi teologis terhadap ketimpangan sosial ini. Melalui pembagian daging kurban, Islam memutus rantai eksklusivitas pangan. Pada hari itu, daging—yang bagi sebagian kalangan bawah adalah makanan mewah yang jarang tersentuh—menjadi hidangan yang menyatukan semua meja makan. Ini adalah simbolisasi dari keadilan distributif. Kurban mengajarkan bahwa kesejahteraan tidak boleh menumpuk di satu golongan saja, melainkan harus mengalir dan dirasakan oleh lapisan masyarakat yang paling rentan.
Lebih jauh, prosesi penyiapan hingga pembagian daging kurban adalah sebuah pesta gotong-royong yang luar biasa. Di pelataran masjid atau lapangan, kita melihat seluruh lapisan masyarakat berkumpul. Ada yang memegang tali, mengasah pisau, menguliti, menimbang, hingga mengemas daging ke dalam wadah-wadah ramah lingkungan.
Dalam keringat yang mengucur dan tawa yang renyah di sela-sela kerja bakti tersebut, ada jalinan persaudaraan yang ditenun kembali. Orang-orang yang mungkin jarang bertegur sapa karena kesibukan harian, kini duduk berdampingan tanpa sekat. Kurban menjadi media rekonsiliasi sosial yang mencairkan kebekuan hubungan antarwarga.
Hanya saja, kadang tersaji fenomena menumpuknya hewan kurban di satu masjid pusat (masjid jami atau masjid besar), sementara masjid atau mushala kecil di sekitarnya kekurangan daging. Hal ini merupakan realitas klasik yang kerap berulang setiap Hari Raya Iduladha. Egosentrisme wilayah—yang di dalmnya takmir dan pekurban merasa wajib mengutamakan warga di lingkungan terdekatnya—secara tidak sengaja menciptakan ketimpangan distribusi. Di satu sisi ada warga yang menerima kantong daging berlebih, sementara di sudut desa lain, ada jamaah yang bahkan tidak kebagian sama sekali. Maka, untuk mengurai benang kusut ini, diperlukan rekonstruksi manajemen kurban yang tidak lagi berbasis “kebanggaan sektoral”, melainkan berbasis pemerataan maslahat.
Jika sebuah masjid memiliki jumlah pekurban yang melebihi kuota ideal jamaahnya, takmir perlu memiliki keberanian manajerial untuk mengalihkan hewan hidup atau distribusi daging ke wilayah minus kurban. Relokasi hewan kurban dari pekurban di masjid kaya secara fisik dialihkan pemotongannya ke mushala yang sepi pekurban. Langkah ini menjaga syiar penyembelihan tetap hidup di seluruh penjuru desa. Sementara itu, jika penyembelihan tetap harus dilakukan di masjid pusat karena fasilitas yang lebih memadai, maka droping daging bersih perlu dilakukan oleh takmir dengan mengirimkan daging yang sudah dikemas dalam jumlah besar (gelondongan atau per kuota dusun) kepada pengurus mushala hilir untuk dibagikan kepada jamaah mereka.
Selain itu, ego “mengutamakan jamaah sendiri” bisa dikikis dengan sistem kupon lokal yang diubah menjadi kupon berbasis wilayah/zonasi desa. Kupon tidak lagi dicetak secara eksklusif oleh satu masjid untuk jamaahnya saja, dan pihak penyelenggara (panitia kolektif desa) mendistribusikan kupon berdasarkan tingkat kerawanan pangan atau kemiskinan di tiap RT/RW, tanpa memandang ke masjid mana warga tersebut biasa beribadah. Di sinilah perspektif kesalehan sosial itu dibangun.
Maka, mengubah tradisi kurban yang berpusat pada satu masjid memerlukan kedewasaan berpikir dari para tokoh agama dan takmir. Kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan instrumen ekonomi Islam untuk meratakan kesejahteraan secara sosial. Dengan adanya konsensus desa, transparansi data, dan semangat berbagi lintas jamaah, Iduladha di desa tidak lagi melahirkan ketimpangan, melainkan merajut kembali kohesi sosial yang inklusif.
Selain itu, kesalehan sosial yang dilahirkan oleh kurban akan berdampak pula pada perputaran roda ekonomi umat. Dari hulu ke hilir, ibadah ini menggerakkan sektor peternakan rakyat, menghidupkan para pedagang kecil di pasar, hingga membuka lapangan pekerjaan musiman. Kurban membuktikan bahwa sistem ekonomi Islam yang berbasis kedermawanan mampu menjadi stimulus kesejahteraan yang nyata.
Maka dari itu, tantangan terbesar kita setelah hari raya berlalu adalah menjaga agar api kesalehan sosial ini tidak padam. Kurban bukanlah ritual musiman yang maknanya menguap begitu daging di dalam lemari es habis dikonsumsi. Semangat ketundukan spiritual yang menghasilkan kepedulian sosial harus dibawa dalam napas kehidupan sehari-hari. Kita dituntut untuk terus “berkurban” dengan cara memotong keserakahan kita, menyembelih sifat kikir kita, dan mengorbankan sebagian waktu serta tenaga kita untuk membantu sesama yang sedang kesulitan.
Ketika kita mampu mentransformasikan ketundukan spiritual di hadapan Allah menjadi aksi nyata yang meringankan beban sesama manusia, saat itulah kita telah menangkap esensi sejati dari kurban. Kita tidak hanya menjadi hamba yang saleh di dalam masjid, tetapi juga menjadi manusia yang bermanfaat dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Pada akhirnya, kurban di masa kini bukanlah tentang seberapa mahal hewan yang kita beli, melainkan seberapa besar dampak kepedulian yang kita tebarkan setelah hari raya berlalu. Ketika nilai-nilai kurban—keikhlasan, kepedulian, dan kerelaan berbagi—telah melekat menjadi karakter dan gaya hidup kita sehari-hari, saat itulah kita telah berhasil menangkap substansi sejati dari warisan suci Nabi Ibrahim AS ini. Semoga! (*)
*) A’wan Syuriah MWC NU Gapura









