Talk Show Literasi: Membaca Budaya dan Menulis Peradaban

Redaksi Nolesa

Senin, 15 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

for NOLESA.COM

for NOLESA.COM

Oleh Abd. Kadir

OPINI, NOLESA.COM – Dalam sebuah kesempatan, saya mengikuti Talk Show Literasi di Kampus Uniba Sumenep. Tema yang diusung, “Membaca Budaya dan Menulis Peradaban”. Dari pamflet yang dikirimkan teman saya, kuota peserta hanya 150 peserta. Bersegeralah saya mendaftar di link pendaftaran yang ada di pamflet.

Namun, upaya yang saya lakukan belum sukses. Pendaftaran masih belum bisa submit. Akhirnya, teman saya yang mendaftarkan, dan alhamdulillah berhasil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Acara ini sebenarnya merupakan rangkaian dari event Festival Literasi Sumenep 2025 dengan tema besar “Merawat Tradisi, Menggali Inspirasi Lewat Literasi”. Acaranya meliputi bedah buku, talk show, lomba mewarnai, dan bazar buku, yang seluruh rangkaian acaranya diselenggarakan di Uniba Madura dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumenep.

Hadir sebagai narasumber, sahabat saya, Kak Avan Fathurrahman dan Kiai Turmedzi Djaka. Mereka adalah dua tokoh literasi yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan. Kak Avan, seorang penulis cerita anak yang juga aktif mendongeng. Sementara Kiai Turmedzi adalah Ketua Dewan Kesenian Sumenep.

Baca Juga :  Ketika Sarjana Pendidikan Pindah Haluan

Dalam memahami tema yang ada, sebagaimana yang dipaparkan Kiai Turmedzi bahwa “membaca budaya” berarti memahami nilai-nilai, kebiasaan, tradisi, dan cara hidup masyarakat Sumenep secara mendalam. Ini bukan hanya soal melihat permukaan (seperti tarian, kuliner, atau adat istiadat), melainkan juga menafsirkan makna di baliknya: cara orang berpikir, berinteraksi, dan memaknai kehidupan.

Dalam perspektif ini, membaca budaya adalah usaha untuk memahami jati diri Sumenep yang terbentuk dari sejarah panjang kerajaan, islamisasi, pesantren, dan sinktretisme budaya lokal dengan luar (Jawa, Madura, Arab, bahkan Eropa). Maka, membaca budaya ini menurut Kiai Turmedzi, juga membaca budaya yang ada di luar sehingga bisa memahami konteks perpaduannya dengan budaya lokal Sumenep.

Sementara itu, “menulis peradaban” mengantarkan kita pada satu pemaknaan tindakan aktif dalam melestarikan, mengembangkan, dan mendokumentasikan hasil budaya agar tidak hilang oleh waktu. Untuk itu, dengan menulis, masyarakat Sumenep tidak sekadar mewarisi, tetapi juga “menciptakan jejak sejarah baru”: memperkuat eksistensi Sumenep sebagai pusat intelektual, religius, dan budaya.

Baca Juga :  Melampaui Identitas

Sumenep memiliki warisan intelektual dan spiritual yang luar biasa. Keraton dan naskah kuno adalah saksi masa keemasan kerajaan. Pesantren dan ulama besar, penanda kekayaan khazanah keilmuan Islam. Sastra lisan dan tulisan Madura, telah merekam pandangan hidup masyarakat. Oleh karena itu, membaca budaya dan menulis peradaban adalah dua sisi dari satu upaya besar yakni menjaga Sumenep tetap hidup dalam arus zaman. Maka, secara filosofis, dengan membaca budaya, kita belajar dari masa lalu; dengan menulis peradaban, kita menyiapkan masa depan; dan di antara keduanya, Sumenep menjadi rumah bagi nilai, ilmu, dan kearifan yang tak lekang oleh waktu.

Di sisi lain, Kak Avan banyak memaparkan fenomena jejak budaya dan kearifan lokal dengan beragam permainan unik yang saat ini sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat. Hal inilah yang dikhawatirkan akan hilang dengan sendirinya ketika kita abai.

Baca Juga :  Defisit Etika dalam Bermedia

Tak dapat dipungkiri bahwa adanya gempuran informasi digital dan budaya pop sering membuat kita lupa pada kekayaan sendiri. Kita terlalu sibuk mencari yang “kekinian” sampai melupakan akar. Di saat lengah itulah, cerita-cerita leluhur akan menghilang.

Untuk itu, di sinilah kita diajak untuk menelusuri kembali warisan leluhur—bahasa, kesenian, tradisi, nilai, hingga cara berpikir— yang mungkin tercecer oleh arus modernitas. Kita bisa menjadi penjaga sekaligus menuliskannya untuk generasi mendatang. Setiap kali “memungut” dan “mengabadikan” sebuah jejak budaya, artinya kita sedang menanam benih peradaban. Kita bukan hanya saksi mata, tapi juga bagian dari sejarah yang sedang ditulis. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengabadikannya di dunia digital. Maka, memungut kembali jejak budaya, dan mengabadikan peradaban kita, adalah sebuah keniscayaan. (*)

*) Pembina Komunitas Kata Bintang

Berita Terkait

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan
Bohong Akut
Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah
Eksaminasi Parate Eksekusi atas Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Analisis Perlindungan Hukum terhadap Debitur
Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd
MBG dan Potensi Gesekan Ekonomi di Pondok Pesantren
Menyelamatkan Bahasa Madura dari Ejaan yang Kocar-kacir
Inkonsistensi dan Potensi Conflict of Interest dalam Pasal 100 UU No. 1/2023 Tentang KUHP

Berita Terkait

Senin, 13 April 2026 - 09:31 WIB

Penguatan Manajemen Logistik Kebencanaan dengan Ekosistem Digital: Transformasi Respons Kemanusiaan

Senin, 6 April 2026 - 15:50 WIB

Bohong Akut

Jumat, 6 Maret 2026 - 21:15 WIB

Fenomena Air: Lebih Masalah, Kurang Juga Masalah

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:28 WIB

Eksaminasi Parate Eksekusi atas Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Analisis Perlindungan Hukum terhadap Debitur

Selasa, 17 Februari 2026 - 15:09 WIB

Tambang di Sumenep: Antara Urusan Perut dan Lingkungan yang Absurd

Berita Terbaru

Ketua Fraksi PDIP DPRD Sumenep, H. Hosnan Abrory naik sepeda ontel ke kantor DPRD Sumenep (Foto: Istimewa)

Daerah

Aksi Nyata Fraksi PDIP DPRD Sumenep Dorong Penghematan BBM

Jumat, 17 Apr 2026 - 16:25 WIB

Ketua DPD PDIP Jatim, Said Abdullah (Foto: Istimewa)

Politik

Said Abdullah Tegaskan Kedekatan PDIP Jatim dengan NU

Minggu, 12 Apr 2026 - 18:45 WIB