Pilkada Tak Langsung: Upaya Pembunuhan Demokrasi oleh Syahwat Elit Politik

Redaksi Nolesa

Kamis, 15 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh | Moh. Marwan

OPINI, NOLESA.COM – Wacana Pilkada tidak langsung yang kembali digulirkan di ruang publik saat ini adalah lonceng kematian bagi kedaulatan rakyat Indonesia.

Pernyataan Presiden Prabowo dalam HUT Partai Golkar ke-61 yang merespons usulan Bahlil Lahadalia dengan dalih “demokratis tapi jangan buang-buang uang” merupakan logika pragmatis yang sangat berbahaya bagi masa depan republik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kita menilai bahwa langkah ini adalah bentuk pembunuhan demokrasi secara terang-terangan yang melucuti hak fundamental warga negara. Menjadikan efisiensi anggaran sebagai alasan untuk memangkas partisipasi rakyat adalah upaya sistematis untuk mengubah arah bangsa dari demokrasi kerakyatan menjadi demokrasi elitis yang hanya melayani kepentingan segelintir orang.

Baca Juga :  Dirgahayu Bangsaku!

Secara teoritis, hakikat demokrasi menghendaki kedaulatan berada di tangan rakyat sebagaimana diamanatkan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945. UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada pun telah menjadi rujukan utama yang mengukuhkan sistem pemilihan langsung demi memastikan legitimasi pemimpin di mata konstituennya.

Jika mandat ini dipindahkan ke ranah legislatif, kita patut khawatir akan terjadi penguatan politik transaksional di ruang-ruang tertutup yang menjauhkan pemimpin dari aspirasi nyata masyarakat bawah.

Secara konstitusional, melimpahkan pemilihan kepada DPRD berarti melakukan pengkhianatan terhadap kontrak sosial antara negara dan rakyat, di mana pemimpin daerah nantinya tidak lagi berutang budi pada rakyat, melainkan pada partai politik.

Baca Juga :  Waspada Distorsi Radikal Melalui Lemahnya Iman Generasi Digital

Argumentasi yang menyudutkan Pilkada langsung sebagai penyebab konflik dan biaya tinggi adalah alasan yang mengada-ada. Jika prosesnya dianggap rentan, maka yang harus diperketat adalah mekanisme pencalonan dan pengawasan, bukan malah membunuh hak suara masyarakat.

Aspirasi mayoritas rakyat secara tegas menolak tunduk pada skenario ini, sebagaimana dilansir dari data Litbang Kompas yang menunjukkan bahwa 77,3 persen responden menghendaki Pilkada tetap langsung, sementara hanya 5,6 persen yang setuju melalui DPRD.

Data ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara keinginan rakyat dengan syahwat politik para elite yang berusaha menormalisasi kepentingan kelompok di atas kepentingan nasional.

Baca Juga :  Peran Perempuan untuk Masa Depan Peradaban

Jika Pilkada tidak langsung tetap dipaksakan menjadi keputusan mutlak, maka kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan terjun bebas dan partisipasi publik dalam pembentukan kebijakan akan mati total.

Gelombang demonstrasi di berbagai daerah saat ini adalah representasi kemarahan rakyat yang merasa kedaulatannya sedang dirampas secara paksa. Kami menolak segala bentuk intimidasi keterwakilan oleh DPRD yang mengabaikan suara arus bawah.

Demokrasi harus dijalankan sesuai kehendak rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di republik ini, tanpa dikurangi oleh kepentingan partai politik manapun yang hanya ingin mengamankan kursi instansi tanpa mendengar pendapat rakyat.

*) Aktivis Komunitas Krakatau

Berita Terkait

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau
Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan
Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara
Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya
Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?
Generasi Cemas di Bawah Bayang-bayang AI
Guru: Mulia dalam Kata, Menderita dalam Nyata
Kurban: Dari Ketundukan Spiritual Menuju Kesalehan Sosial

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:07 WIB

Antara Mie Instan dan Masa Depan: Seni Mengelola Uang Saku KIP Kuliah di Tanah Rantau

Minggu, 14 Juni 2026 - 15:17 WIB

Menanam Air, Memanen Ketahanan: Reorientasi Kesiapsiagaan Menghadapi Krisis Kekeringan

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:29 WIB

Pernikahan Dini: Tantangan Mewujudkan Keluarga Cemara

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:58 WIB

Ketika Suara dan Wajah Tak Lagi Bisa Dipercaya

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:31 WIB

Deep learning: Beban bagi Guru atau Jembatan Berinovasi Guru?

Berita Terbaru

Suara Perempuan

Nyaman dalam Ketakutan

Minggu, 21 Jun 2026 - 11:17 WIB