Ilusi yang Mengikat
Mentari pagi tersenyum manis memandang bunga-bunga yang mulai merekah
Jembatan awan mengisi waktu untuk melupakan cara berpikir yang kritis
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rintik hujan membantu menurunkan daya ingat
Lalu menggantikannya dengan ingatan yang baru
Bunyi rana terdengar nyaring saat didengar
Hingga menimbulkan kebisingan impulsif
Semua orang terlihat palsu
Sedikit jelas ruang kemunafikan
Katanya, masih belum optimal
Jaminan membuat ketidaktepatan dalam aturan yang melanggar hukum alam
Diberhentikan sementara, menunggu seperti orang-orang yang bosan akan kerugian
Tak mau merugi tapi selalu kunjung datang
Seolah memberi anggukan kepala tetapi menolak ajakan
Ketapang, 23 Agustus 2025
Tragedi Tunggang Gunung
Satu malam yang mengerikan membuat mataku menjadi buta
Sekte pemuja rahasia sedang melangsungkan tarian eksentrik
Disertai hasrat kecakapan, mendarah daging dalam jiwa yang sakit
Dihantui rasa penasaran, tubuh membiru saat mencoba menutup riwayat
Semua tanda jejak dihilangkan dengan siraman air panas
Kelopak bunga sakura berarakan di atas peti jenazah
Menghentikan pendaratan setelah melompati kardus yang ditata sesuai kalkulasi
Meluncurkan bunyi tawa sebelum mengalami tidur yang menjemukan
Baskara memapah kebangkitan sampai ke dasar ilusi
Ketapang, 12 Agustus 2025
Batas yang Hilang
Hubungan kita sangat aneh
Saling menghancurkan
Saling merendahkan
Sesekali saling merangkul bahu
Siang ini awan mendung menyelimuti wajah yang muram
Mengumpulkan butiran garam yang larut dalam air mata
Melepas sayatan yang terbalut dalam kain kasa
Engkau datang tanpa membawa perubahan
Selalu abai dalam batasan etika
Isi pikiran hanya bermain, makan, dan tidur
Bernyanyi, menari tanpa memikirkan makanan apa yang akan dimakan di esok hari
Ketapang, 27 Agustus 2025
Titik Kritis
Berdiri sendirian di tengah jalan yang berputar searah dengan jarum jam
Suara-suara dari mulut, tepuk tangan mengirimkan pesan siaran yang berisi ultimatum
Menutup kegelisahan dengan kesadaran penuh
Sederet fakta mengejutkan di balik tembok keberangkatan
Secara tidak sengaja menginjak duri tanaman
Seketika darah juang menghentikan jari kaki yang menyilang
Ketapang, 28 Agustus 2025
*) Amanda Amalia Putri, lahir di Banyuwangi. Mengisi waktu luangnya dengan menulis puisi. Puisi-puisinya termuat di Banera.id, Bantenhejo.com, biliksastra, darus.id, KBA News, Madurapers, Mbludus.com, MediaKTM, NOLESA.COM, Riausastra.com, Salik.id, pronesiata.id, Sanggam.id, SumenepNews.com, dan sepenuhnya.com. Beberapa puisinya termuat dalam buku antologi bersama antara lain: Pengembara Rindu(2020), Senandung Bait Cinta Pertama(2023), Gugur Cinta ke Pelukan Rindu(2023), Rahasia Hati Yang Tak Pernah Terucap(2023), Simpul Rasa(2023), dan Aku di Garis Penantian(2024), Jejak Masa lalu(2025), dan Luka yang tak Bersuara(2025).









