Oleh | Abd. Kadir
OPINI, NOLESA.COM – Tulisan ini sebenarnya berawal postingan flayer yang dikirim teman saya tentang grand final program ISCO 2026 yang akan diselenggarakan tanggal 1 Mei 2026. Ada empat tim yang berlaga di grand final ini: SDIT Al Wathoniyah Kecamatan Kota Sumenep, SDN Manding Laok I, Kecamatan Manding, SDN Guluk-Guluk I, Kecamatan Guluk-Guluk, dan SDN Karang Tengah, Kecamatan Gayam.
Dari sini, dirasa penting melakukan refleksi tentang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap bulan Mei ini. Hanya saja, saya juga menyadari bahwa bulan Mei tidak hanya ada Hardiknas, tetapi ada juga Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Artinya, bulan Mei memiliki dua momentum yang sangat urgen, dan keduanya saling bersinergi. Di sinilah kemudian saya mencoba memotret keduanya dalam satu sinergi yang saling melengkapi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dipahami bahwa Mei adalah bulan yang sakral bagi narasi kebangsaan Indonesia. Di dalamnya, dua hari besar “berdiri” berdekatan: Hardiknas pada 2 Mei dan Harkitnas pada 20 Mei. Artinya, dalam lanskap historis Indonesia, bulan Mei bukan sekadar deretan penanggalan, melainkan sebuah ruang diskursif yang mempertemukan dua pilar utama eksistensi bangsa: pendidikan dan kesadaran nasional. Berangkat dari pemikiran ini, muncul sebuah kebutuhan teoretis untuk melakukan refleksi mendalam mengenai Hardiknas dan Harkitnas. Fenomena ini tidak dapat dipandang sebagai dua entitas yang terpisah secara dikotomis. Sebaliknya, keduanya merupakan satu kesatuan sinergis yang membentuk struktur fundamental kedaulatan sebuah bangsa.
Jika diibaratkan sebagai sebuah senjata, keduanya bukanlah dua pedang yang berbeda, melainkan dua mata pisau dari satu bilah yang sama. Keduanya memiliki ketajaman yang berbeda namun saling melengkapi dalam mengiris keterpurukan bangsa dan mengukir masa depan. Artinya, dalam kekuatan pendidikan itu ada kebangkitan untuk berdaya menuju bangsa yang cerdas dan beradab.
Mata pisau pertama, Hardiknas, tajam dalam membedah kebodohan. Secara epistemologis, Hardiknas—yang berakar pada filosofi Ki Hadjar Dewantara—menekankan pada pembangunan kapasitas intelektual dan karakter individu. Pendidikan di sini berperan sebagai instrumen “pemanusiaan manusia,” sebuah proses internalisasi nilai dan ilmu pengetahuan yang membebaskan manusia dari belenggu ketidaktahuan. Pendidikan adalah fondasi intelektual yang memberikan manusia kemampuan untuk berpikir kritis dan merdeka. Tanpa pendidikan yang mumpuni, sebuah bangsa hanya akan menjadi sekumpulan massa yang mudah digerakkan oleh propaganda dan kepentingan sesaat. Ia adalah proses internal yang membangun kapasitas individu agar memiliki “senjata” untuk bertahan hidup dan berkontribusi bagi masyarakatnya.
Namun, intelektualitas saja tidak cukup. Dalam perspektif sosiopolitik, kemajuan intelektual individu akan kehilangan relevansi sosiologisnya jika tidak diikat oleh sebuah visi kolektif. Di sinilah mata pisau kedua, Harkitnas, memainkan perannya. Harkitnas hadir sebagai komplementer yang krusial.
Harkitnas adalah tajamnya kesadaran kolektif. Ia membedah ego sektoral dan rasa rendah diri sebagai bangsa terjajah. Jika Hardiknas berbicara tentang kapasitas individu, maka Harkitnas berbicara tentang daya gerak bersama. Harkitnas, yang merepresentasikan kelahiran Boedi Oetomo pada 1908, adalah manifestasi dari kesadaran kolektif. Realitas ini membuktikan bahwa kepintaran individu tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya persatuan untuk tujuan yang lebih besar, yakni kedaulatan bangsa.
Sinergi antara keduanya menciptakan sebuah kekuatan yang luar biasa. Hardiknas menyediakan bahan bakunya melalui individu-individu yang terdidik, dan Harkitnas menyediakan wadah dan arah bagi kumpulan intelektualitas tersebut untuk bergerak menuju satu tujuan: kedaulatan. Tanpa pendidikan, kebangkitan nasional akan kehilangan kompas strategisnya; sebaliknya, tanpa semangat kebangkitan, pendidikan hanya akan melahirkan teknokrat tanpa jiwa nasionalisme yang kuat.
Upaya memotret keduanya dalam satu bingkai sinergi ini mengungkapkan sebuah tesis penting: bahwa kemajuan sebuah bangsa memerlukan dialektika antara kecerdasan dan pergerakan. Sinergi ini bersifat mutualistik; pendidikan memberikan fundamen rasionalitas bagi pergerakan nasional, sementara semangat kebangkitan memberikan tujuan moral bagi proses pendidikan.
Dalam konteks modern, sinergi ini menghadapi tantangan baru. Di era disrupsi digital, Hardiknas harus mampu mempertajam literasi teknologi dan kecerdasan buatan, sementara Harkitnas harus mampu memperkuat kedaulatan digital agar kita tidak sekadar menjadi pasar bagi bangsa lain. Sinergi ini menuntut agar kurikulum di sekolah tidak hanya mengajarkan cara menjawab soal ujian, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan bangga akan identitasnya.
Ketika kedua mata pisau ini bergerak sinergis, Indonesia memiliki alat yang sempurna untuk memotong rantai kemiskinan dan ketertinggalan. Hardiknas menyiapkan orang-orangnya, sementara Harkitnas menyiapkan pergerakannya.
Oleh karena itu, refleksi atas bulan Mei ini membawa kita pada pemahaman bahwa tantangan kontemporer bangsa tidak bisa diselesaikan secara parsial. Transformasi pendidikan yang kita cita-citakan harus berjalan beriringan dengan penguatan kesadaran nasional. Integrasi antara Hardiknas dan Harkitnas adalah sebuah formula urgen untuk memastikan bahwa manusia Indonesia tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki determinasi kolektif untuk membangkitkan martabat bangsa di kancah global. Inilah sinergi yang saling melengkapi. Sebuah jembatan emas yang menghubungkan kualitas manusia sebagai individu dengan kejayaan manusia sebagai satu bangsa.
Sebagai epilog, merayakan Hardiknas dan Harkitnas di bulan yang sama seharusnya bukan sekadar rutinitas upacara. Ini adalah momen untuk menyadari bahwa kecerdasan otak (pendidikan) dan nyala api semangat (kebangkitan) harus berjalan beriringan. Hanya dengan sinergi inilah, bangsa Indonesia bisa benar-benar bangkit dari segala skeptisisme dan melangkah maju sebagai bangsa yang merdeka: secara lahiriah dan batiniah. Semoga!
*) Pembina Komunitas Kata Bintang









