Oleh | Sujono
MIMBAR, NOLESA.COM – Klimaks, perjalanan spiritual Muhammad bin Abdullah, mondar-mandir ke gua sepi untuk mengasingkan diri yang sebetulnya merupakan skenario Allah Swt.
“Bacalah,” kata orang asing yang belum pernah dilihatnya itu. “Aku tidak bisa membaca,” jawabnya berdebar-debar. Orang asing itu tiba-tiba mendekapnya erat sehingga ia susah bernafas, tubuhnya lemas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemudian dekapan itu dilepaskan, lalu orang asing itu berkata lagi; “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Menciptakan. (Dia) menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Paling Pemurah, Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan al-Qalam. (Dia) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Laki-laki yang tidak bisa membaca dan menulis itu (ummiy), kemudian mengulang bacaan tersebut dengan hati bergetar, tubuhnya berguncang hebat, sekujur tubuhnya basah oleh peluh. Itulah Muhammad bin Abdullah. Lalu ia bergegas pulang menemui belahan jiwanya (Khadijah), sambil berkata; “Selimuti aku, Selimuti aku!”.
Setelah badannya tidak lagi menggigil, ia bertanya kepada belahan jiwanya (istrinya) dan menceritakan apa yang dialaminya, “Aku khawatir terhadap keadaan diriku,” katanya lembut.
Setelah menghibur sandaran jiwanya (sang suami), lalu sang istri (belahan jiwa) membawanya kepada seseorang bernama Waraqah.
Setelah menceritakan apa yang dialaminya, Waraqah berkata, “Yang datang dan mendekap erat badanmu hingga menggigil itu, adalah Jibril, malaikat yang pernah datang kepada Musa.” Kemudian ia melanjutkan, “Demi yang diriku berada di tangan-Nya, engkau adalah benar-benar Nabi umat ini.”
Itulah peristiwa dahsyat yang menjadi klimaks perjalanan spiritual Muhammad bin Abdullah. Tiga tahun mondar-mandir ke gua sepi untuk mengasingkan diri sebetulnya merupakan skenario Allah. Dengan cara itu, ia tengah dipersiapkan untuk menerima sebuah beban risalah yang amat berat.
Tidak ada yang istimewa pada gua itu. Letaknya di Jabal Nur, sebuah bukit sepi yang tidak jauh dari apa Kota Mekkah. Di gua tersebut, laki-laki suci itu kerap menyendiri. Dengan bekal roti gandum dan air secukupnya, ia menghabiskan waktunya untuk beribadah dan bertafakkur di situ.
Namanya…Gua Hira. Apa yang membawanya berkhalwat di tempat itu? Karena kegelisahannya menyaksikan kejahiliyahan kaumnya yang makin merajalela. Dadanya sesak dan bergolak ingin melakukan perbaikan.
Tekad laki-laki lembut ini tidak main-main. Hatinya berbisik, “Masyarakat ini harus mengubur ideologi dan tradisi kemusyrikannya.”Tapi ia merasa belum memiliki kekuatan jiwa yang kokoh serta belum ada panduan dan langkah-langkah kongkrit. Harapannya, dengan memisahkan diri (uzlah) dari kesibukan duniawi, ia bisa memiliki kejernihan hati dan kekuatan jiwa yang tangguh guna merealisasikan cita-citanya.
Di tahun ke-3 pengasingannya, selama enam bulan, suami seorang janda kaya raya itu selalu mengalami mimpi yang menyerupai fajar yang tengah menyingsing di pagi hari. Akhirnya, di bulan Ramadhan, Allah berkehendak melimpahkan rahmat-Nya kepada penghuni bumi dengan menurunkan Wahyu kepada laki-laki itu melalui malaikat-Nya.
Dini hari, saat Wahyu pertama Al-Qur’an diterimanya, menjadi saat yang paling monumental bagi kehidupan Muhammad bin Abdullah. Di usianya yang genap 40 tahun, lebih 6 bulan 12 hari, menurut kalender Hijriyah, atau 39 tahun, lebih 3 bulan 22 hari, menurut kalender Masehi. Hari itu, dengan disaksikan Gua Hira dan alam semesta, Allah MELANTIKNYA menjadi utusan-Nya. Hari itu, Muhammad bin Abdullah, resmi menjadi Nabi dan Rasul-Nya, yang bertugas membawa risalah yang amat berat, yaitu; “Menyelamatkan Umat Manusia.”
Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad!
Dr Muhammad ‘Aly Ash-Shabuny, dalam tafsirnya menunjukkan, bahwa tiga surat dalam Al-Qur’an yang diturunkan secara berdekatan waktunya, yaitu; “Surat Al-‘Alaq, Al-Muzammil, dan Al-Mudzatsir.” Dari tiga surat itu tersirat tiga komitmen dalam awal risalah kenabian Muhammad Saw, yang menjadi semacam kerangka (paradigma) misi perjuangannya, yakni; “Komitmen Ideologi, Spiritual, dan Operasional.”
*) penulis lepas tinggal di Perum Sumekar Kota Sumenep










