Tentang Waktu

Redaksi Nolesa

Jumat, 9 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(for NOLESA.COM)

(for NOLESA.COM)

Oleh Sujono

MIMBAR, NOLESA.COM – Tidak akan lewat tapak kaki seorang hamba pada Hari Kiamat, kecuali setelah ditanya empat perkara yakni; tentang umurnya yang ia habiskan di dunia, masa mudanya yang telah ia lewatkan, hartanya dari mana didapatkan dan bagaimana dikeluarkan, tentang ilmunya sejauhmana ia amalkan (Nabi Saw).

Waktu adalah kehidupan. Sufi besar Imam Hasan al-Bashri pernah menunjukkan;

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tidaklah sebuah hari itu berlalu kecuali setiap terbit matahari ada seruan; ‘Hai anak cucu Adam, aku adalah ciptaan yang baru, aku menjadi saksi atas perbuatanmu, maka berbekallah dariku. Karena sesungguhnya aku jika telah berlalu, tidak akan kembali sampai datang Hari Kiamat nanti.”

Waktu adalah kehidupan. Kehidupan manusia adalah waktu yang dilaluinya dari mulai ia lahir sampai ia meninggal dunia. Karena itu, menyia-nyiakan waktu, sama halnya dengan menyia-nyiakan kehidupan. Dalam sebuah syairnya, Imam Hasan al-Bashri menyerukan;

“Hai anak cucu Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan dari hari-harimu. Maka setiap kali hari itu berlalu, maka berlalu juga sebagianmu.”

Baca Juga :  Menyikapi Ancaman Terorisme

Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam Al-Qur’an banyak bersumpah dengan waktu atau masa. Misalnya; “Demi waktu fajar; Demi waktu Dhuha; Demi waktu malam; dan masih banyak lagi.” Sebuah sumpah yang dinisbatkan dengan sesuatu, menunjukkan bahwa sesuatu itu sangat penting. Betapa pentingnya masalah waktu!

Dengan cara itu, Allah secara implisit memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk memperhatikan dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli tafsir, bahwa tujuan Allah Ta’ala bersumpah dengan makhluk-Nya, adalah agar mendapatkan perhatian tentang masalah waktu atau masa.

Kata Nabi Saw; “Seorang yang memiliki akal sehat akan membagi waktunya menjadi empat bagian, yaitu; ‘Waktu ketika ia bermunajat kepada Rabb-nya, waktu ia berintrospeksi, waktu mentafakkuri ciptaan Allah Ta’ala, dan waktu ia makan dan minum.”

Dalam tradisi masyarakat Barat, waktu adalah uang. Sementara bagi bangsa Arab, waktu adalah pedang. Semua itu menunjukkan secara pasti bahwa waktu sangat berharga. Siapa yang kehilangan waktu, maka sungguh ia tak pernah mampu mendapatkannya kembali.

Baca Juga :  Isra Mikraj Sebuah Perjalanan Spiritual yang Hanya Bisa Dipercaya oleh Orang yang Beriman

Kata Ibnu Mas’ud; “Aku tidak pernah menyesali sesuatu seperti aku menyesali hari yang mataharinya sudah terbenam, sedang umurku berkurang dan amalku tidak bertambah.”

Seperti dawuh kekasih-Nya, Muhammad Rasulullah Saw; “Ketika suatu kaum duduk dalam suatu majelis dan tidak ingat Allah, kelak mereka akan menyesal. Dan ketika seseorang berjalan pada suatu perjalanan tidak juga ingat kepada Allah, mereka pun kelak akan menyesal dan merugi. Ketika seseorang berbaring di kasurnya dan tidak berdzikir kepada Allah, ia pasti akan menyesal.” (Imam Ahmad)

Abu Nu’aim pernah menyebutkan, bahwa Dawud Ath-Thusi lebih suka minum “Fatit” (Sop Roti) daripada makan roti.

Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab;

“Perbedaan WAKTU untuk mengunyah roti dan minum sop roti itu cukup untuk membaca lima puluh ayat suci Al-Quran.”

Agama mengajarkan bahwa waktu adalah nikmat yang sering terlupakan, seperti sehat dan waktu luang.

Puisi Waktu;

Waktu seperti burung tanpa hinggapan; Melewati hari-hari rubuh tanpa ratapan; Sayap-sayap mukjizat terkebar dengan cekatan; Waktu seperti butir-butir air; Dengan nyanyian dan tangis angin silir; Berpejam mata dan pelesir tanpa akhir

Baca Juga :  Puan, AHY dan Oase Politik Rekonsiliasi

(WS RENDRA)

Puisi Titipan;

Ketika orang memuji milikku; Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan; Bahwa mobilku hanya titipan-Nya; Bahwa rumahku hanya titipan-Nya; Bahwa hartaku hanya titipan-Nya; Bahwa putraku hanya titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya, ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, ku sebut itu sebagai musibah; Ku sebut itu sebagai ujian; Ku sebut itu sebagai petaka; Ku sebut sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdo’a, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku…

(WS RENDRA)

*) penulis lepas tinggal di Bumi Sumekar Kota Sumenep

Berita Terkait

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa
DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026
Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya
Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci
Mabrur Tanpa Berhaji
Pertemuan Nabi Khidir dengan Ali bin Abi Thalib Ra
Budaya Ngopi dalam Lanskap Kehidupan Modern
Kebijakan Menteri ESDM Soal RKAB 2026, Picu Ketidakpastian Usaha

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 07:03 WIB

Allah Tidak Menciptakan Sesuatu yang Lebih Kuat Melebihi Doa

Jumat, 10 April 2026 - 18:53 WIB

DPRD Sumenep Gelar Rapat Paripurna Penetapan Propemperda 2026

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:13 WIB

Saat Berpuasa, Manusia Mendapatkan Kembali Kekuasaan atas Dirinya

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:21 WIB

Gema Ramadan, Turunnya Sebuah Peradaban Suci

Jumat, 30 Januari 2026 - 09:38 WIB

Mabrur Tanpa Berhaji

Berita Terbaru